Fake Princess

Fake Princess
Chapter DX


__ADS_3

Aku melirik tajam ke arah Izumi sebelum membuang pandanganku kembali ke arah kerumunan tersebut. Kugigit kuat bibirku dengan masih menatap Tsubaru yang tengah menggigit kain hitam yang melilit pergelangan tangannya, dia masih tertunduk sambil berusaha mengencangkan ikatan tersebut dengan gigitannya.


“Dia tidak sedang terjun ke peperangan, untuk apa mengkhawatirkannya seperti itu … Wajah pucatmu itu membuatku geli,” ucap Izumi yang membuatku dengan sigap menoleh ke arahnya.


“Wajahmu yang tidak berhenti mengolok-olok seseorang itu yang justru membuatku geli, nii-chan.”


Izumi membuka lebar mulutnya menatapku, “kau … Kau, mencampakkan kakakmu sendiri untuk seorang laki-laki?” timpalnya sembari mengangkat wajahnya ke atas diikuti helaan kuat yang terdengar.


“Dia bukan orang asing, dia sudah seperti kakakku sendiri.”


“Aku menyesal telah memberikan izin kepadanya untuk merawatmu,” sambung Izumi, dia mengangkat telapak tangannya menyisir rambutnya sendiri.


“Apa yang kau maksudkan, nii-chan?”


“Apa kau mengenalku?” Dia balik bertanya sebelum membuang kembali pandangannya dariku.


Aku menggigit kuat bibir sambil mengepal kuat kedua tanganku, kutarik napas dalam lalu kuembuskan kembali sebelum aku membuang pandanganku darinya, “beruntung sekali, kau adalah kakakku,” gerutuku dengan mengarahkan pandangan ke arah kerumunan yang kian terdengar riuh.


Tsubaru mengangkat lengan kanannya menangkis tendangan yang dilakukan Tsutomu. “Lihat, lihatlah Kesatria yang selalu kau agungkan itu,” lirikanku kembali mengarah kepada Izumi yang lagi-lagi bersuara.


Aku beranjak berdiri di atas tong dengan pandangan masih mengarah kepada Tsubaru yang masih menangkis serangan yang dilakukan Tsutomu, “Tsu nii-chan! Sampai kapan kau akan menahan diri terus seperti itu! Jika kau kalah, nii-chan … Ketenangan hidupku akan terancam,” ucapku dengan menggigit kuat bibirku menatapnya.

__ADS_1


Mulutku terbuka ketika Tsubaru meraih lalu mencengkeram kaki Tsutomu yang sebelumnya hendak menerjangnya. Tangan Tsubaru dengan cepat bergerak mencekik leher Tsutomu, dia menarik kembali tangannya ketika kedua tangan Tsutomu hendak memukul lengan Tsubaru yang mencekik lehernya. Tsubaru berjalan mundur ke belakang beberapa langkah sebelum dia mengangkat sebelah kakinya menerjang kuat tubuh Tsutomu hingga dia terjatuh ke kerumunan laki-laki yang ada di belakangnya.


“Seperti yang diharapkan dari Tsubaru,” ungkapku sambil melirik ke arah Izumi yang tengah menggerakkan sebelah tangannya dengan pandangan matanya yang masih tak berkedip menatap Tsubaru.


“Nii-chan, jangan katakan … Kau sengaja melakukannya karena ingin mempelajari gerakan bertarung milik Tsubaru?”


Izumi menghentikan gerakan tangannya, “kau menyadarinya dengan sangat cepat,” ucap Izumi yang berbalik menoleh ke arahku.


Aku membuang pandanganku darinya, “bagaimana bisa, aku jatuh ke dalam perangkap murahan ini. Bodohnya kau, Sachi,” gerutuku sambil mengusap-usap dada, berusaha tak menanggapi panggilannya yang terus-menerus terdengar.


Aku menoleh lalu tersenyum menatapnya, kubuang kembali pandanganku saat dia mengernyitkan keningnya membalas tatapanku, “Tsubaru, kau mendengarku, bukan? Ambil arah bertarung yang berseberangan denganmu saat ini. Tak usah memikirkan alasannya, hanya lakukan seperti yang aku perintahkan!” Aku meninggikan suaraku sambil kembali tersenyum melirik ke arah Izumi.


