
"Apa kau baik-baik saja?" kembali terdengar suara Haruki diikuti sesuatu menyentuh kedua pipiku.
"Nii-chan, dia mencoba menyerangku saat aku tertidur. Dia... Dia berusaha memotong leherku dengan pisau yang ada di tangannya," ucapku sembari kuangkat kepalaku menatapnya, sesekali kuhirup udara dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara seseorang yang tengah pilek.
"Kemarilah, aku ingin memeriksanya," ucapnya lagi seraya diarahkannya sebelah telapak tangannya sedikit mendorong wajahku ke samping, kembali kurasakan sentuhan tangannya menyentuh samping leherku.
"Beraninya kau melukai Adikku," kembali terdengar suara Haruki, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Adikmu sendiri yang melukai dirinya sendiri," ikut terdengar suara Niel yang menimpali.
"Apa yang kau katakan? Lagipun, apa yang bisa dilakukan perempuan lemah sepertiku? Aku bahkan sudah kehilangan napasku saat dimintai kedua Kakakku berlari," ucapku sembari kugerakkan kepalaku kembali tertunduk.
"Adikku melukai dirinya sendiri? Lalu apa yang kau lakukan di kamarnya, wahai Niel?"
Bagus. Teruskan Haru-nii, dorong dia dengan semua ucapanmu hingga dia tak dapat berkutik lagi.
"Aku memang berniat untuk membunuhnya."
"Ulangi perkataanmu! Ulangi sekali lagi!" ikut terdengar suara Izumi dari samping kiri tubuhku.
"Siapa yang ingin kau bunuh? Adikku? Kakakku? Atau mereka berdua?" sambungnya diikuti suara besi bergesekan semakin mendekati.
Haruki mengarahkan telapak tangannya menggenggam bahuku, dibantunya tubuhku beranjak berdiri olehnya. Kugerakkan kepalaku menatapi Izumi yang tengah berjalan mendekati dengan sebilah pedang ikut terseret di tangan kanannya.
"Aku katakan... Ulangi perkataanmu sekali lagi!" ucapnya kembali mengulangi perkataannya.
"Katakan! Bagian mana dari tubuhmu yang ingin aku potong terlebih dahulu? Kaki? Tangan? Atau Kepalamu?" ucap Izumi kembali, kugerakkan kedua kakiku dengan sangat cepat berlari ke arahnya.
"Izu-nii," ucapku seraya kuarahkan telapak tanganku meraih lengan kirinya.
__ADS_1
"Lepaskan," ungkapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, langkah kakinya yang sempat terhenti sejenak kembali bergerak.
"Kau tidak boleh membunuhnya sekarang," bisikku pelan padanya.
"Aku tidak peduli pada rencana yang kalian rancang, tapi yang jelas... Aku ingin sekali membunuhnya," ucapnya lagi padaku.
"Egil! Pikirkan tentang Egil jika Kakak membunuh Ayahnya, dia masih terlalu kecil untuk kehilangan orang tuanya," ungkapku, kurasakan langkah kaki Izumi kembali terhenti.
"Menyingkirlah! Aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika aku melihat wajahmu lebih lama dari ini," tukas Izumi mengalihkan pandangannya ke samping.
"Cepatlah pergi. Aku melakukan semua ini bukan karena aku mengkhawatirkanmu, aku hanya mengkhawatirkan anakmu jika sesuatu terjadi pada ayahnya," sambungku membalikkan pandangan ke belakang menatapnya.
"Jika aku tak melakukannya?"
"Ayah... Apa yang Ayah lakukan di sini?" terdengar suara Egil dari arah pintu.
"Aku haus, jadi aku terbangun mencari minum. Apa yang Ayah lakukan..."
"Ayahmu..."
"Tutup mulutmu! Jangan mengatakan sepatah katapun pada anakku," kembali suara Niel terdengar memotong perkataan Izumi sebelumnya, kualihkan pandanganku menatapnya yang tengah berjalan mendekati Egil.
"Ayah tidak melakukan apapun di sini, kemarilah! Ayah akan mengambilkan air untukmu," ucapnya kembali seraya digendongnya tubuh anaknya tersebut.
Niel berjalan tanpa menoleh, kembali pandangan mataku teralihkan pada Egil yang tersenyum menatapku. Aku berbalik berjalan mendekati ranjang sembari kugerakkan tubuhku sedikit menunduk meraih pisau kecil milik Niel sebelumnya...
"Apa kau baik-baik saja?" Kembali terdengar suara Izumi saat tubuhku bergerak duduk di samping ranjang.
"Aku baik-baik saja nii-chan," ungkapku sembari kuarahkan telapak tanganku meletakkan pisau kecil yang aku genggam tadi ke samping tubuhku.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kalian bisa sampai kesini secara tiba-tiba dan bersamaan?" ungkapku kembali menggerakkan sebelah tanganku meraba-raba bagian samping leher, tampak terlihat bercak merah menempel pada pada telapak tanganku tadi.
"Kau tanya bagaimana? Tentu saja aku, tentu saja aku yang langsung terbang memberitahu mereka semua," ucap Lux yang tiba-tiba telah terbang di hadapan.
"Begitukah? Kalau begitu, terima kasih Lux. Kau benar-benar penyelamatku," ungkapku tersenyum menatapnya.
"Kita pergi saja dari sini! Lagipun, tidak ada untungnya kita membantu mereka," ucap Izumi ikut duduk di sampingku.
"Kau benar. Akupun tidak tahu, apa yang akan dia lakukan padamu ke depannya, Sa-chan," sambung Haruki melangkahkan kakinya lalu diarahkannya tubuhnya bersandar pada dinding dengan kedua tangannya menyilang di dada.
"Lagipun seperti yang Izumi kita katakan. Kita tidak akan memiliki keuntungan apapun jika tetap berkerja sama dengan wilayah ini. Selain itu, aku sama sekali tidak menyukai sifat Niel," ungkapnya lagi, masih kutatap dia yang telah menggerakkan kepalanya menatap ke atas langit-langit kamar.
"Kau salah nii-chan," ungkapku sembari ikut kugerakkan kepalaku menengadah ke atas.
"Kita membutuhkan mereka untuk menjadi sekutu," sambungku lagi pada mereka.
"Apa maksudnya Sa-chan?"
"Haruki benar, apa maksudmu?"
"Egil memberitahukan informasi penting padaku... Asal-usul harta kekayaan wilayahnya ini," ungkapku menimpali perkataan mereka.
"Sisi lain dari bukit tempat kita bernaung sekarang... Tidak lain dan tidak bukan ialah tambang emas yang sangat besar, akan tetapi..."
"Akan tetapi?" ucap Haruki kembali menatapku.
"Akan tetapi, mereka masih belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Jika kita berhasil melakukan kerja sama pada mereka, baik itu kerja sama dalam pertahanan maupun ekonomi... Kerajaan kita akan mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat."
"Karena itulah, aku membutuhkan mereka untuk menambah pundi-pundi kekayaan Kerajaan kita. Karena itulah, kita akan memanfaatkan masalah yang mereka dapatkan untuk kepentingan kita sendiri. Lagipun, aku penasaran dengan bubuk tersebut... Siapa tahu bukan? Kita bisa memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan musuh kita kedepannya," ucapku lagi sembari menatapi mereka bergantian.
__ADS_1