
Aku duduk termenung di teras, menunggunya yang sebelumnya masuk ke dalam gubuk. Aku melirik ke kiri, ke arah Eneas yang masih bersembunyi di balik pohon. Aku mengangkat telapak tanganku ke arahnya, sebagai isyarat untuknya agar tetap bersembunyi. Kuangkat kepalaku menatap langit, saat tanganku itu kembali kuturunkan.
Dia, sama sekali tidak ingat akan apa yang terjadi di kehidupan sekarang … Jika dia tahu, akulah penyebab kematiannya, apa yang akan ia pikirkan? Aku berharap, dia mengutukku lalu membenci dan tak usah memberikan maaf untukku.
Aku menoleh ke belakang ketika deritan suara pintu terdengar, “maafkan aku, Sachi. Aku, tidak bisa menghidangkan makanan mewah untukmu,” tukasnya yang muncul dari balik pintu dengan sebuah nampan di tangannya.
Dia berjalan lalu duduk di sampingku sambil meraih mangkuk dan gelas tanah liat yang ada di atas nampan, lalu meletakkan dua benda tadi di dekatku sembari dia berbalik dengan meletakkan nampan yang sebelumnya ia pegang. “Kau, tidak perlu repot-repot seperti ini, kak,” ungkapku yang dibalas senyum darinya.
“Sudah lama sekali rasanya, aku tak menghidangkan makanan untuk kalian. Kalian jarang pulang ke Istana … Baik Ibu, aku, Sasithorn atau Aniela, semangat memasak makanan yang kalian sukai, saat kami mendapat kabar jikalau kalian akan pulang. Begitu pun Miyu dan Hikaru, mereka akan langsung bersemangat, untuk menceritakan apa yang baru saja mereka pelajari kepada Ayah mereka,” ungkapnya, dia terlihat menggigit bibirnya sebelum menundukkan kembali kepalanya.
“Kalau kakak memang merindukan mereka, maka kembalilah kepada kakakku.”
Dia menoleh lalu tersenyum menatapku, “di dalam kepalaku, bercampur semua ingatan Amanda. Apa yang aku katakan di perahu saat kalian mengunjungi Ardenis … Itu semua, adalah apa yang Amanda alami sebelum aku menggantikan jiwanya. Aku, yang membunuh Ayahnya,” ungkapnya dengan menatap kosong ke depan.
“Sejak kecil, Amanda seringkali dijadikan budak yang melayani kepuasan Ayahnya sendiri. Aku tahu, jika ini bukanlah kesalahan Amanda karena dia sendiri hanyalah seorang anak perempuan yang dikurung dari dunia luar … Namun, karena perbuatan Ayahnya juga, tubuh ini jadi terlalu hina untuk mendampingi seorang laki-laki seperti kakakmu.”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya, kah? Aku tanpa pikir panjang mengatakannya, berharap jika dia dapat mengenaliku walau aku terlahir di tubuh yang berbeda. Bodohnya aku, mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi. Aku bahagia saat bertemu dengan kalian, saking bahagianya aku jadi sedikit tidak bisa berpikir jernih.”
“Aku memutuskan untuk menyerah, menerima takdir yang aku dapatkan. Setidaknya, anak kami tidak perlu merasa ketakutan hidup di dunia ini. Dan ini juga, yang terbaik untuk kami berdua.”
“Tapi kak-”
Biarkan waktu yang menjawab semuanya!
Perkataan Zeki yang ia ucapkan saat kami berada di kapal, membuatku kata-kataku terhenti. Aku menggigit kuat bibir dengan menundukkan kepala. “Ada apa, Sachi?” suaranya yang menyentuh telingaku sedikit membuatku tersentak.
__ADS_1
Aku menoleh ke arahnya diikuti kepalaku yang menggeleng pelan, “tidak ada apa-apa kak,” ungkapku yang memaksa untuk tersenyum di depannya.
“Sup-nya akan dingin, jika dingin rasanya sudah tidak enak lagi. Makanlah, aku akan masuk sebentar, memeriksa bibi,” ungkapnya sambil beranjak dengan berjalan pergi membawa kembali nampan di tangannya.
