Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLV


__ADS_3

"Tapi bisakah kabar tentang kami bertiga yang masih hidup tidak tersebar?"


"Maksudku, bisakah kalian semua menganggap kami bertiga tetaplah sudah mati seperti sebelumnya?" ucapku tertunduk.


"Kenapa? Ayah kalian pasti akan sangat bersyukur mengetahui ketiga anaknya baik-baik saja."


"Kami mencurigai seseorang yang berkerja sama dengan Kaisar di sana, ini untuk Ayah kami dan Kerajaan yang kami jaga selama ini," ucapku lagi menimpali perkataan Raja Lamond padaku.


"Jika kami kembali, aku tidak tahu... Percobaan pembunuhan apalagi yang akan mereka lakukan pada kami bertiga," sambungku lagi padanya.


"Aku mengerti, karena itu kau memintaku mengabulkan permohonan darimu semalam?" ungkap Raja Lamond, kuangkat kepalaku balas menatapnya yang menatapku.


"Permohonan?" ucap mereka yang ada di dalam ruangan bergantian.


"Permohonan apa Sa-chan?" tukas Haruki diiringi genggaman pelan yang ia lakukan di pundakku.


"Adikmu memintaku untuk mengawasi mereka berempat," ungkap Raja Lamond seraya mengalihkan pandangannya dari Haruki.


"Mereka berempat? Maksudnya kami?"


"Apa kau bercanda! Apa itu balasanmu pada kami yang telah menolong nyawamu?!" teriak Akash menimpali perkataan Kabir.


"Aku memohon pada Raja untuk mengawasi kalian bukan memenjarakan kalian," ucapku balas menatapnya.


"Putri Sachi menginginkanku untuk mengangkat kalian berdua yang laki-laki sebagai Kesatria dan perempuannya sebagai pelayan pribadi untuk Putriku Julissa."


"Omong kosong macam apa itu?!" sambung Akash berteriak.


"Apa kalian pikir aku akan membebaskan pencuri begitu saja? Jadi, jika kalian tidak menginginkan hukuman mati, patuhi semua perkataan dariku."

__ADS_1


"Apa kau pikir aku akan menuruti perkataanmu begitu saja hanya karena kau seorang Raja?"


"Bagaimana dengan posisi wakil kapten?" sambung Zeki pada mereka berdua.


"Aku akan menempatkanmu menjadi wakil kaptenku di Kerajaan Yadgar," ucapnya lagi seraya memutarkan jari telunjuknya di bibir gelas yang ada di hadapannya.


"Apa maksudmu?" ungkap Akash menatapi Zeki.


"Aku tidak ingin mengambil risiko, bagaimana jika kalian menyebarkan berita tentang mereka... Tunanganku, bisa-bisa berada dalam bahaya tanpa sepengetahuan dariku," ucap Zeki kembali seraya menatap lurus jarinya yang masih sibuk memutari bibir gelas tadi.


"Apa kau pikir kami peduli pada pemberontakan kalian."


"Aku memahami betul perasaan kalian," ucap Zeki seraya mengalihkan pandangannya kepada Akash yang menatapnya.


"Seorang Pangeran sepertimu mengerti apa yang dirasakan rakyat kecil seperti kami? Apa kau bercanda, Sialan!"


"Aku, sekalipun tidak pernah dianggap sebagai seorang Pangeran. Sebelum aku bertemu dengannya..." ucap Zeki mengalihkan pandangannya lagi padaku.


"Aku bahkan menjual tubuhku sendiri pada para perempuan bangsawan yang tidak dipedulikan suami mereka... Menjijikan sekali bukan?" ucapnya dengan suara bergetar.


"Tapi, semuanya terasa lebih baik saat aku bertemu dengannya sebelas tahun yang lalu. Perlahan demi perlahan, dia menarikku keluar dari semua itu..."


