
Aku duduk di tepi jurang dengan kedua mataku masih mengarah ke lautan, “apa kau telah melakukan apa yang aku perintahkan, Kou?” Tanyaku, kuangkat kepalaku sedikit mendongak ke atas, menatap bayangannya yang terlihat kecil di atas sana.
“Aku telah melakukannya, tapi apa … Yang sebenarnya ingin kau lakukan, My Lord?”
Aku kembali menurunkan pandangan, “hanya melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan,” gumamku pelan, aku menunduk dengan meraih seluruh rambutku lalu meletakkan semuanya di pundak kiri.
“Jika kau lelah terbang, Kou. Segeralah cari tempat di mana manusia tidak bisa melihatmu, lalu beristirahatlah di sana,” sambungku sambil menatap kembali ke arah lautan.
“Aku baik-baik saja,” jawab suaranya yang terlintas di kepala.
Aku menghela napas, pandangan mataku tertuju ke bawah, ke arah permukaan air laut saat sebuah ekor berwarna hitam keunguan kadangkala muncul ke permukaan air laut lalu tenggelam kembali. “Aku akan melakukan suatu dosa yang sangat besar, Tuhan. Tapi itu,” gumamku pelan sembari beranjak berdiri.
Aku mundur ke belakang beberapa langkah, “Itu kesalahanmu, karena membiarkan aku hidup di Dunia ini!” Teriakku dengan lantang sambil berlari lalu melompat dari atas jurang, “Kuro!” Aku kembali berteriak kuat memanggil namanya ketika tubuhku semakin cepat meluncur ke bawah … Mendekati permukaan laut.
Suara gemercik air menyentuh telingaku saat tubuhku telah terjatuh ke dalamnya, aku berenang mendekati Kuro yang telah menungguku saat kedua mataku telah kembali terbuka. Kuro mulai berenang saat aku mengusap lehernya, aku … Mengangkat sedikit kepalaku hingga hanya setengah wajahku saja yang tenggelam ketika Kuro berhenti bergerak tak jauh dari pesisir pantai.
Lama kutatap bibir pantai, aku menggenggam kuat tangan kiriku ketika mataku tak sengaja terjatuh pada sekerumunan pemuda yang tengah menyiksa seorang kakek tua hingga kakek itu jatuh terkulai di pasir pantai. “Kou, apa kau mendengarku? Lempar, ketiga laki-laki itu ke tengah samudera. Bekukan, mereka terlebih dahulu, sebelum tubuh mereka jatuh ke laut,” ucapku yang masih mengarahkan pandangan ke arah para pemuda itu.
“Sesuai perintah darimu, My Lord,” jawab Kou yang kembali melintas di kepala.
Aku melirik ke atas, ketika para pemuda itu mulai berlari kocar-kacir meninggalkan kakek tadi. Kou mengejar satu per satu pemuda itu, dia mencengkeram dua pemuda di kakinya sedangkan satunya lagi tak berkutik, terbaring di mulut Kou. Aku melepaskan rangkulan tanganku di leher Kuro, lalu berenang mendekat ke bibir pantai.
__ADS_1
Aku berjalan lalu berjongkok mendekati kakek tadi, kuarahkan telapak tanganku mendekati hidungnya yang patah oleh kelakuan pemuda itu. “Napasnya, lemah sekali,” bisikku pelan sambil melirik ke sekitar.
Aku kembali beranjak berdiri, aku berbalik menatap langit yang menghampar di atas lautan, “cepatlah kembali, Kou!” Tukasku sembari menggigit ujung jempol tangan kananku.
Aku menoleh ke belakang saat suara gemerasak terdengar, dengan cepat aku berlari menuju laut lalu membenamkan diriku di sana. Kuarahkan pandanganku ke arah beberapa pemuda yang berjalan mendekati tubuh sang kakek, pemuda-pemuda itu tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari sesuatu, atau mungkin seseorang ... Sebelum salah satu dari mereka menginjak kuat wajah sang kakek.
“My Lord, mereka telah datang,” bisikan Kou di kepalaku membuat aku kembali tersadar.
Aku kembali melirik ke arah kakek tersebut yang tubuhnya telah dibawa entah ke mana oleh para pemuda tadi, “aku mengerti, aku akan segera ke sana,” ucapku, sembari berbalik lalu berenang mendekati Kuro.
