Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXXVIII


__ADS_3

Aku berjalan lalu duduk berjongkok di samping Izumi yang tengah meniupkan udara di api yang ia buar, “di mana Haru-nii dan juga Eneas?” tukasku sambil melemparkan beberapa daun kering ke dalam titik api yang Izumi buat.


“Mereka sedang berburu, bersama Fabian dan juga Lucio,” tukas Izumi, aku kembali melirik ke arahnya yang tiba-tiba terdiam menatapi nyala api kecil di depan kami.


“Jadi-”


“Jadi?” tanyaku mengulangi apa yang ia katakan, saat sebelumnya ia sempat berhenti berbicara sejenak.


“Apa yang kalian berdua bicarakan?”


“Maksud nii-chan, ketika aku mengajak Pangeran itu berbicara?”


Izumi menoleh ke arahku, “kendalikan dirimu, lalu percayakan saja kepadanya. Aku tahu, apa yang sebenarnya kau khawatirkan.”


Keningku mengerut membalas tatapannya, “apa yang kau maksudkan, nii-chan?”


“Perempuan itu, kau khawatir jika Haruki jatuh cinta kepadanya, bukan? Kau takut, kakakmu itu tertarik hanya karena wajah mereka sama, bukan? Kau tahu, Sachi … Saat dulu, ketika aku bertanya kepada Ayah, kenapa Ayah menikahi Ibu? Apa kau tahu, apa jawaban dari Ayah?”


Aku masih terdiam, belum menjawab apa yang ia tanyakan. “Aku, hanya menikahi perempuan yang menurutku pantas menjadi Ibu dari anak-anakku,” tukas Izumi sebelum membuang kembali pandangannya ke arah api, “dan aku yakin. Haruki pun, sekarang memiliki pemikiran yang sama seperti Ayah. Dia saja selalu melakukan hal yang terbaik agar adik-adiknya bisa mendapatkan hidup yang baik, hal yang sama … Akan ia lakukan kepada anaknya sendiri, mungkin bahkan lebih baik dari apa yang ia lakukan kepada kita.”


“Kalaupun nanti, dia menemukan perempuan yang akan menjadi Ibu sambung untuk anaknya. Itu pasti perempuan yang terbaik, dari yang terbaik yang ia pilih. Kau mengerti apa yang kakakmu ini maksudkan, bukan?”


“Aku mengerti. Nii-chan, kau memang yang terbaik,” tukasku yang sedikit beranjak dengan memeluk erat dirinya.


“Apa kau harus memelukku seperti ini?”


“Ini hadiah untuk kakakku tersayang, yang telah kembali mencerahkan pikiranku,” ucapku yang tersenyum setelah sebelumnya menciumi pipinya.


“Lakukan saja hal tersebut dengannya,” ungkap Izumi, wajahku sedikit bergerak ke pinggir ketika dia mendorongnya menggunakan telapak tangan.

__ADS_1


“Aku tentu akan melakukan hal tersebut dengannya. Namun, dengan cara yang berbeda.”


Kepalaku tertunduk dengan kedua tangan terangkat menutupi kening saat Izumi memukul keningku itu dengan jari-jemarinya, “nii-chan, kau menolak kasih sayangku?”


“Aku menolaknya, aku sangat menolaknya,” tukasnya sambil melambaikan telapak tangannya ke arahku.


“Ayolah, kakakku yang tersayang. Kakakku yang paling hebat, kau sungguh mengagumkan.”


“Hentikan semua kata-kata palsumu itu. Aku sungguh-sungguh merinding mendengarnya.”


Aku beranjak dengan sedikit tertawa sebelum berbalik meninggalkannya, “aku akan, memberitahukan kelemahanmu itu pada Kak Sasithorn. Berikan aku, sepuluh kalung permata untuk menutup mulutku yang mungil ini,” tukasku yang kembali tertawa dengan terus berjalan meninggalkannya.


“Kau sudah kaya-raya, untuk apa kau meminta hal tersebut padaku?!”