"Aku bahkan mulai bekerja di Pasar untuk mendapatkan uang. Katakan, apa kau pernah melihat seorang Pangeran bekerja serabutan di Kerajaannya sendiri?" ucap Zeki kembali seraya menatapi Akash.


"Dia memarahiku saat aku melakukan kesalahan, dia bahkan tidak akan segan-segan menendang tubuhku jika aku membuatnya kesal. Sachi lah, yang menjadikanku sebagai seorang manusia seperti sekarang..."


"Aku tahu, aku sangat tidak pantas untuknya. Tapi aku juga, sangat tidak ingin kehilangannya," ucapnya lagi seraya menggaruk pelan kepalanya.


Kualihkan pandangan yang berair darinya, kuangkat sebelah telapak tangan menyapu kedua mata seraya kutundukkan kembali kepalaku menatap sebelah tangan yang masih menggenggam erat rok gaun yang aku kenakan.

__ADS_1


"Jika itu untuk melindunginya dari semua kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Aku akan melakukan apapun, termasuk menjadikanmu wakil kapten untukku. Jika kau menolaknya? Maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi kalian berempat saat ini juga," sambung Zeki dengan nada suara yang telah berubah dari sebelumnya.


"Aku tidak akan membuatmu seperti pelayan atau apapun. Kau bisa menjadi dirimu sendiri, hanya jangan berkhianat saja padaku..."


"Dan juga kedua teman perempuan kalian akan aman di bawah perlindungan langsung dari Putri Julissa, mereka tidak akan merasa terkucilkan atau apapun..."


"Di dunia ini, kau tidak akan bisa melindungi siapapun tanpa jabatan tinggi yang kau punya. Setelah rencana pemberontakan berhasil, tentu saja kau akan langsung kuangkat menjadi Kapten yang memimpin ratusan ribu pasukan..."


"Jika kemampuan berpedangmu sangat payah, maka dengan terpaksa aku akan mengajarimu terlebih dahulu..."


"Aku orang asing, aku bisa saja memberontak padamu seperti yang kau lakukan pada Ayahmu sendiri," ucap Akash menimpali perkataan Zeki.


"Coba saja jika kau bisa melakukannya, aku menantangmu untuk menghancurkanku," ucap Zeki seraya tersenyum tipis menatapi Akash.


"Akupun berjanji akan menjaga mereka berdua," ucap Julissa ikut menimpali perkataan Zeki.


"Jika Sachi yang memintaku untuk melakukannya, maka aku akan melakukannya. Kau tidak tahu seberapa mengerikannya ketika Kaisar telah bertindak," ucapnya lagi seraya menatap penuh pada Akash.


"Akupun ingin sama seperti yang Pangeran Zeki katakan, aku ingin mempunyai keluarga yang dimana anak-anakku nantinya tidak harus takut lagi menanggapi aturan di Dunia ini..."


"Aku juga ingin anak-anakku kelak, dapat memilih pasangan mereka sendiri tanpa menunggu salah satu dari tunangan mereka kehilangan nyawanya. Karena walaupun hal itu menggembirakan, tetap saja masih terdapat duka yang mengiringinya..."


"Dan akupun tahu, jika kalian membagikan hasil curian kalian pada anak-anak terlantar. Aku telah mengawasi kalian sejak kalian masuk ke Kerajaan ini beberapa Minggu yang lalu," sambung Julissa ikut tersenyum dingin menatapnya.


"Kaisar bahkan tidak segan-segan membantai para Pangeran dan juga Putri, menurutmu apa yang akan dilakukannya pada anak-anak terlantar yang kalian urus?" Kualihkan pandanganku pada mereka berempat yang terlihat memperbesar ukuran mata mereka menanggapi perkataan Julissa.


"Darimana kau?"


"Jangan meremehkan kemampuanku dalam mengumpulkan informasi," sambung Julissa menanggapi perkataan Kabir padanya.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?"


"Terima tawaranku, atau mati di sini?!" ungkap Zeki, menoleh mereka berempat balik menatapnya.


__ADS_2