
“Bibi hanya pernah mendengarnya saat Kakekmu menceritakan hal itu kepada kami. Bagaimana, jika sepulang berburu kita mengajak kakekmu untuk makan malam, membicarakan semuanya?” tukasnya dengan kembali berjalan mendekat lalu merangkul lagi pundakku.
“Akan tetapi, sebelum itu … Kita cari hewan-hewan kecil untuk kita makan,” sambungnya sambil melanjutkan langkahnya lagi.
Aku berjalan di sampingnya, “Bibi, maafkan aku jika aku terdengar banyak bertanya. Akan tetapi, apakah Ibuku juga dapat mengendalikan tumbuhan seperti kalian?”
“Ibumu, satu-satunya Elf yang tidak bisa melakukannya. Dia melarikan diri ke dunia manusia, karena mungkin dia merasa berbeda dibanding yang lain. Sejak kecil, Ibumu selalu merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Padahal, sihir yang ia miliki sangat mengagumkan … Sihir langka kaum Elf yang bisa mengambil kutukan atau bahkan luka seseorang yang berharga untuknya.”
“Sihir itu, tidak akan berguna jika orang yang ingin kita hilangkan kutukannya, tidak menyayangi kita dengan sepenuh hati mereka,” timpalku pelan sambil melemparkan pandangan ke depan.
“Kau ternyata telah mengetahui banyak hal.”
“Bibi, aku mengetahui nama rusa milik Ibuku. Apa itu, akan baik-baik saja?”
“Jika rusanya sendiri yang memberitahukannya padamu. Tidak akan ada masalah, lagi pun … Dia ibumu, bukan?” tukasnya tersenyum saat aku menoleh ke arahnya.
Langkah kaki kami terhenti, aku turut mengangkat wajahku ke atas menuruti bibi Yasinta yang juga telah mengangkat kepalanya. Mataku terpana, menatap kelopak-kelopak bunga yang berterbangan di atas kepala kami. “Kita harus segera kembali,” ucap Bibi Yasinta saat dia telah kembali menurunkan wajahnya menatapku.
“Kakekmu, meminta kita untuk menemuinya. Kemungkinan, dia mendengar apa yang kita bicarakan.”
__ADS_1
“Bagaimana aku menjelaskannya,” ungkapnya sambil menggaruk lehernya saat keningku mengerut menatapnya, “jika nanti kau berada di dunia manusia, menjauhlah dari pohon apa pun … Atau Kakekmu itu, akan bisa mengetahui semua yang kau lakukan,” Dia berbisik di telingaku sambil mengangkat telapak tangannya mendekat.
“Cepatlah, cepatlah kita datang menemuinya, atau … Entah apa yang akan kita dapatkan,” ungkapnya kembali dengan menepuk-nepuk pundakku.
________________.
Aku berjalan mengikuti Bibi Yasinta di belakangnya, dia terus berjalan membawaku ke sebuah rumah yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah yang ia miliki. Tanpa mengetuk, tanpa permisi … Dia langsung saja membuka pintu lalu berjalan masuk ke dalam, “masuklah, Sachi,” ungkapnya yang terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh.
Tubuhku tertegun, langkahku terhenti saat kedua mataku terjatuh pada seorang laki-laki yang duduk di salah satu kursi anyaman, “kemarilah, Sachi!” Aku sedikit terhentak saat suara bibi Yasinta tiba-tiba terdengar.
Kutarik napasku sedalam mungkin dengan kulangkahkan kakiku mendekatinya yang telah duduk di salah satu kursi anyaman tadi, aku masih tertunduk dengan menggerakkan tubuhku duduk di kursi yang ada di samping Bibiku itu. “Apa Ayah, memerlukan sesuatu? Kami berdua ingin pergi berburu,” tukas Bibi Yasinta sambil meletakkan busur panah yang ada di tangannya itu ke samping kursi.
“Kenapa kau bisa mengetahui tentang Robur Spei?”
Aku terperanjat ketika dia memukul kuat meja yang ada di hadapan kami, “inilah kenapa! Aku sangat membenci manusia!” Aku sedikit mengangkat kedua kakiku ke atas kursi saat semak-semak berduri tiba-tiba telah tumbuh memenuhi lantai rumah.
