Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXX


__ADS_3

Langkah kakiku kembali terhenti di depan pintu, kuambil napas sedalam mungkin sebelum sebelah tanganku mengetuk pelan pintu yang ada di hadapanku itu, “Ayah, bisakah aku masuk?” Aku bersuara pelan seraya tanganku masih mengetuk pintu tersebut.


“Masuklah,” suaranya terdengar pelan di telingaku, aku berjalan masuk saat kedua tanganku membuka perlahan pintu itu. “Ayah,” ucapku menghentikan langkah menatapnya, Ayah berbalik menatapku dari kursi yang masih dia duduki dengan sebelah tangannya melambai padaku, “kemarilah,” ucap Ayahku kembali terdengar.


Aku berjalan mendekatinya dengan sesekali kedua mataku melirik ke arah Izumi yang menatapku dari kursi yang ia duduki, “Ayah,” ungkapku berlutut di samping kakinya, kedua tanganku meraih lalu menggenggam kuat kedua tangannya.


“Maafkan Sachi, Ayah. Maaf, jika sikapku tadi kepadamu sangatlah tidak pantas.” ucapku menunduk dengan meletakan keningku di kedua tangannya yang aku genggam tadi.


“Tidak perlu meminta maaf, Ayah paham benar apa yang kalian rasakan,” ucap Ayahku, dia menggerakan kedua tangannya mengenggam kedua tanganku lalu menciuminya, “seharusnya Ayah, yang harusnya meminta maaf kepada kalian,” ucap Ayahku kembali dengan sebelah tangannya bergerak mengusap pipi kiriku.


“Sebagai Ayah, aku tidak bisa memberikan tempat yang aman untuk anak-anakku sendiri. Sebagai Ayah, aku telah gagal menjaga kalian semua. Kalian masih memanggilku Ayah atas apa yang terjadi selama ini saja, sudah seperti sebuah anugerah untukku,” sambungnya dengan suara yang terdengar bergetar.


“Ayah,” kali ini suara Haruki terdengar, aku berbalik ke arah suara pintu yang terbuka disusul bayangannya yang masuk ke dalam ruangan, “jangan berkata seperti itu, Ayah,” ucapnya berjalan mendekati kursi yang ada di samping Izumi lalu mendudukinya.


“Ayah membuat perpisahan untuk kepulangan Ayah ke rumah menjadi menyedihkan,” kali ini Izumi menimpali perkataan Haruki.


“Kau tahu Ayah, apa yang menguatkan kami selama ini?” Haruki kembali bersuara dengan sedikit melirik ke arahku, “kami, saling menguatkan dengan mengingat semua kenangan yang kita lakukan dulu di Istana.”

__ADS_1


“Aaahh aku ingin sekali, menggoda Sachi kembali di hadapan Ayah saat nanti kami pulang kembali ke rumah. Aku, sudah tidak bisa menghitung … Sudah berapa kali kata-kata tersebut melintas di kepalaku,” Izumi kembali memotong perkataan Haruki.


“Karena itu Ayah, selama Ayah selalu sehat, selama Ayah selalu bahagia dan selama Ayah,” ucap Haruki terhenti sejenak, dia mengambil napas panjang sebelum melanjutkan kembali perkataannya, “selama Ayah, masih menunggu kami pulang ke rumah. Kami, akan baik-baik saja. Karena mungkin, kami bisa baik-baik saja seperti sekarang … Itu semua berkat do’a yang selalu Ayah lakukan,” sambung Haruki tersenyum menatapnya.


“Baiklah, Ayah tidak akan berbicara seperti itu lagi,” ucap Ayahku membalas tatapan Haruki dan juga Izumi, kugerakan kedua tanganku mengenggam kuat tangannya yang bergetar tersebut. “Ayah, tetaplah tampan dan juga sehat. Jangan terlalu memaksakan diri, jangan melupakan waktu makan … Karena Sachi ingin, jika kelak aku memiliki anak … Aku ingin Ayah dapat menggendongnya, aku ingin Ayah dapat mengajaknya berkuda, sama seperti yang Ayah lakukan kepada Sachi dulu,” ucapku terhenti, kutarik napas sedalam mungkin saat aku kembali menundukan kepala di pangkuannya.


“Aku menyayangimu Ayah. Aku menyayangimu lebih dari laki-laki yang aku kenal selama ini. Terima kasih karena telah menjadikanku Putrimu, aku … Tidak lagi merasakan kekurangan kasih sayang, itu semua berkatmu, Ayah. Itu semua berkat aku memilikimu sebagai Ayahku,” tangisku dengan meletakan sebelah telapak tangannya menyentuh pipi.


