
Beranjak aku berdiri seraya kulangkahkan kakiku berjalan keluar dari gubuk jerami tempatku beristirahat semalam. Kualihkan pandanganku ke arah kedua Kakakku berserta Eneas yang telah berdiri di tengah-tengah penduduk desa...
"Nii-chan," ucapku seraya kulangkahkan kedua kakiku berjalan mendekati mereka.
"Kau sudah selesai siap-siap?" ungkap Haruki, berbalik ia menatapku.
"Aku sudah selesai," ucapku menjawab perkataan darinya seraya kugerakkan kepalaku mengangguk sesekali karenanya.
"Apa kalian telah selesai?" suara Daisuke kembali terdengar, kugerakkan kepalaku menoleh ke arahnya yang telah berpakaian layaknya biasa.
"Kita bisa berangkat saat ini juga," lanjut Haruki menimpali perkataannya.
"Aku titipkan desa ini pada kalian, jaga baik-baik!" teriak Daisuke diikuti suara teriakan serempak dari mereka yang ada di sekitar.
Masih kutatap Daisuke yang telah berjalan melewati, kugerakkan tubuhku berbalik berjalan mengikuti langkah kakinya. Kualihkan pandanganku ke sekitar, tampak para penduduk desa membungkukkan tubuhnya sepanjang kami berjalan di hadapan mereka.
Kami kembali melangkahkan kaki melewati semak-semak dedaunan tempat jalan keluar dari desa seperti sebelumnya lagi, pandangan mataku kembali terjatuh pada beberapa laki-laki yang telah berdiri dengan menggenggam tali kekang kuda milik kami di tangan mereka masing-masing.
Langkah kakiku bergerak mendekati salah satu dari mereka seraya kugerakkan tubuhku menaiki kuda putih milikku itu. Laki-laki tadi mengarahkan tali kekang yang ia genggam sebelumnya padaku, kugerakkan telapak tangan kananku meraih tali kekang kuda milikku di tangannya.
"Terima kasih," ucapku menatapnya, laki-laki tadi berjalan mundur menjauhi kuda milikku.
Kugerakkan kuda yang aku tunggangi berbalik berjalan mendekati Haruki. Kugerakkan tanganku meraih penutup kepala pada jubahku lalu kuarahkan penutup kepala tersebut menutupi seluruh wajahku...
Langkah kaki kuda milikku kembali bergerak, kini kualihkan pandanganku menatapi Daisuke yang telah menunggangi kudanya di hadapan kami. Lama kutatap punggungnya yang kokoh layaknya sebuah tembok...
__ADS_1
Aahh, jadi seperti ini Kapten Kerajaan kami.
__________________
"Kalian ingin memutuskan kemana?" ungkap Daisuke, digerakkannya kuda yang ia tunggangi berbalik menatap kami yang ada di belakangnya.
"Karena kita telah berjalan jauh ke Utara, jadi aku pikir untuk melanjutkan perjalanan ke arah Utara.
"Utara kah?" ucap Daisuke menimpali perkataan Haruki.
"Apa ada yang salah?"
"Tidak ada kesalahan Yang Mulia, hanya saja... Hal ini akan sedikit berbahaya untuk Putri, karena di sana... Tempat penjualan budak perempuan," ucap Daisuke kembali, kali ini ia menggerakkan kepalanya berbalik menatapku.
"Bagaimana menurutmu Sa-chan?" ucapnya, tanpa sadar kepalaku telah bergerak menatap Haruki yang juga telah menatapku.
"Sarang penjahat. Aku tahu kalau kalian telah berhasil mengajak para perompak berkerja sama, akan tetapi... Hal itu akan sedikit berbeda jika menyangkut mereka..."
"Kenapa?" ungkap Haruki kembali memotong perkataan Daisuke.
"Banyak sekali wilayah yang tak tersentuh oleh Kekaisaran, sama seperti para perompak Metin... Mereka yang ada di sana juga begitu," ucap Daisuke kembali.
"Dan juga, dari kabar yang aku dengar... Jika pemimpin mereka adalah seorang bangsawan atau Pangeran yang Kerajaan nya dihancurkan oleh Kekaisaran..."
"Karena hal itulah, jika mereka tahu kalian adalah bangsawan. Kalian sendiri juga akan terancam..."
__ADS_1
"Apa kau meremehkan kemampuan kami Daisuke. Justru, kumpulan manusia seperti mereka yang sangat ingin aku dapatkan sebagai sekutu," ucap Haruki kembali memotong perkataannya.
"Jika benar begitu adanya, maka aku ingin dan ingin sekali menaklukkan mereka semua. Bagaimana denganmu sendiri, Sa-chan?" ungkap Haruki, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah balas menatapku.
"Aku tidak masalah, sama seperti di Metin. Mungkin aku hanya akan langsung memanggil Kou untuk itu, jika mereka melakukan penyerangan kepada kita... Maka aku akan dengan senang hati memanggil Kou untuk mengancam mereka," ungkapku lagi padanya.
"Bagaimana denganmu sendiri Izumi?" sambung Haruki kembali, kugerakkan kepalaku menatapnya yang kini telah beralih menatapi Izumi.
"Aku tidak masalah, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Belajar dari pengalaman di Metin, Sachi tidak akan melakukan hal yang mengecewakan," ungkap Izumi membalas perkataan Haruki padanya.
"Jadi bagaimana Daisuke? Kami adalah Pangeran dan Putri Kerajaan Sora, apa kau pikir kami akan hancur begitu mudahnya?" lanjut Haruki kembali, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah mengarahkan pandangannya kepada Daisuke.
"Maafkan kelancanganku, Yang Mulia," ungkap Daisuke, kugerakkan kepalaku menatapnya yang sedikit membungkukkan badannya di atas kuda yang ia tunggangi dengan telapak tangan kanannya menyentuh dadanya.
"Tapi sebelum itu, apa kau telah memberikan kabar pada Ayah?" ungkap Haruki kembali, masih kutatap Daisuke yang masih membungkukkan tubuhnya, kepalanya bergerak mengangguk perlahan membalas perkataan Haruki padanya.
"Baiklah, kita akan menuju ke Utara. Bawa pulang sekutu atau hancurkan mereka yang membangkang..."
"Aku ingin perjalanan kita mencari sekutu tidak akan memakan waktu yang terlalu lama. Aku sendiri tidak bisa membiarkan Ayah berada di sekeliling seseorang yang bisa membunuhnya kapanpun..."
"Aku ingin menghancurkan Kekaisaran sesegera mungkin," ucap Haruki kembali, terdengar suaranya yang sedikit bergetar terdengar.
"Sebaiknya, kendalikan dahulu emosimu. Baru kali ini, aku melihatmu berbicara dengan nada emosional seperti itu," ungkap Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah menggerakkan kudanya berjalan melewati Haruki.
"Nii-chan," ungkapku, kugerakkan kepalaku menatap Haruki yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Maaf, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," ucapnya seraya diangkatnya kepalanya tadi menatapku.
"Sa-chan, tetaplah di sampingku. Jangan bergerak menjauh dariku walau hanya beberapa langkah!" perintah Haruki, digerakkannya kuda miliknya berbalik berjalan menjauhi.