“Aku berserta saudara-saudaraku, berkeliling dunia karena ingin mencari sekutu untuk menghancurkan Kekaisaran. Pangeran peri yang aku maksudkan, juga ikut bersama kami. Tidak semua manusia itu jahat, Kakek … Keluargaku salah satunya.”
“Aku membenci manusia. Mereka sombong, mereka arogan … Mereka diberi akal dan juga hati, tapi tidak menggunakannya dengan baik,” ucapnya yang langsung memotong perkataanku.
__ADS_1
“Kakek benar, bahkan aku pun … Membenci sifat mereka yang seperti itu. Tapi Kakek,” ungkapku menatap kembali wajahnya, “dunia tidak akan damai, jika kita hanya selalu melihat sesuatu dari sisi buruknya. Kakek, bantu aku-”
“Pinjamkan aku seluruh kekuatan kalian, agar aku bisa merebut kembali Robur Spei dari tangan Kaisar. Aku tahu, jika Kakek membenci manusia … Akan tetapi, bagaimana pun juga, aku cucumu. Lihatlah, bahkan mataku pun sama persis seperti yang Kakek miliki,” sambungku lagi dengan menatapnya.
“Lagi pun, seharusnya di sini yang lebih terkejut adalah aku. Kakekku merupakan laki-laki tampan yang masih sangat muda, entah apa? Yang akan dilakukan Zeki jika dia melihatku berjalan berdampingan dengan Kakekku sendiri,” gerutuku sambil mendongakkan kepala ke atas.
“Zeki?”
“Apa Kakek penasaran tentangnya? Sebenarnya, asal Kakek tahu,” ungkapku kembali beranjak berdiri lalu berjalan mendekatinya saat semak-semak berduri yang memenuhi lantai telah menghilang, “aku sebenarnya takut tinggal di dunia manusia, kakek,” aku berlutut di dekatnya sambil meraih dan menggenggam kedua tangannya.
Lama kutatap dia yang nampak terkejut akan apa yang aku lakukan itu, “di dunia manusia tersebar rumor, mereka mengatakan jika ingin keabadian … Ambil keperawanan lalu minum darah mereka yang bermata hijau. Apa kabar itu benar adanya, Kakek?” tanyaku dengan kembali menatapinya.
Aku menoleh lagi ke belakang saat suara Bibi Yasinta kembali terdengar menusuk telingaku, “siapa yang menyebarkan kabar itu? Bagaimana mereka bisa berpikiran menyebarkan kabar lucu ini,” ucapnya yang kembali tertawa keras menatapku.
“Jika kau takut tinggal di dunia manusia, maka tinggal saja, di sini.”
Aku melirik lalu tersenyum saat kata-kata itu keluar darinya, “aku, ingin membuat dunia manusia menjadi dunia yang aman untuk semua makhluk tinggali atau mungkin hanya untuk mereka singgah sejenak. Karena itu, aku mati-matian untuk melawan Kaisar.”
“Aku bahkan, meminta bantuan dengan mengorbankan sedikit umurku … Hingga saat ini, aku berhubungan dengan Naga, Peri, Manticore, Phoenix, Duyung, Hippocampus, dan mungkin akan lebih banyak lagi seiring aku berkeliling dunia. Saudaraku pun, hampir mati selama perjalanan yang kami lakukan. Aku lelah, Kakek,” ucapku sambil menyenderkan keningku di pahanya.
__ADS_1
“Tapi aku, tidak bisa berhenti sekarang. Mereka lah yang telah menyakiti Ibuku, mereka yang menjadi biang masalah keluargaku … Jika aku, telah menghancurkan mereka, maka aku baru bisa beristirahat. Aku, ingin memiliki tempat pulang untuk bisa berkeluh kesah, tapi keluargaku yang sekarang … Aku belum bisa melakukannya, karena mereka sendiri pun masih berkutat dengan luka mereka masing-masing karena kehilangan seseorang yang mereka sayangi.”
“Jadi Kakek, jika nanti aku pulang ke dunia manusia … Lalu aku, membutuhkan seseorang yang dapat mendengar atau bahkan memberikan saran dari semua keluh kesah yang aku alami. Bisakah, cucumu ini mengunjungimu kembali, Kek?” ungkapku lagi dengan kembali mengangkat wajahku menatapnya.