“Akhirnya dia menangis juga.”


“Lebih cepat dari yang aku perkirakan,” sambung Haruki menimpali perkataan Izumi.


“Ayah mengerti, kalian pun … Harus saling menjaga satu sama lain selama di perjalanan, segera beri kabar kepada Ayah jika terjadi sesuatu. Ayah akan selalu menunggu kalian pulang ke rumah,” ucapnya, Ayah tersenyum ketika sebelumnya dia mencium keningku.


_______________


Aku melangkahkan kaki di samping Ayahku, genggaman tanganku di lengannya semakin kuat saat gerbang pintu Istana semakin terlihat mendekat di pandangan. Aku dan Ayah berjalan berdampingan menyusuri anak tangga, dua buah kereta kuda berwarna hitam dengan atap emas berdiri kokoh di dasar anak tangga lengkap dengan berpuluh-puluh Kesatria berkuda yang mengelilinginya.

__ADS_1


Ayah menghentikan langkah kakinya, dia berbalik menatapku saat aku juga turut menghentikan langkah kaki di sampingnya, “Ayah menitipkan kedua Kakakmu itu kepadamu, Sachi,” ucap Ayahku dengan sebelah telapak tangannya menyentuh kepalaku, “kehebatan kedua kakakmu dalam bertarung … Memang tidak pernah Ayah ragukan. Akan tetapi, kau pasti paham apa yang Ayah maksudkan bukan?” Ayahku kembali berbicara dengan sedikit berbalik menatap Haruki dan juga Izumi yang tengah mengantarkan Luana dan juga Sasithorn mendekati salah satu kereta kuda.


“Aku mengerti Ayah, akan aku lakukan sesuai apa yang Ayah perintahkan,” ucapku menatapnya saat dia kembali membalikan tubuhnya menatapku. “Dan untukmu juga, jaga dirimu baik-baik. Jika di jalan kau ingin membeli sesuatu, atau kau membutuhkan sesuatu … Jangan ragu-ragu untuk memintanya langsung kepada Ayah,”sambung Ayahku kembali, dia meraih kepalaku, mendorongnya pelan mendekati wajahnya sebelum dia kembali mencium keningku.


“Laksanakan Ayah. Dan Ayah juga, berhati-hatilah sepanjang perjalanan,” ucapku menjinjit menciumi pipi kirinya saat dia menarik kembali tangannya yang menyentuh kepalaku sebelumnya.


Ayah kembali menepuk pelan kepalaku sebelum dia berbalik lalu melangkah berjalan mendekati Haruki dan juga Izumi, “Putri,” suara laki-laki terdengar dari arah belakangku.


Aku berbalik menatap Tsubaru yang telah berdiri di depanku, “ada apa Tsu nii-chan?” Tanyaku dengan melangkahkan kaki mendekatinya.


“Jaga dirimu baik-baik Putri. Jangan terlalu memaksakan diri, dan...” ucapnya terhenti dengan kepalanya yang menunduk berusaha menghindari tatapan mataku, “aku, akan mengirimkan surat kepadamu Tsu nii-chan. Pastikan, nii-chan membalasnya dengan cepat ketika nanti menerimanya,” ungkapku tersenyum menatapnya.


Tsubaru membungkukan tubuhnya di hadapanku dengan sebelah tangannya menyentuh di dada, “sesuai perintah darimu, Putri,” ucapnya kembali beranjak berdiri lalu tersenyum menatapku.


“Tsu nii-chan, maaf … Maaf karena selalu menyusahkanmu selama ini, terlebih lagi saat kami kabur dari penjagaan kalian beberapa bulan yang lalu,” ucapku dengan menundukan kepala menghindari tatapannya.


“Aku telah melupakannya. Pelayanmu ini sudah paham benar, Putri seperti apa yang ia besarkan,” ucapnya kembali padaku.

__ADS_1


Aku berjalan maju mendekatinya, kuangkat kedua tanganku meraih dan mengenggam kedua tangannya, “Tsu nii-chan, aku menitipkan Ayahku. Aku menitipkan Sora, dan aku menitipkan semua yang ada di dalamnya kepadamu. Mungkin terdengar sedikit egois, akan tetapi … Nii-chan, orang kedua yang sangat aku percayai setelah keluargaku,” ucapku terhenti, lama kutatap dia yang masih menatapku itu.


“Dan juga,” ungkapku kembali dengan melangkah semakin mendekatinya, “bantu aku untuk mencari tahu tentang...” Bisikku dengan sangat pelan kepadanya.


__ADS_2