
Aku berjalan mendekati pintu dengan sebelah tanganku menarik ke bawah rok dari kulit hewan yang membalut tubuhku itu, semakin sering sebelah tanganku menarik rok itu ke bawah saat rok itu meninggi ke atas dengan sendirinya saat kedua kakiku melangkah.
Aku sedikit terhentak ke samping saat kedua mataku melirik ke arah perempuan yang memakai topeng burung itu, telah berdiri di samping pintu. Tanpa bersuara, perempuan itu melangkahkan kakinya di hadapanku. Lekukan tubuhnya ketika melangkahkan kaki semakin jelas terlihat di balik pakaian kulit yang ia kenakan.
Semakin kami berjalan, suara alunan musik yang jauh terdengar sebelumnya … Semakin jelas dan semakin dekat terdengar. Perempuan yang berjalan di depanku itu menghentikan langkah kakinya, dia kembali melangkah menyusuri semak-semak yang ada di sekitar saat sebelumnya dia berbalik kepadaku terlebih dahulu.
Aku kembali melangkahkan kaki mengikutinya, sebelah tanganku memegang erat ujung rok agar dia tak naik ke atas saat aku melangkah berjalan, sedangkan sebelah tanganku mengenggam erat tangan Cia yang berjalan di sampingku. Pandangan mataku beralih pada Haruki, Izumi dan juga Eneas yang telah duduk berseberangan dari tempatku berdiri, pakaian yang mereka kenakan hanya menutupi pinggang hingga paha mereka, sedangkan bagian tubuh mereka yang lain tak tertutupi, sama persis seperti beberapa laki-laki bertopeng yang duduk di sekitar mereka.
Mereka bertiga melirik ke arahku dengan kedua mata mereka yang terlihat membesar, “ikutlah denganku,” suara perempuan terdengar dari arah samping tubuhku, aku berbalik menatap perempuan yang memakai topeng serigala tersebut.
“Ikutlah denganku,” ucapnya sekali lagi dengan langkah kakinya berbalik melangkah menjauhiku, aku kembali menarik tangan Cia dengan pelan mengikuti langkah kaki perempuan tadi.
Aku kembali menarik rok dari gaun ketat yang aku kenakan saat aku bergerak duduk di tengah-tengah kerumunan para perempuan yang memakai topeng kayu. Pandangan mataku kembali melirik ke arah mereka bertiga, tampak Haruki menggerakan sebelah tangannya ke depan dada lalu menggerakan telapak tangannya tadi ke atas hingga menyentuh pundaknya.
Dia kembali mengulangi hal tersebut untuk yang kedua kalinya, kedua mataku membesar tatkala kepalaku menunduk ke bawah. Dengan cepat, kugerakan tangan kananku meraih pakaian yang aku kenakan lalu menariknya sedikit ke atas hingga menutupi seluruh dadaku yang sebelumnya sedikit terlihat.
__ADS_1
Apakah, aku harus mengenakan pakaian ini? Aku sungguh-sungguh tidak nyaman mengenakannya, Tuhan.
Suara perempuan tua itu kembali terdengar, “malam ini, kita kembali mendapatkan keluarga baru. Kalian dapat memanggilku Sabra, nenek Sabra. Untuk mendapatkan kepercayaan kami, kalian akan tinggal bersama kami hingga waktu yang akan Dewa tentukan. Apa kalian sanggup?” Dia kembali menatap ke arahku lalu berganti menatap ke arah kedua kakakku dan juga Eneas.
“Kami akan melakukannya,” Haruki kembali bersuara, aku kembali menatap nenek Sabra yang tertunduk lalu tersenyum menatap lurus ke depan.
“Baiklah,” ucap nenek Sabra kembali dengan sebelah tangannya terangkat ke atas, “nikmati pestanya,” sambungnya dengan sedikit menggerakan tangannya tadi ke depan.
Alunan musik kembali menggema di udara tatkala nenek Sabra menurunkan kembali tangannya, satu per satu penduduk desa yang tidak memakai topeng beranjak berdiri, entah mereka perempuan ataupun laki-laki, satu hal yang pasti … Semua penduduk yang tidak memakai topeng, mereka semua sudah lanjut usia.