Kuro membawaku berenang cepat membelah lautan hingga aku bisa melihat buih-buih kecil yang melintas di samping saking cepatnya ia berenang. Kuro dengan cepat menghentikan tubuhnya saat satu pasukan duyung telah berenang di hadapan kami.
“Salam, My Lord,” ucap mereka bersamaan, mereka membungkukkan tubuhnya ke arahku dengan sebelah tangan mereka menyentuh perut yang langsung berbatasan dengan ekor.
“Apa, yang harus aku lakukan untuk membantumu, My Lord?” Dia balik bertanya menatapku.
“Buatlah sebuah bencana saat tengah malam, hancurkan mereka semua yang tinggal di sana!” Perintahku kepadanya dengan menunjuk ke arah kerajaan.
Raja Duyung itu membelalakkan matanya menatapku, “kau ingin aku memusnahkan mereka?” Dia balik bertanya.
“Aku bisa saja memerintahkan Kou, tapi itu hanya akan menarik perhatian Kaisar. Karena itu, aku membutuhkan bantuan kalian. Karena jika kalian yang melakukannya, hal itu hanya akan dianggap sebagai bencana biasa.”
__ADS_1
“Kenapa? Apa kau, ingin menolak perintahku?” Tukasku kembali padanya, aku sedikit berenang ke atas lalu berhenti lagi dengan menatapi mereka, “buatlah ombak setinggi yang kau bisa, sangat tinggi jika perlu … Aku ingin, Kerajaan itu musnah, menghilang dari peradaban, dan juga … Usahakan, untuk jangan membiarkan siapa pun hidup setelah terseret ombak yang kau buat. Jika kau tak ingin, bangsa duyung berurusan dengan Kaisar. Apa kau mengerti apa yang aku katakan?!”
“My Lord, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Tanyakan saja,” ucapku singkat kepada Raja Duyung yang bersuara.
“Kenapa, kau melakukannya? Bukankah, kalian melakukan ini untuk menyelamatkan manusia lainnya?”
“Apa mereka terlihat seperti manusia untukku?” Aku balik bertanya yang dijawab dengan pandangan matanya yang membesar ke arahku, “aku tidak ingin, menghirup udara yang sama seperti mereka. Jadi, lakukan saja sesuai perintah dariku!” Ucapku lagi sembari kembali berenang mendekati permukaan.
Tubuhku tiba-tiba terangkat ke atas, aku melirik ke bawah, melirik ke arah ekor Kou yang telah melilit tubuhku. Kou mengangkatku ke atas punggungnya, ia membawaku terbang menjauhi permukaan laut. Kuarahkan pandangan mataku, melirik pada Matahari yang sedikit membenamkan dirinya di ujung lautan, sinar kemerahan yang terpancar darinya … Membuat langit semakin terlihat damai.
Aku mengangkat kembali tubuhku yang sebelumnya bersandar di leher Kou ketika langit di sekitar telah menggelap. Aku melirik ke arah bibir pantai, semakin lama aku menatapnya … Ombak yang membentur pantai semakin menghilang, seakan semua ombak yang ada tertarik kembali ke laut.
Suara bergemuruh terdengar kuat, bahkan terdengar jelas di telingaku yang terbang di udara. Aku kembali melirik ke arah pantai saat titik-titik api kecil berjalan mendekatinya. Kou terbang sedikit merendah hingga aku dapat melihat jelas kerumunan warga yang berdiri di bibir pantai dengan sebuah obor menyala di masing-masing tangan mereka.
Aku melingkarkan lengan di leher Kou saat mataku menatap mereka yang lari tunggang-langgang menjauhi pantai, bahkan beberapa dari mereka membuang obor yang ada di tangan mereka begitu saja. Aku melirik ke samping saat suara gemuruh itu kian terdengar. Teriakan dari mereka yang ada di bawah memekakkan suasana malam, bercampur dengan suara gemuruh yang kian mendekati mereka.
Ombak tinggi menerjang mereka, meluluh-lantakkan beberapa rumah dan pohon yang ada di sana. Satu ombak mereda, ombak lainnya yang lebih tinggi datang menyusul. Begitu seterusnya hingga tak butuh waktu lama, tempat itu berubah menjadi lautan.
__ADS_1
“Katakan kepada mereka Kou! Aku menginginkan ombak yang lebih tinggi untuk menenggelamkan mereka semua,” ucapku bersandar di leher Kou sambil memperhatikan semua yang terjadi di bawah.