Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXV


__ADS_3

Aku duduk bersandar pada kursi berkaki pendek yang ada di dekat api unggun, kedua mataku tertuju pada bara-bara api kecil yang terbang tertiup angin di sekitar api unggun tersebut. “Sachi nee-chan!” Suara teriakan anak perempuan memanggil namaku membuat pandangan mataku teralihkan.


“Cia!” Aku balas berteriak memanggil namanya dengan kedua tanganku terbuka lebar ke arahnya. Cia berlari mendekat, kupeluk kuat tubuhnya saat dia menggerakan tubuhnya memelukku. “Bagaimana keadaanmu?” Aku mendongakkan kepala ke atas, menatap Luana dan juga Sasithorn yang telah berdiri di hadapanku.


“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan keadaan kalian?” Aku balik bertanya saat mereka telah bergerak duduk di sampingku. “Kami juga baik-baik saja. Kami membawakan makanan untukmu,” ucap Luana, dia menggerakan kepala ke arah bungkusan yang ada di tangan Sasithorn.


“Kami sebenarnya ingin membawakanmu makanan sejak awal, akan tetapi,” ucap Sasithorn terhenti, kutatap dia yang menundukan kepalanya di samping Luana. “Aku mengerti, tidak perlu meminta maaf,” ucapku meraih bungkusan yang disodorkan Sasithorn ke padaku.


“Kalian telah datang?” Suara laki-laki ikut terdengar, “Bibi Gritav, kami juga membawakan makanan untukmu,” ucap Luana tersenyum menatapnya.


“Aku benar-benar menunggu ini, meminum sup setiap malam … Benar-benar membuat lidah jadi mati rasa, aku benar bukan, Hime-Sama?” Ucap Gritav duduk di sebelah kiri tubuhku, dia tersenyum saat aku menoleh ke arahnya.


“Apa Kakakku yang meminta kalian ke sini?” Aku bertanya seraya kepalaku kembali bergerak menatap Luana dan juga Sasithorn bergantian. “Benar, dia meminta kami untuk memberikan semangat pada Adiknya,” ucap Luana yang disambut anggukan kepala yang Sasithorn lakukan.


“Terima kasih, untuk makanannya,” ucapku menundukan kepala, kugerakan kedua tanganku membuka bungkusan tadi, “akhirnya, bukan sup lagi,” ucapku saat kubuka salah satu wadah berisi penuh daging bakar di dalamnya.


“Apa aku boleh memakan semuanya?” Tanyaku kepada mereka bergantian.


Luana mengangguk saat pandangan mataku mengarah ke padanya, “itu memang khusus untukmu. Kami telah menyiapkan makanan lagi di sana untuk yang lainnya,” ucap Luana dengan mengangkat ibu jarinya mengarah ke belakang.

__ADS_1


“Jika begitu, terima kasih untuk makanannya,” ucapku kembali menatapi wadah bertumpuk penuh makanan yang ada di atas pahaku itu.


____________________


Aku kembali melangkahkan kaki melewati para Kesatria yang masih berkutat menyusun senjata-senjata yang akan kami gunakan. Kedua kakiku semakin cepat melangkah menyusuri tangga saat terdengar suara berisik dari atas benteng … Aku membalas tatapan dari para Kesatria yang menggerakan kepala mereka satu per satu padaku.


“Ada apa?” Tanyaku saat melangkahkan kaki semakin mendekati mereka, “Hime-Sama, lihatlah!” Tukas salah satu Kesatria menatapku, kugerakan kedua kakiku berbalik lalu melangkah semakin mendekati bagian depan benteng.


“Ke mana semua pasukan musuh?” Aku menggerakan kepala kembali menatapi mereka. “Mereka telah menghilang sejak pagi,” ucap laki-laki lainnya. “Segera cari kabar mengenai pasukan yang lain!” Perintahku dengan nada suara yang sedikit meninggi.


“Hime-Sama,” suara laki-laki terdengar terputus-putus memanggilku. “Ada apa?” Tanyaku pada seorang Kesatria yang tampak terengah-engah mengatur napas di hadapanku.


“Gawat, ini gawat Hime-Sama,” ucap laki-laki itu kembali menatapku dengan wajahnya yang pucat pasi. “Apanya yang gawat? Jelaskan semuanya kepadaku!” Aku kembali membentak Kesatria tersebut.


