Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXII


__ADS_3

"Proses ini akan memakan waktu berhari-hari. Akan tetapi, Nii-chan, apa kau ingin memakan sesuatu yang manis sekarang? Aku bisa membuatkanmu permen yang terbuat dari Jeruk-jeruk itu saat ini juga..."


"Benarkah? Kalau begitu, buatkan aku sekarang juga!" ungkap Izumi dengan mata berkaca-kaca menatapku


"Tidak tanpa bantuanmu. Aku membutuhkan sesuatu yang panjang dan tipis yang terbuat dari Bambu dengan bentuk yang runcing di atasnya untuk di tusukkan di buah-buah Jeruk itu," tukasku


"Baiklah, aku akan membuatkannya. Ikuti aku Tsutomu, kita akan mencari Bambu di sekitar sini!" tukasnya seraya berjalan menjauh yang diikuti oleh Tsutomu di belakangnya


Berdiri aku dengan didampingi Tsubaru di belakangku, tampak dari kejauhan seorang Ksatria berlari dengan tergesa-gesa ke arah kami berdua...


"Putri, kami sudah selesai memetik semua Jeruk-jeruk nya. Akan tetapi, ada satu masalah..." tukas salah satu Ksatria


Mereka membawa ku ke sebuah sumur yang terletak di pinggir desa, salah satu warga desa tampak menimba air yang ada di dalam sumur menggunakan sebuah ember kayu kusam berlilit tali...


Berjalan aku mendekati nya seraya menjatuhkan pandanganku ke air yang ditampung ember kayu tadi. Air nya tampak keruh di selimuti bau yang tercium samar-samar jika kau mendekatkan hidung mu lebih dekat dengannya...


"Kami tidak bisa mencuci Jeruk-jeruk nya menggunakan air itu, Putri..." ungkap salah satu Ksatria


"Apa tidak ada sungai? atau sumber mata air lain disini?" tanyaku seraya menatap warga desa yang mengerumuni


"Ini satu-satunya sumber mata air kami, Putri..." ucap salah satu dari mereka dengan kepala tertunduk


"Air ini jauh dari kata layak, apa kalian juga mengonsumsinya?" tanyaku lagi yang dibalas dengan anggukan mereka semua


"Dan kalian baik-baik saja setelah mengonsumsinya?" tanyaku lagi sembari meletakkan telapak tangan menutupi dahiku seraya tertunduk


"Banyak dari kami yang jatuh sakit lalu meninggal, tapi apa yang bisa rakyat kecil seperti kami lakukan..." tukas pria tua yang pakaian nya penuh tambalan jahitan


"Aarggh sial." Gerutuku dalam hati seraya menggenggam jari-jemariku


"Ada apa ini?" suara Haruki muncul dari belakang telinga ku


"Nii-chan, apakah persediaan air yang kita bawa masih banyak? bisakah aku menggunakannya?" tukasku seraya tetap tertunduk


"Bagaimana Tatsuya? apa masih banyak?"


"Masih dua tong lagi, Yang Mulia" tukas Tatsuya

__ADS_1


"Nii-chan, aku membutuhkan buah kelapa, batu kerikil, pasir, dan juga sebuah kendi besar. Kalau bisa berikan aku juga kunyit dan madu..." ucapku tertahan


"Kau dengar itu, Tatsuya? Aku tidak peduli bagaimana cara kalian mendapatkannya, hanya bawakan saja semua yang dia sebutkan tadi..."


"Laksanakan, Yang Mulia.."


"Kumohon, berhati-hatilah" ucapku pelan


"Kami mengerti, Putri" ungkap Tatsuya seraya tersenyum kearahku


"Tiga orang dari kalian, ikuti aku!" tukas Tatsuya seraya menatap tiga orang Ksatria dan berjalan menjauh


"Tsubaru, bawakan dua tong air di Kereta, ke perkebunan Jeruk-jeruk tadi... Aku akan menunggu disana..." tukasku


"Laksanakan, Putri." Ucap Tsubaru berbalik seraya berjalan menjauh dengan mengajak empat orang Ksatria bersamanya


"Dan kalian semua, ikuti aku!" sambungku seraya menatap warga desa dan beberapa Ksatria yang tersisa


Berjalan aku dituntun Haruki di ikuti para warga dan juga Ksatria di belakang kami. Tampak Izumi berdiri memantau warga desa lainnya dengan Tsutomu yang setia berdiri di belakangnya, menoleh ia kearahku dan juga Haruki...