Tubuhku terhentak saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, “pakailah ini,” ucap perempuan bertopeng serigala saat aku menggerakan kepala menatapnya yang telah berdiri di sampingku.
Aku tertunduk menatap bungkusan daun yang kuletakan di atas pahaku itu, dengan perlahan kedua tanganku membuka bungkusan daun tadi. Dua topeng berbeda ukuran telah berada di atas pahaku saat daun yang membungkusnya terlepas. Aku meraih topeng berbentuk burung yang ada di sana, lalu memberikan topeng kecil berbentuk kelinci kepada Cia yang duduk di sampingku.
Topeng untuk mereka yang belum menikah. Lalu, bagaimana caranya desa ini memiliki banyak penduduk hanya dengan tiga generasi?
__ADS_1
Kenapa kakakku Haruki bersikeras ingin menjalin kerja sama dengan mereka? Apa yang membuat desa ini terlihat istimewa?
Kuangkat topeng berbentuk burung tadi mendekati wajahku diikuti sebelah tanganku meraih anyaman tali yang mengikat dua sisi topeng itu. Dengan perlahan, topeng itu menutupi seluruh wajahku … Kugerakan kedua tanganku mengikat anyaman tali tadi di belakang kepalaku.
Bau khas kayu menyeruak ke dalam hidungku, baunya semakin kuat terasa saat embusan angin menyentuh kulit tubuhkua. Aku berbalik menatap Cia yang menggerakan topeng kelinci miliknya menyentuh wajahnya sebelum dijauhkannya kembali. Kedua tanganku meraih topeng yang ada padanya, dengan perlahan kupasang topeng tadi menutupi wajahnya saat Cia mengangkat wajahnya ke arahku.
Kedua mataku yang dibatasi topeng tadi bergerak ke sekitar, kutatap Haruki yang juga telah mengenakan topeng berbentuk burung sama sepertiku, Izumi yang telah mengenakan topeng serigala sama seperti perempuan itu, dan juga Eneas yang telah mengenakan topeng berbentuk rusa menutupi wajahnya.
Suara alunan musik diikuti nyanyian mendayu yang dilakukan oleh beberapa penduduk semakin terdengar menghanyutkan telinga ketika malam semakin memeluk tubuh. Pandangan mataku beralih ke arah nenek Sabra yang telah melambaikan tangannya, aku bergerak menoleh ke samping … Berusaha mencari siapa yang mendapatkan lambaian tangan dari nenek Sabra.
Lambaian tangannya masih bergerak saat aku kembali menatap ke arahnya, kuangkat jari telunjuk menunjuk ke arah diriku sendiri, nenek Sabra menganggukan kepalanya saat aku melakukannya. Aku meraih tangan Cia saat tubuhku telah beranjak berdiri di sampingnya, dengan perlahan kami berdua berjalan membelah barisan perempuan memakai topeng yang tengah duduk menatapi tarian yang dilakukan oleh beberapa penduduk desa, “duduklah di dekatku,” ucapnya saat aku menghentikan langkah kaki di hadapannya.
Aku menarik sedikit rok kulit yang aku kenakan itu saat tubuhku bergerak duduk di dekat nenek itu, kurangkul tubuh Cia yang dengan sengaja kupangku agar tubuhnya dapat menutupi pahaku, “apa, ada sesuatu yang diperlukan dariku?” Aku berucap pelan walau sempat berhenti menatapnya.
“Burung, serigala, rusa dan juga kelinci. Mereka semua memiliki peran masing-masing dalam kehidupan,” ucap nenek Sabra dengan pandangan matanya masih menatap lurus ke arah para penduduk yang menari dan bernyanyi di hadapannya.
__ADS_1
“Burung, serigala, rusa dan juga kelinci,” ucapku mengulangi perkataanya, kepalaku tertunduk menatapi rambut yang ada di kepala Cia.
“Aku tidak tahu apa maksud dari masing-masing topeng, aku pun tidak tahu … Apa yang menyebabkan desa ini istimewa,” ucapku, nenek Sabra tersenyum kecil saat aku kembali mengangkat kepalaku menatapnya, “kenapa tidak mencoba mencari tahu semuanya? Kalian, telah menjadi bagian dari desa ini,” ucap nenek Sabra sebelum kepalanya kembali menatap ke arah tarian yang dilakukan oleh para penduduk desa.