Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXIV


__ADS_3

Kereta yang kami kendarai berjalan perlahan, ditatapnya aku oleh Zeki yang duduk berseberangan denganku. Sesuatu mencengkeram daguku seraya ditariknya hingga wajahku berbalik ke arah kanan tubuhku.


"Aku tidak menyetujui dia bergabung dengan kelompok kita hanya untuk menciptakan suasana mesra diantara kalian," ungkap Izumi seraya tersenyum menatapku.


"Apa terjadi sesuatu?" tukas Haruki yang juga ikut duduk di sebelahku.


"Kau tahu..." ungkapnya terpotong.


"Tidak terjadi apapun nii-chan, percayalah padaku," ungkapku, kututup mulut Izumi menggunakan telapak tanganku seraya berbalik menatap Haruki.


Kembali berbalik aku menatap Izumi, ditatapnya aku dengan bola matanya yang nampak membesar. Kutatap wajahnya dengan ekspresi memohon seraya kulepaskan perlahan telapak tanganku yang ada di bibirnya.


"Bersyukurlah, aku tidak sekejam Haruki," ungkapnya berbisik pelan padaku, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan kepala.


Kusandarkan kepalaku di pundak Haruki, kualihkan pandanganku ke arah masyarakat yang tengah menatapi jalannya kereta dari sisi kanan dan kiri jalan.


Kondisi mereka? Entahlah, aku sendiri tidak ingin membandingkannya. Akan tetapi, keadaan para warga di desa Kuma yang sekarang jauh dan jauh lebih baik dibandingkan mereka.


Bagaimana bisa, luas dan mewahnya Istana Kaisar. Berbanding terbalik dengan para rakyatnya yang hidup dibawah naungannya, bahkan... kau tidak akan menemukan emosi apapun ketika menatap para perempuan yang duduk dan berjongkok di pinggir-pinggir bangunan.


Ayahku selalu mengatakan, aku bukanlah seorang Raja jika tak ada seorangpun dari rakyatku yang memanggilku Yang Mulia. Karena itu, status mereka lebih tinggi dibandingkan kita. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa... Hampir setiap hari kami menerima kata-kata itu...


Jika kalian bertanya, apa yang paling membuatku bersyukur hidup di dunia ini? Jawabannya tentu saja, menjadi Putri dari Ayahku.


"Apa kalian memang selalu akrab seperti itu?" ucap Adinata menatap ke arah kami.


"Karena memang seperti inilah kami," ucap Haruki balas menatapnya.


"Karena kau tahu, status perempuan itu..." ucapnya seraya membuang pandangan.


"Apakah kau ingin tahu bagaimana Kerajaan kami dapat berkembang seperti sekarang?" ucapku ikut menatapnya, mengangguk ia menatapku.

__ADS_1


"Itu karena Kerajaan kami tidak lagi berpikiran tertutup seperti kalian. Perempuan seperti ini, perempuan seperti itu. Jika kalian masih membutuhkan perempuan untuk mendapatkan pewaris tahta untuk kalian, berhenti merendahkannya," ungkapku lagi seraya membuang pandangan darinya.


"Aku akan memberitahukan sesuatu hal yang sedikit penting untukmu. Jika ia mengatakan, putuskan hubungan dagang dengan Kerajaan ini... maka hampir seluruh lapisan rakyat kami akan menurutinya," ucap Haruki menepuk pelan kepalaku.


"Perintah darinya merupakan salah satu perintah mutlak yang ada di Kerajaan kami," sambung Izumi yang juga ikut membuang pandangannya.


"Jangan mempercayai kedua kakakku, mereka berdua terlalu melebih-lebihkan," ucapku menatap mereka yang sebelumnya menatapku dengan tatapan seakan tak percaya.


Brukk!!


Sebuah apel terlempar dan menggelinding ke arahku, kutatap Danurdara yang tiba-tiba gemetar ketakutan. Matanya basah menatapku...


"Apa yang terjadi padamu, Danur?" ucap Adinata menepuk-nepuk pelan pipi adiknya.


"Jahat... gelap... pemusnahan," ungkapnya berulang kali dengan kepala tertunduk.


Sebuah hawa panas tak terlihat menembus jantungku, rasanya terasa menyesakkan. Setiap putaran roda yang bergulir, setiap itu juga rasa itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku.


"Nii-chan, dadaku sesak sekali," ucapku, kutarik dengan kuat lengan pakaian Haruki dengan sebelah tangan menekan kuat dadaku.


"Kau baik-baik saja?" ikut terdengar suara Izumi yang semakin lama semakin samar terdengar.


"Sa-ch..."


Aku tak bisa mendengarkan apapun, apa yang kakakku katakan?


Hawa dingin tiba-tiba berhembus, terasa menyejukkan... layaknya seperti sebuah lagu pengantar tidur, kupejamkan mataku perlahan mengikuti kemana udara tersebut berembus.


"My Lord," sebuah suara mengetuk-ngetuk pelan telingaku.


Kembali kubuka kedua mataku, terlihat sama bayang-bayang berwarna putih berdiri di hadapanku. Bayangan yang semakin lama semakin jelas untuk kulihat.

__ADS_1


"Kou?" ucapku menatapnya.


"Apa yang sedang kau lakukan disana, My Lord?"


"Apa yang kau maksudkan, Kou?"


"Aku melihat semuanya melalui matamu, aku merasakan semuanya melalui kulit ditubuhmu. Kalian akan celaka jika pergi kesana," ucapnya berjalan mendekatiku.


"Celaka?" tanyaku bingung menatapnya.


"Aku merasakan keberadaan naga lain di sana, sangatlah kuat, mungkin selama ini ia memakan manusia sebagai santapannya."


"Apakah ada hubungannya?"


"Tentu saja, Naga akan tumbuh semakin kuat jika memakan daging manusia baik yang masih segar maupun tidak."


"Bagaimana denganmu sendiri Kou?"


"Aku tidak akan melakukannya, kau akan membenciku bukan jika aku melakukannya," ucapnya seraya semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Naga bukanlah satu-satunya yang harus kalian takutkan, masih banyak makhluk lain di dalamnya. Itu sama seperti jika kau mengajak beberapa makhluk untuk hidup di duniaku, seperti itulah yang ada di hadapan kalian."


"Maksudmu, kami akan memasuki alam kekuasaan Naga itu? seperti aku yang sekarang ada disini?"


"Benar sekali, apa kau masih ingat bagaimana pertama kalinya kau bisa masuk ke duniaku."


"Aku mengingatnya, hanya saja aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku sudah ada ditempat yang dipenuhi salju," ucapku, kuangkat kedua lenganku menyilang ke dada.


"Seperti itulah yang akan kalian hadapi, kalian tidak akan tahu sedang berada di dunia kalian sendiri ataupun tidak."


"Bagaimana kau mengetahui semuanya Kou?"

__ADS_1


"Naga dapat merasakan sihir sekecil apapun itu, bagaimana mungkin aku tidak bisa merasakan sihir sebesar itu..."


"Kembalilah sebelum semuanya terlambat, My Lord... Akan tetapi jika keadaan tak memungkinkan, aku akan memberitahukan sebuah saran penting untukmu," ungkapnya seraya mendekatkan wajahnya di telingaku.


__ADS_2