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya


"Aku sudah mendapatkan bambu-bambu yang kau sebutkan. Waktu aku berkata kalau Putri akan membuatkan kita sesuatu yang manis, anak-anak disini semangat membantu..." ucapnya seraya mengarahkan pandangan pada anak-anak yang berkumpul dengan tumpukan bambu di tengah-tengah mereka


"Benarkah? syukurlah kalau begitu..." tukasku pelan


"Putri, kami sudah membawakan air yang kau butuhkan.." ucap Tsubaru berdiri dengan dua buah tong kayu berukuran besar di sampingnya


"Terima kasih" ucapku seraya menatap Tsubaru dan empat Ksatria lainnya yang tengah dihujani keringat


"Semuanya, cuci bersih jeruk-jeruk yang kalian petik tadi dengan air yang ada di dalam tong. Jika sudah selesai, pisahkan jeruk-jeruk tadi menjadi dua. Satu bagian kalian potong kecil-kecil dan tipis beserta kulitnya, sedangkan bagian yang lainnya kalian kupas seperti biasa.." ucapku setengah berteriak


"Laksanakan, Putri" teriak mereka serempak


"Apa apinya sudah siap?" tanyaku seraya menatap warga yang ku suruh menyiapkan api sebelumnya


"Hampir siap, Putri.." ucap mereka dengan suara lantang

__ADS_1


"Jika sudah selesai, masukkan jeruk-jeruk yang sudah kalian potong-potong beserta kulitnya tadi ke dalam panci. Tambahkan air dan gula secukupnya lalu masak di atas api yang telah di siapkan!"


"Laksanakan, Putri..."


"Putri... Putri..." terdengar suara dari telinga kananku seraya tarikan pelan di gaun yang aku kenakan


"Ada apa?" tanyaku seraya menoleh


"Kami sudah selesai menyiapkan bambu yang kau inginkan.." ucap salah satu anak perempuan dengan beberapa puluh tusuk bambu di tangannya


"Terima kasih..." ucapku seraya tersenyum ke arah mereka


"Tsubaru, apakah kau bisa memasakkan karamel seperti yang pernah aku ajarkan ke Haru nii-chan kemarin? Akan tetapi, jangan tambahkan air panas lagi seperti sebelumnya, hanya masak saja gula yang ditambah sedikit air..." ucapku seraya menatap Tsubaru


"Laksanakan, Putri" ucap Tsubaru berjalan sembari mengambil sebuah panci besar dan mengisinya dengan gula beserta air


"Kalian semua, ikuti aku" tukasku seraya menoleh ke arah anak-anak yang masing-masing membawa tusuk bambu di tangan mereka


"Dan jangan lupa cuci tangan kalian terlebih dahulu sebelum membantuku..." ucapku kembali tersenyum ke arah mereka


"Baik, Putri.." ucap mereka serempak sembari mengikuti langkahku


Berjalan aku menuju ke arah warga yang sedang fokus mengupas jeruk seperti yang aku perintahkan, sebuah tatapan yang mengandung harapan tampak terukir dari pandangan mereka..


"Apa Jeruk-jeruk nya sudah selesai kalian kupas?" ucapku seraya mendekati mereka


"Hampir selesai, Putri" ucap mereka pelan


"Jika sudah selesai, pisahkan kulit jeruk dengan bagian putih tipis yang ada di dalamnya untuk membantu menghilangkan rasa pahit. Lalu potong memanjang kulit jeruk tadi, usahakan dengan ukuran yang sama..."


"Eh? kulit jeruk? dan bukan isi buah nya?" ucap mereka bergantian


"Yang akan kita olah untuk kalian jual ialah kulit jeruk yang akan diubah menjadi sebuah permen yang manis..."


"Sedangkan buah jeruknya sendiri, akan langsung kita makan..."


"Tapi Putri... Jeruk di desa kami rasanya sangat asam..." tukas mereka dengan nada terkejut

__ADS_1


"Aku tahu..." tukasku


"Karena itulah, aku membutuhkan bantuan mereka untuk mengolahnya" sambungku seraya menatap anak-anak desa yang sedang berbaris rapi untuk mencuci tangan mereka


__ADS_2