
"Solana, apa kau melihat benang berwarna merah yang aku letakkan di keranjang," ucapku menatapnya yang tengah berjalan dengan sebuah cangkir di tangannya.
"Aku tidak tahu, mungkin burung kecil itu yang memainkannya. Gaunku saja sempat robek dipatuknya," ucap Solana melangkah mendekati kursi di sampingku lalu mendudukinya.
"Apa kau ingin aku menjahit robekan di gaunmu itu?"
"Tidak perlu, Tuan Costa sudah berjanji akan membelikan gaun baru untukku. Lagipun, untuk apa kau merajut pakaian kecil-kecil ini, apa kau ingin memberikannya pada hewan?" Ungkapnya meraih pakaian rajut yang aku siapkan untuk Lux.
"Aku ingin membuatkannya untuk Kakakku, tapi aku masih belum terlalu mahir. Jadi, aku mencoba membuatnya dalam bentuk kecil-kecil seperti itu dulu," ungkapku tersenyum menatapnya.
"Lalu, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Tuan?"
"Maksudmu Costa?" Ucapku yang dibalas dengan anggukan kepalanya.
"Tidak ada hubungan apapun di antara kami. Lagipun, aku sangat mendukung kalian berdua," ucapku kembali menggerakkan jari-jemariku merajut syal kecil untuk Lux gunakan.
"Kau, lugu atau bagaimana?!" Ungkapnya, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sedikit merasa kasihan pada tunangan yang selalu kau ceritakan itu," ucapnya menggerakkan tubuhnya bersandar di kursi.
"Memang kenapa? Apa yang harus dikasihani padanya," ucapku kembali, kuambil pisau kecil yang ada di meja seraya kugerakkan pisau tadi memotong benang yang aku pakai merajut.
"Aku tidak tahu. Aku merasa iri padamu, aku juga ingin dicintai oleh seseorang," ungkapnya memejamkan matanya.
Aku tidak tahu, sudah berapa lama kami disini. Hubungan antara aku dan Solana semakin membaik, ya... Walaupun, aku sempat membuat hidungnya mimisan dahulu, karena suatu salah paham di antara kami. Tapi sekarang, aku malah berteman baik dengannya, tugasku mengurusi semua keperluan di sini sedikit terbantu olehnya.
Haruki, Izumi maupun Eneas membantu Costa mengurusi tokonya yang ada di sini. Bahkan, toko yang ia punya sekarang meraup banyak keuntungan karena Haruki sendiri yang ikut terjun membantu menyelesaikan semua masalah yang sempat membuat Costa kesulitan mengelola tokonya.
__ADS_1
Biasanya mereka akan pulang sore hari, saat itu... Aku telah mempersiapkan semua keperluan mereka. Air hangat untuk mereka mandi, makanan maupun minuman untuk mengisi tenaga mereka kembali.
Uki? Dia tumbuh semakin besar di bawah pengawasan Lux. Awalnya kami sempat takut, karena dia selalu tidur dahulu. Bahkan aku dan Lux bergantian berjaga agar tubuhnya tetap hangat.
Itu dulu, sekarang... Ia sudah mulai belajar terbang, kami bahkan menanam bunga di dalam ruangan agar Lux dapat leluasa mengambil nektar untuk Uki konsumsi. Dahulu, tubuhnya hanya sebesar ibu jariku, sekarang ia mulai sedikit bertumbuh hingga menyamai telapak tangan Kakakku.
Chirp... Chirp.
Terdengar suaranya mengetuk telinga, kugerakkan kepalaku berbalik menatapnya yang telah berdiri menatapku dari atas tangga. Kemana Lux? Apa dia keluar kamar tanpa sepengetahuan Lux?
"Uki!" Teriakku menatapnya, ditatapnya aku dengan sedikit kicauan yang ia keluarkan.
"Kemarilah," ungkapku, kuarahkan telapak tanganku melambai ke arahnya.
"Chirp, chirp," ucapnya bergerak melompat dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya.
Imutnya.
"Chirp... Chirp," ucapnya ketika kurasakan benda halus menyentuh kakiku.
"Uki, kau pandai sekali," ucapku mengangkat tubuhnya yang berdiri menatapku di samping kakiku.
"Apa kau lapar?" Ucapku kembali, kugerakkan jari telunjukku menyusuri bulu-bulu halus berwarna kemerahan yang memenuhi tubuhnya.
"Kami pulang," terdengar suara Eneas diikuti suara pintu terbuka yang ikut terdengar.
"Kalian sudah pu..." Ucapku terhenti, kugerakkan tubuhku beranjak berdiri menatapi mereka.
"Izu nii-chan, apa yang terjadi padamu? Lenganmu," ucapku berjalan mendekatinya, kugerakkan sebelah tanganku meraih lengannya yang terluka.
__ADS_1
"Aku hanya sedikit terlibat perkelahian, tak perlu dikhawatirkan," ucapnya berjalan melewati lalu duduk di salah satu kursi.
"Uki, apa kau baik-baik saja hari ini," tukas Haruki yang telah setengah berjongkok di hadapanku.
"Chirp, chirp."
"Imutnya," tukas Haruki meraihnya dari tanganku, digerakkannya pipinya mengelus-elus kepalanya Uki.
"Chirp, chirp," ucapnya kembali, ditatapnya Izumi yang tengah duduk di kursi dengan sangat lama.
"Kau ingin membantu Izumi?" Ucap Haruki, berjalan ia membawa Uki yang ada di tangannya mendekati Izumi.
"Apa yang kau lakukan Haruki?" Tukas Izumi saat Haruki menggerakkan tubuh Uki mendekati luka yang ada di lengannya Izumi.
"Dia ingin membantumu. Apa kau ingin menolak kebaikannya?"
"Uki, kau bisa melakukannya sekarang," ucap Haruki kembali, kutatap dia yang tersenyum lebar menatapi Uki.
Aku berjalan mendekati mereka, kutatap Uki yang tengah menggerakkan wajahnya semakin mendekati lengan Izumi yang terluka. Berkali-kali matanya berkedip-kedip berusaha mengeluarkan sesuatu, ikut kutatap dia dengan suara gemuruh jantung yang memenuhi tubuh.
"Chirp, chirp," ucapnya bergerak menjauh dari lengan Izumi dengan kepala tertunduk.
"Tidak perlu memaksakan diri. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku," ucap Izumi menggerakkan jari telunjuknya mengusap kepalanya Uki.
"Kau telah melakukannya dengan sangat baik. Tumbuhlah sedikit lebih besar, dan bantu kami jika salah satu dari kami terluka," ucap Haruki tersenyum menatapnya.
"Kau kemarilah," ucap Izumi, kugerakkan kepalaku mengikuti pandangannya.
Tampak terlihat seorang anak kecil berdiri di belakang Costa, tubuhnya penuh luka dengan pakaian sobek penuh noda yang ia kenakan. Tubuh kecilnya terlihat semakin kecil dengan beberapa ruas tulang yang terlihat di pundaknya, rambutnya yang hitam tampak terlihat mengeras dengan beberapa bekas tanah yang menempel. Mata abu-abu nya menatapku dengan tatapan sendu...
__ADS_1
Tunggu, mata abu-abu?
"Kami menemukannya, saat laki-laki tua menyeret tubuhnya untuk dijual ke pelelangan," ucap Izumi yang terdengar bergetar di telinga.