Izumi memiringkan kepalanya sedikit ke kiri saat telapak tangan kanannya menepuk-nepuk lehernya, “jadi seperti ini rasanya dikhianati,” tukas Izumi, dia kembali menghela napas sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


Aku melirik ke arah Izumi, begitupun dengan Izumi yang telah melirik ke arahku. Keadaan di sekitar tiba-tiba menghening, seakan terbawa oleh suara deburan ombak di lautan. “Tsutomu! Tsubaru! Aku akan mematahkan kedua tangan dan kaki kalian, jika kalian masih melanjutkan apa yang kalian perbuat!” Aku segera duduk berjongkok mendekati Izumi ketika suara laki-laki itu kian terdengar.


“Bergeraklah secara perlahan, atau kita akan berada dalam bahaya jika tertangkap olehnya,” bisik Izumi pelan, dia melirik ke arahku ketika aku telah berjongkok di belakangnya.


“Jangan coba-coba untuk melarikan diri kalian berdua, segera turun dari tong-tong tersebut,” mataku sedikit terpejam diikuti helaan napas yang terdengar ketika suara Haruki kembali menyentuh telinga.


Pandanganku kembali beralih kepada Izumi yang mendecakkan lidahnya sebelum dia melompat turun dari atas tong kayu. Aku menggaruk pelan belakang leherku sebelum aku mengikutinya melangkah mendekati Haruki yang telah menyilangkan kedua lengannya menatapi kami. “jadi,” ucap Haruki sembari menurunkan kedua lengannya, “apa yang akan kalian jelaskan kepadaku?” sambungnya sambil menatap kami berdua.

__ADS_1


“Kalian berdua, apa yang kalian perbuat ini tidak lain tidak bukan,” ucap Haruki kembali dengan melirik ke arah kami, “adalah perintah mereka berdua,” tukasnya sambil mengalihkan pandangannya lagi ke arah Tsubaru dan juga Tsutomu dengan jari telunjuknya mengarah ke arah kami.


“Aku mungkin akan memakluminya jika itu Izumi, tapi kau Sa-chan … Ikut melakukannya?” Aku menundukkan kepalaku saat pandangannya kembali mengarah padaku.


“Kalian berdua, ikuti aku!” perintah Haruki ketika dia berbalik sambil melangkah pergi menjauh.


"Tatsuya! Urus Tsubaru dan Tsutomu untukku!" Haruki kembali memerintah tanpa sedikit pun menoleh.


Aku menarik napas dalam sebelum mengikuti langkahnya. Haruki berhenti melangkah di depan kamarnya, dia membuka pintu kamar tersebut lalu memasukinya. Kedua mataku membelalak, mulutku sedikit menganga ketika Izumi yang berjalan di belakangku tiba-tiba jatuh tersungkur ke depan, “telingaku … Telingaku,” rintihku sambil menepuk lengan yang tiba-tiba menjewer kuat telingaku.


"Apa kau harus menerjangku seperti itu?!" bentak Izumi ketika dia mengangkat wajahnya menatap Haruki.


“Apa kalian tidak menggunakan akal kalian?!”


Aku terhenyak saat bentakan dari suara Haruki kembali terdengar, “kita tidak tahu apa yang akan kita temui kedepannya. Bukannya mempersiapkan kondisi semuanya baik agar mudah melanjutkan rintangan yang akan dihadapi … Kalian malah, membuat mereka saling melukai diri mereka sendiri,” sambung Haruki, dia melepaskan jeweran yang ia lakukan lalu melangkah mendekati kursi dan mendudukinya.


“Aku tidak sengaja melakukannya … Aku, aku hanya terbawa arus yang dibuat Izu nii-chan,” tukasku dengan menoleh ke arah Izumi yang telah beranjak melangkahkan kakinya mendekat.


“Siapa, siapa tadi yang sangat bersemangat memerintah Tsubaru … Apa kau ingin memulai permusuhan di antara sau-”


Perkataan Izumi terhenti, wajahnya tertunduk diikuti telapak tangannya yang bergerak mengusap kakinya yang sebelumnya diterjang Haruki yang duduk di hadapan kami, “selalu aku yang salah, bukan? Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa," tukasnya ketika dia mengangkat kembali wajahnya menatap Haruki.

__ADS_1


“Jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Jika luka-luka yang mereka dapatkan belum sembuh ketika kita berlabuh, bersiaplah untuk mendapatkan hukuman dariku kalian berdua,” ucap Haruki, dia kembali bersandar sambil memijat kepalanya yang sedikit tertunduk.


__ADS_2