
Kami berdua melangkah melewati rerumputan di dasar jurang, kurasakan perih menjalar di kakiku saat kurasakan banyak benda kecil nan tajam yang menggores-gores kakiku.
Langkah kaki kami berdua semakin cepat dan semakin cepat bergerak menjauhi jurang gelap tersebut. Izumi menghentikan langkahnya, semakin erat genggaman tanganku di lengannya seiring minimnya cahaya yang ada di sekitar.
"Lewat sini," ucap Izumi menarik tanganku ke arah kiri.
Langkah kaki kami berdua kembali berjalan pelan menyusuri gelapnya tempat ini. Sesekali terdengar suara jangkrik memenuhi sekitar, kedua mataku tak henti-hentinya menatap ke atas tatkala dedaunan di pohon-pohon yang ada di sekitar tiba-tiba bergerak.
Kulangkahkan kakiku semakin cepat mengimbangi langkah kaki Izumi saat bias-bias sinar berada jauh di hadapan kami. Bias-bias sinar tadi semakin nampak jelas terlihat saat langkah kaki kami berdua berlari cepat menyusuri jalan setapak yang sedikit terlihat oleh sinar bulan yang jatuh ke tanah.
Izumi mengarahkan telapak tangannya menyentuh belakang kepalaku, ditariknya kepalaku tadi hingga menyentuh bagian depan pundaknya. Bau darah yang memenuhi tubuhnya membuatku sedikit menarik kembali kepalaku...
"Jangan bergerak! Di depan kita banyak sekali laki-laki, sembunyikan wajahmu," bisiknya semakin membenamkan wajahku di pundaknya.
Suara laki-laki tertawa mengusik telingaku, semakin keras dan semakin jelas terdengar tatkala langkah kakiku hanya bergerak mengikuti arahan Izumi. Suara detak jantung Izumi semakin jelas terdengar beriringan dengan suara tawa laki-laki yang memenuhi sekitar.
Terdengar suara laki-laki diikuti Izumi yang menghentikan langkah kakinya. Detak jantungku semakin cepat berpacu dengan dinginnya udara yang berembus menembus pakaian yang aku kenakan.
"Apa kau memanggilku?" Ucap Izumi, semakin kuat telapak tangannya tadi menggenggam kepalaku.
"Pendatang?" Balas suara laki-laki yang entah itu siapa.
"Apa dia perempuan? Biarkan kami melihatnya," ucap suara laki-laki itu kembali.
__ADS_1
"Dia milikku. Aku tidak suka berbagi pada siapapun," ungkap Izumi membalas perkataan laki-laki tadi diikuti usapan lembut pada rambutku berulang-ulang.
"Biarkan kami melihatnya agar kami bisa memberitahumu apakah dia memuaskan atau tidak," suara laki-laki itu kembali terdengar diikuti gelak tawa yang keras dari suara laki-laki yang lain.
"Jika kau mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuhmu saat ini juga," ucap Izumi, ikut berjalan aku mengikuti langkahnya yang kembali bergerak.
"Laki-laki yang tidak bisa menahan diri benar-benar mengerikan," suara laki-laki asing kembali terdengar beriringan suara tawa yang lebih jelas terdengar dibandingkan sebelumnya.
Lama kami berjalan dengan posisi tersebut. Izumi menghentikan langkah kakinya kembali seraya dilepaskannya rangkulan yang ia lakukan sebelumnya. Kutatap wajah kakakku itu yang menoleh ke kanan dan ke kiri menghiraukan beberapa orang yang beberapa kali menabrak tubuhnya di ramainya jalan.
"Lewat sini!" Ucap Izumi kembali menarik tanganku ke arah kanan.
Kami kembali berjalan menyusuri jalan yang lebih sepi dibandingkan sebelumnya. Pandangan mataku terjatuh pada kerumunan manusia yang berdiri di depan bangunan yang masih mengepulkan asap.
"Haruki," ucap Izumi dengan sedikit berteriak, kualihkan pandanganku pada Haruki yang menggerakkan kepalanya menoleh ke arah kami.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian," ucap Haruki menggerakkan tubuhnya melompat dari atas kuda miliknya.
"Apa yang terjadi? Tubuh kalian... Darah siapa ini?" Ucapnya lagi seraya diarahkannya kedua tangannya memegang pakaian yang aku kenakan berserta Izumi.
"Kami diserang. Kami diserang saat perjalanan ke sini," balas Izumi saat Haruki melepaskan tangannya di pakaian yang ia kenakan.
"Berapa? Berapa orang? Apa kalian baik-baik saja?" Sambung Haruki dengan nada sedikit bergetar.
__ADS_1
"Mendekatlah Sa-chan! Apa kau terluka?" Ucapnya kembali seraya diangkatnya kedua telapak tangannya menyentuh kedua pipiku.
"Lima belas orang. Tiga diantaranya mati ditangan adik kesayanganmu," ucap Izumi berjalan mendekati Eneas berserta Daisuke yang juga melangkah mendekati kami.
"Kau, sungguh-sungguh melakukannya?"
"Aku tidak ingin menyia-nyiakan semua pelajaran bela diri yang kau berikan padaku. Lagipun nii-chan, aku ingin pulang berkumpul dengan Ayah lagi kelak. Jadi karena itu, aku tidak akan mati dengan mudah. Dan aku... Ingin sekali membuang sifat naif ku ini sejak lama," ucapanku terhenti saat Haruki menarik dan memeluk kuat tubuhku.
"Maaf. Kau pasti ketakutan bukan?" Ungkapnya, kubenamkan kepalaku dengan sedikit mengangguk pelan di pundaknya.
"Kau bodoh sekali, Haruki. Dia adik kita, dia tidak selemah itu," ikut terdengar suara Izumi, kuangkat kepalaku menatapnya yang tengah berjalan mendekati dengan sebuah kantung minum di tangannya.
"Bagaimana denganmu Izumi? Apa kau baik-baik saja?"
"Jika Sachi saja bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Apa kau pikir mereka bisa melukaiku?"
"Ini minumlah. Kau pasti haus bukan? Sambung Izumi mengarahkan kantung minum yang ia genggam ke arahku.
Haruki melepaskan pelukannya, kugerakkan tanganku meraih kantung minum yang ada di tangan Izumi. Jari-jari tanganku bergerak membuka penutup yang menutupi lubang kantung seraya mataku kembali teralihkan pada Niel yang berteriak-teriak dari atas kuda yang ia tunggangi.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Ucapan Izumi mengalihkan perhatianku, kuangkat kantung minum tadi mendekati bibirku seraya mataku masih tertuju menatapnya.
"Entahlah, saat kami tiba di sini. Penjaranya telah terbakar," ungkap Haruki mengarahkan pandangannya melirik ke arah puing-puing penjara yang menghitam pekat.
__ADS_1