Benteng Selatan, Gritav mengatakan jika kemarin sudah hampir setengah dari benteng tersebut hancur. Walaupun kakakku yang memimpin pertempuran langsung melawan mereka, tetap saja…


“Gritav, aku memerintahkanmu untuk memimpin pasukan ini!”


“Hime-Sama, jangan katakan…” Perkataan Gritav terhenti, dia membalikan tubuhnya menatapku, “aku, akan menolong Kakak dan juga Adikku,” ucapku membalas tatapannya.

__ADS_1


“Adofo bawa beberapa pasukan mengikutiku, kita akan pergi membantu benteng Selatan. Jika mereka hancur, kita pun akan mengalami hal yang sama,” ucapku dengan sedikit meninggikan suara.


Kedua kakiku bergerak cepat menuruni anak tangga, aku berlari mendekati kuda milikku yang diikat bersamaan dengan kuda milik Kesatria yang lain. Tubuhku bergerak cepat menaiki kuda milikku itu saat tali kekang yang mengikatnya aku lepaskan. Kugerakan kuda yang aku tunggangi itu berbalik melangkah mendekati pasukan Kesatria yang telah berbaris di belakang Adofo.


“Adofo, tuntun kami semua ke benteng Selatan!” Perintahku kepadanya, Adofo menganggukan kepalanya lalu berjalan mendekati kuda miliknya.


Kuda milikku berlari cepat mengikuti Adofo yang menunggangi kuda miliknya di depan kami, Adofo membawa kami melewati jalan-jalan yang ada di sekitar rumah-rumah warga, “ini jalan tercepat untuk sampai ke sana,” ucap Adofo yang menggerakan kuda miliknya itu berbelok tajam menghindari sebuah gubuk lapuk yang ada di hadapan kami.


Aku ikut menarik tali kekang yang mengikat kuda milikku saat Adofo menghentikan kuda miliknya, pandangan mataku membesar saat kutatap beberapa pasukan musuh yang telah menyelinap masuk ke dalam lubang yang ada di dinding benteng. “Tunggu apalagi kalian! Habisi mereka semua yang berusaha menyelinap masuk!” Aku kembali berteriak, ikut terdengar suara teriakan dari para pasukanku yang berada di belakang disusul oleh pasukan berkuda milikku yang berlari mendekati pasukan musuh dengan pedang di masing-masing tangan mereka.


“Adofo, lindungi aku!” Aku meninggikan suara kepada Adofo yang menunggangi kuda miliknya di hadapanku.


Kugerakan kepalaku menatap sekitar, kugigit kuat ibu jariku seraya berusaha memikirkan rencana apa yang akan aku lakukan untuk mengusir mereka semua. Aku sedikit melirik ke arah Adofo yang mengayunkan tombak besar yang ia genggam kepada para musuh yang silih berganti menyerang ke arahnya.


Apa yang harus aku lakukan?


“Hime-Sama, jangan terlalu memikirkan apa pun. Segera selamatkan dirimu!” Adofo meninggikan suaranya, tombak miliknya semakin cepat menebas pasukan musuh yang ada di dekatnya.


Aku melompat turun dari atas kuda, kedua kakiku berlari cepat menghindari beberapa Kesatria musuh yang mengejarku. Kugerakan kedua kakiku mendekati pedang yang masih menancap di mayat salah satu pasukan kami, kutarik pedang tersebut hingga tercabut dari tubuh mayat tadi saat kedua kakiku masih bergerak berlari ketika melakukannya.

__ADS_1


Aku berbalik menggerakan pedang milikku menghalau anyunan dari pedang yang diayunkan oleh Kesatria musuh. Aku bergerak ke samping kiri, saat pedang miliknya, ia ayunkan dengan sangat kuat hampir menebas kepalaku. Aku menunduk dengan mengarahkan pedang milikku tadi ke depan, pedangku itu menggores perutnya dengan sigap kugerakan pedang tersebut menggunakan kedua tanganku hingga perut Kesatria tadi terbelah besar di hadapanku.


Aku berjalan mundur menghindarinya, Kesatria tadi menggenggam perutnya sebelum dia terjatuh ke tanah. Aku kembali berjalan dengan pedang yang sudah berlumuran darah tadi di tangan kananku, “menunduk Hime-Sama!” Tubuhku terhentak saat teriakan laki-laki tersebut mengetuk telingaku.


__ADS_2