
Suara derap langkah kaki kuda mengiringi perjalananku kali ini. Tiga tahun telah berlalu, tingkat kemiskinan yang ada di Kerajaan kami perlahan memudar. Aku dan keluargaku berusaha keras merangkul sebagian rakyat kami yang tengah diambang kehancuran bahkan, banyak desa-desa kecil dari Kerajaan tetangga memohon untuk masuk menjadi bagian dari Kerajaan kami.
Kou? Kami berlima berusaha keras menyembunyikannya di hutan yang terdapat dibelakang Istana dan entahlah, mungkin karena insting murni dari mereka berdua, dia semakin dekat dengan kakakku, Izumi.
Sekarang pun aku mempercayakan Kou padanya, tentu saja masih di bawah pengawasan Haruki. Aku? Aku sendiri tengah melakukan perjalanan menuju Kerajaan Yadgar, Kerajaan dimana tunanganku bernaung.
Beberapa minggu yang lalu, aku mendapatkan sebuah surat undangan dari Raja Kerajaan Yadgar. Sang Raja ingin merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh tahun dan tentu, sebagai tunangan dari Putranya, aku harus menghadirinya.
Tiga tahun telah berlalu sejak pertemuan pertama kami di Kuil, usiaku sendiri sekarang memasuki tujuh tahun, tubuhku sendiri pun sudah mulai banyak mengalami perubahan.
Aahh, aku benar-benar penasaran, bagaimana penampilan Zeki sekarang.
"Putri," terdengar suara Tsubaru diiringi suara ketukan di kaca jendela kereta.
"Ada apa Tsubaru?"
"Kita akan segera sampai di perbatasan Kerajaan Yadgar. Untuk jaga-jaga, jangan buka pintu kereta apapun yang terjadi." Ucapnya lagi
"Aku mengerti." Tukasku singkat
Raja atau yang sebenarnya adalah Ayahku sendiri, melarangku untuk melakukan perjalanan ini. Terlalu berbahaya, ditambah aku tidak bisa mengantarmu langsung kesana benar-benar membuatku khawatir, begitulah yang ia katakan sebelumnya.
Haruki dan Izumi sendiri memaksa untuk ikut akan tetapi, aku lebih mengkhawatirkan keselamatan Lux dan Kou daripada keselamatanku sendiri. Karena itulah, aku menitipkan Lux dan Kou pada mereka berdua.
Tapi bukan keluargaku namanya, kalau mereka hanya melepaskanku begitu saja. Selain Tsubaru yang memang sudah pasti akan ikut mengantar dan menjagaku, Ayahku juga mengirim Kazuya, Shouta dan beberapa puluh Kesatria terbaik lainnya untuk ikut menjagaku dalam perjalanan.
__ADS_1
Terdengar suara hiruk pikuk dari luar kereta, kualihkan pandangan mataku menatap keadaan di sekitar dari balik kaca jendela. Tampak beberapa orang laki-laki menarik paksa beberapa orang perempuan yang dirantai lehernya...
Tubuh para perempuan itu terlihat seperti tulang yang hanya diselimuti kulit, beberapa luka bekas cambukan tampak merekah di kulit-kulit mereka yang mengusam. Potongan rambut mereka terlihat tidak rapi dengan beberapa kotoran yang ikut mengeras mengikuti kusutnya rambut di kepala mereka...
Dadaku terasa sesak melihatnya, air mataku mengalir tanpa ku izinkan. Kutatap kembali mereka yang setengah berbusana, beberapa orang laki-laki tampak meludahi tubuh dan wajah mereka sepanjang jalan.
"Tsubaru, hentikan keretanya!"
"Aku tidak bisa melakukannya, Putri. Terlalu berbahaya."
"Hentikan! Aku sudah mengatakannya bukan, haruskah aku mengulanginya!" teriakku dengan suara bergetar
"Aku mengerti."
Kulepaskan genggaman tanganku pada Tsubaru, berjalan aku mendekati kerumunan itu diiringi beberapa puluh Kesatria yang mengelilingi. Kegiatan menjijikan tadi berhenti, berubah menjadi tatapan-tatapan mata mereka yang memandang sinis ke arahku...
"Apa yang kalian lakukan pada mereka?" ucapku balas menatap mereka
"Mereka budak-budak kami, kami bebas melakukan apapun pada mereka." Tukas salah satu dari mereka seraya melotot menatapku
"Berapa? Berapa yang harus aku bayar untuk melepaskan mereka?"
"Heh, perempuan bangsawan memang terlihat berbeda... Seratus Tickla untuk masing-masing dari mereka." Ucap laki-laki tadi
"Seratus Tickla, sepuluh perempuan berarti seribu Tickla. Apa kalian membawa uang sebanyak itu?" ucapku berbalik seraya menatap para Kesatria satu persatu
__ADS_1
"Bisakah aku meminjamnya?" sambungku seraya menadahkan kedua telapak tanganku ke arah mereka
Tampak mereka merogoh saku celana mereka masing-masing, berjalan mereka satu persatu seraya menyerahkan uang-uang mereka di telapak tanganku. Berbalik aku menatap ke arah laki-laki tadi seraya berjalan mendekatinya...
"Masing-masing seribu Tickla dari para Kesatria ku, total uang semuanya berjumlah tiga puluh ribu Tickla. Sekarang lepaskan mereka!" ucapku seraya menatap tajam ke arah mereka
"Heh kalau kau dijadikan budak pasti harganya sangat mahal." Ucap laki-laki tadi seraya mengarahkan telapak tangannya meraihku
Sebuah tendangan tiba-tiba muncul dari arah belakangku, laki-laki tadi jatuh terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri sebelumnya. Ku balikkan pandangan mataku untuk melihat siapa yang melakukannya, tampak Kazuya berdiri di belakangku dengan mata yang dipenuhi amarah...
Tsubaru berjalan melewati ku, melangkah ia mendekati laki-laki tadi yang masih sulit untuk beranjak. Diraihnya pedang yang ada di pinggangnya oleh Tsubaru, di arahkannya pedang tersebut menebas lengan kanan laki-laki tadi hingga terputus...
"Beraninya kau ingin menyentuh Putri Kerajaan kami yang berharga." Ucap Tsubaru seraya menginjak tubuh laki-laki yang lengannya terputus tadi.
Darah mengucur deras keluar dari lengannya yang terpotong, laki-laki tadi memekik kesakitan seraya memegang lengan kanannya dengan sebelah tangannya. Semua laki-laki yang awalnya menyeringai menatapku, sekarang tampak membisu dengan wajah pucat pasi di masing-masing wajah mereka...
"Lepaskan mereka!" ucapku pada seseorang yang memegang beberapa kunci di tangannya
Dengan tubuh gemetar, laki-laki tadi membuka borgol yang mengikat leher wanita-wanita tadi. Berjalan aku mendekati mereka yang tertunduk menangis, kuberikan semua uang yang ada di tanganku pada mereka...
"Terima kasih... terima kasih." Ucap salah satu dari mereka dengan mata memerah dipenuhi tangisan
"Terima kasih, telah membebaskan kami dari neraka ini." ucap salah satu dari mereka lagi dengan suara bergetar
"Bawalah uang-uang tersebut dan tinggalkan segera Kerajaan ini. Datanglah ke Kerajaan Sora yang ada di sebelah barat, dan katakan pada Kesatria yang menjaga di perbatasan, Putri Sachi lah yang meminta kalian untuk datang kesana." Ucapku seraya meraih salah satu tangan dari mereka dan menggenggamnya dengan sangat kuat.
__ADS_1