
"Kenapa kami harus melakukannya?" Ucap salah satu laki-laki yang berasal dari rombongan kami.
"Karena hewan atau lalat ini tidak seperti lalat pada umumnya, mereka suka menghisap darah. Dan jika sebelumnya dia menghisap darah mereka yang memiliki penyakit tersebut, tak lama kemudian lalat itu menghisap darahmu, sudah dipastikan... Kau akan tertular penyakit yang sama seperti yang mereka alami, apa kau menginginkan hal itu terjadi kepadamu?" Ucapku berjalan mendekatinya, laki-laki tersebut tertunduk dari atas kuda yang ia tunggangi.
"Cia," ucapku kembali berjalan mendekati Cia yang berdiri di samping Izumi.
"Jangan dibuka. Apa kau mengerti?!" Ucapku meraih jubah yang ia kenakan, kugerakkan jubah tersebut semakin menutupi tubuhnya.
"Jangan dibuka," ucapku sekali lagi sembari kugerakkan kedua tanganku saling bersilang di hadapannya.
"Eneas, kau juga," ucapku beranjak berdiri, kutatap Eneas yang menarik penutup kepala pada jubah yang ia kenakan setelah ia mengangguk menatapku.
Aku kembali berbalik melangkah mendekati perempuan paruh baya tadi. Kugenggam tangan perempuan tersebut dengan sangat kuat, dia semakin tertunduk dengan sesekali mengarahkan pandangannya menatapi anak laki-laki yang terserang penyakit itu...
"Yang terjadi pada kalian selama ini, bukanlah kutukan," ucapku, tampak terdengar bisik-bisik samar dari sekitar.
"Penyakit yang kalian derita ini, sebenarnya berasal dari hewan lalat yang sering terbang di sekitar sini. Lalat tersebut sedikit berbeda dari lalat yang sering ada di luar sana, dan sebenarnya lalat itu hanya ada di daerah gurun seperti tempat ini," ucapku kepadanya.
"Jika lalat itu menggigit mu, kau akan tertular penyakit itu. Penyakitnya akan terlihat setelah beberapa tahun, dan bisa juga akan langsung terlihat hanya dalam hitungan pekan. Dan penyakit ini, salah satu penyakit yang mematikan," sambungku, kurasakan genggaman tangan perempuan tersebut menguat.
__ADS_1
"Lalu, apakah Nona dapat menyembuhkan kami?" Ucap perempuan paruh baya itu, ikut kuarahkan pandanganku melirik ke arah beberapa warga desa yang juga telah beranjak berdiri di sampingku.
"Maaf, aku tidak bisa melakukannya," ucapku menjawab pertanyaannya, perempuan tersebut terlihat semakin tertunduk di hadapanku.
"Aku, hanya dapat memberikan saran kepada kalian, agar tak jatuh korban yang lainnya," ucapku menatapi mereka bergantian.
"Aku tahu, cuaca di sini sangatlah panas. Akan tetapi, jika kalian tak menutupi tubuh dengan kain yang tebal, lalat itu akan dengan mudahnya menggigit tubuh kalian," ucapku, kutatap mereka yang hanya menutupi bagian vital mereka dengan sebuah kain yang terbuat dari kulit hewan.
"Dan juga, jangan mengenakan pakaian yang terlalu berwarna terang ataupun yang terlalu gelap. Karena itu, akan memancing mereka untuk mendekati kalian."
"Sebenarnya, aku lebih menyarankan jika kalian pergi saja dari sini. Temukan tempat yang layak huni selain di sini," ucapku kembali kepada mereka yang diam tertunduk.
"Kami, tidak akan meninggalkan tempat ini," suara laki-laki yang kuat terdengar mengejutkanku.
"Tempat ini berbahaya untuk kalian tinggali," ucapku membalas tatapan laki-laki tua itu.
"Kami telah tinggal di sini sejak dahulu. Kami tidak akan pergi kemana pun!" Laki-laki tua itu bersikeras dengan berkacak pinggang menatapku.
"Jika kau ingin mati mengenaskan, mati saja sendirian Pak Tua," teriakan salah satu laki-laki dari rombongan kami menimpali percakapan di antara kami.
__ADS_1
"Jaga perkataanmu!" Teriak laki-laki tua itu kembali, kugerakkan telapak tanganku ke arah laki-laki dari rombongan kami yang hampir melompat turun dari atas kuda yang ia tunggangi.
"Baiklah, kami tidak akan memaksa kalian untuk pergi dari sini. Akan tetapi, jangan salahkan kutukan yang tak ada wujudnya itu, tapi salahkan keangkuhan kalian yang setelah diberitahu tapi terlalu sombong untuk mendengarkannya," ucapku berbalik berjalan meninggalkan mereka.
"Apa yang kau katakan itu benar?" Ucapan seorang laki-laki menghentikan langkah kakiku, kutatap laki-laki bernama Akintunde tersebut yang telah beranjak berdiri setelah Jabari meninggalkannya.
"Untuk apa aku membohongi kalian? Apakah aku mendapatkan keuntungan melakukan hal tersebut?" Ucapku balas menatapnya.
"Aku mengerti. Kalian semua, bawa semua barang-barang berharga. Kita akan berpindah kembali," ucap Akintunde dengan sedikit berteriak ke arah laki-laki yang menjadi warga desanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Laki-laki tua itu kembali meninggikan suaranya, Akintunde dengan jalan yang gontai mendekati laki-laki tua tadi.
"Dengarkan aku Tetua! Aku Ketua desa ini, aku akan menyelamatkan nyawa mereka semua, jika kami yang telah tertular tidak bisa disembuhkan... Maka yang belum tertular, berhak untuk sehat," ucap Akintunde berdiri di hadapan laki-laki tua itu.
"Apa kau lupa?! Perjanjian kakek buyut kita pada Kekaisaran?!" Ucap laki-laki tua itu kembali, Akintunde diam tertunduk tanpa sedikitpun suara yang keluar.
"Yang berjanji pada Kekaisaran adalah mereka yang telah meninggal bukan? Apakah kalian yang hidup sekarang ini, berjanji hal yang sama padanya?" Ucap Haruki, bisik-bisik kembali terdengar di antara mereka.
"Jika kalian ingin hidup, jadilah egois. Jika kalian ingin mati bersama, jadilah orang baik yang melupakan dirinya sendiri," ucap Haruki lagi, dia berjalan mendekati kuda miliknya lalu menaikinya.
__ADS_1
"Hanya ini yang dapat kami bantu, semua keputusan... Berada di tangan kalian sendiri," ucapku ikut berjalan mendekati kuda milikku.
"Aku tidak tahu, perjanjian apa yang kalian lakukan pada Kekaisaran. Akan tetapi, bertahan hidup bukanlah suatu dosa ataupun kesalahan. Justru, menyia-nyiakan kesempatan untuk hiduplah... Dosa dan kesalahan terbesar dalam hidup," ucapku kembali kepada mereka yang masih diam tertunduk bisu.