____________.
Aku berjalan dengan sesekali mencuri pandang ke arahnya, aku masih tak percaya … Jika rambutnya yang dulu panjang, sekarang telah pendek, bahkan tak sampai untuk menutupi tengkuknya. “Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya yang membuatku kembali teralihkan.
“Siapa, perempuan yang kau urus itu, kak?”
“Dia, dia pengasuhku saat aku kecil. Kakakmu, tidak menghadiri pertunangan kami karena tubuhnya kurang sehat … Apa kau melihat saudara kembarku?”
Luana kembali tersenyum saat aku menganggukkan kepala, “dia menceritakan apa yang aku alami, hingga kabar tersebut tersebar di seluruh Istana. Ayahku, menganggap hal tersebut seperti aib … Mereka berpikir, jika aku adalah seorang Putri yang tidak diinginkan oleh tunangannya sendiri. Hanya bibi yang bersedia merawatku walau beberapa pelayan yang lain mulai menjauhi.”
“Baiklah Sachi, penginapan kalian ada di depan sana. Terima kasih, aku merasa sedikit lebih baik setelah berbicara denganmu. Jaga diri kalian baik-baik,” sambungnya, dia tersenyum sebelum berbalik lalu melangkah pergi.
Aku masih menatap punggungnya yang kian menghilang ke arah kerumunan. “Nee-chan,” aku melirik ke samping, ke arah Eneas yang memanggilku pelan dengan menyentuh lenganku.
“Kita kembali, Eneas!” tukasku yang berbalik melangkahkan kaki meninggalkannya.
“Apa terjadi sesuatu, nee-chan?”
Aku melirik ke arah bayangannya yang berjalan di sampingku, “tidak terjadi apa-apa. Apa kau melihat Lux?”
Eneas mengangkat jari telunjuknya ke arah wajahnya yang ditutupi penutup jubah, “dia bersembunyi di pundakku,” tukasnya sebelum membuang pandangannya itu ke depan.
__ADS_1
Kami berjalan beriringan memasuki penginapan, langkahku berhenti dengan menundukkan kepala … Berusaha mencari kunci yang ada di dalam tas. Aku menghentikan pencarian ketika suara Izumi ataupun suara Haruki terdengar dari dalam, “kami pulang,” tukasku sambil berjalan masuk dengan membuka pintu.
Aku melirik ke arah seorang laki-laki yang menundukkan kepalanya di dekat kursi yang tak terlalu jauh dari kursi yang diduduki oleh Izumi, “dari mana saja kalian?”
Aku menghela napas seraya bergerak mendekati ranjang, “aku dan Eneas tersesat di kerumunan,” ucapku dengan membuka jubah yang aku pakai sebelum duduk di pinggir ranjang menatap mereka.
“Siapa dia? Apa dia laki-laki yang nii-chan maksudkan sebelumnya?”
Haruki menganggukkan kepalanya, “dia sedikit pemalu, jadi sulit untuk diajak berbicara. Namanya Fabian, dia anak bungsu dari Duke Kerajaan Robson, kami sudah berkenalan saat aku mengantar Izumi bertunangan dulu.”
“Apa hubungannya dengan Izumi nii-san?” ungkap Eneas menimpali perkataan Haruki.
“Karena usia mereka sama, jadi aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengannya,” sambung Haruki menjawab perkataan Eneas.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan kedepannya?”
“Dia sudah membantu untuk menyiapkan semua perlengkapan kita pergi ke tempat yang aku maksudkan. Dengan syarat-”
“Dengan syarat?” Aku kembali bertanya kepada Haruki.
“Dia ingin ikut kita pergi ke sana.”
Aku masih terdiam, belum menanggapi perkataan yang Haruki ucapkan. Kedua mataku melirik ke arah Izumi yang rupanya juga telah melirik ke arahku. “Apa kau yakin ingin ikut? Fabian, bukan?” tanyaku, dia masih menundukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara apa pun.
“Aku mendengar kehebatan kalian yang seringkali dengan mudahnya menaklukan Kerajaan lain. Jadi, izinkan aku ikut. Aku, benar-benar ingin menjadi lebih sedikit berani, seperti kak Haruki yang telah menjadi pahlawan untukku sejak kecil,” ucapnya yang sangat pelan terdengar dari bibirnya.
__ADS_1