“Mau bagaimana lagi? Aku terlahir sebagai manusia yang bersemangat jika itu menyangkut benda-benda berkilau. Jadi nii-chan, sepuluh dengan warna dan bentuk yang berbeda,” jawabku dengan kembali tertawa tanpa menoleh ke arahnya.


Aku terus berjalan, hingga lirikan mataku terjatuh ke arah Pangeran Vartan yang terlihat melihatku dari kejauhan. Aku menarik napas dalam, sebelum langkahku itu berhenti di depan Alana yang tengah duduk menyandarkan dirinya di pohon dengan kedua kakinya yang lurus sejajar ke depan. “Bagaimana keadaanmu?” tanyaku sambil duduk berjongkok di dekatnya.


“Benarkah? Sepertinya sudah diobati,” tukasku yang sempat terhenti sejenak dengan mengangkat lengannya.


“Gael, yang telah merawat saya sebelumnya,” ungkapnya yang kembali terdengar pelan.


“Baiklah, beristirahatlah yang banyak. Perjalanan kita masihlah panjang,” ujarku, aku mengangkat tangan menepuk pelan pundaknya sebelum kembali beranjak lalu berjalan meninggalkannya.


Aku kembali duduk tak terlalu jauh dari Izumi, sesekali aku mengangkat kepalaku ke atas, menangkap bayangan dari dedaunan rimbun yang tumbuh di pepohonan. “Ada yang mendekat, Sachi,” suara Lux yang pelan terdengar, membuatku kembali tersadarkan.


“Nii-chan!”


Aku segera mengatupkan bibir ketika Izumi mengangkat jari telunjuknya itu di depan bibirnya. Aku sedikit beranjak, berjalan pelan mendekati Izumi yang juga telah beranjak berdiri. “Apa kau juga merasakannya?”

__ADS_1


Aku menggeleng pelan menjawab perkataannya, “Lux, yang memberitahukan aku hal ini.”


“Banyak mata yang mengawasi kita. Jadi Sachi, apa kau masih sanggup berlari?”


“Aku masih sanggup. Tapi bagaimana dengan mereka?”


“Aku hanya bisa melindungimu, aku … Tidak bisa melindungi kalian berempat sekaligus. Jadi,” tukas Izumi, aku melirik ke arah telapak tanganku yang telah digenggam olehnya.


“Lux, ke arah mana yang aman?”


“Larilah ke arah kiri kalian, Izumi!”


“Baiklah. Sekarang Sachi!”


Kakiku ikut terasa tertarik ketika Izumi menarik kuat tanganku untuk berlari mengikutinya. Izumi, tak memberikan kesempatan untuk kami berhenti berlari, walau beberapa anak panah tiba-tiba menancap di tanah yang ada di depan kami. Genggaman tanganku pada Izumi semakin menguat saat kami mulai memasuki rimbunnya pepohonan, tubuhku dengan cepat bergerak ke samping saat kurasakan rangkulan di pinggangku itu menarik kuat tubuhku untuk bergerak mengikutinya.


Aku terduduk ketika rangkulan di pinggangku tadi menarik tubuhku ke bawah, mataku melirik ke arah Izumi ketika salah satu telapak tangannya bergerak menutupi bibirku. Izumi semakin menarik tubuhku ke belakang, semakin bersandar pada celah pohon besar ketika bunyi derap langkah terdengar menggebu mendekati tempat kami bersembunyi.


Aku masih terdiam, Izumi semakin erat menutup mulutku ketika pandangan mataku itu terjatuh ke arah Alana, Vartan dan juga Gael yang berlari melewati pohon besar yang menyembunyikan keberadaan kami. Di belakang mereka … Sosok-sosok yang berlari mengejar mereka itu, yang justru membuat tubuhku kaku sejenak. Beberapa puluh laki-laki tanpa mengenakan sehelai pakaian, mengejar mereka dengan kapak dan juga potongan batang bambu di tangan mereka.


Keadaan semakin mencekam, oleh suara riuh yang mereka keluarkan. Mereka berteriak, seakan-akan seperti hewan yang mencoba untuk meminta bantuan kawananannya. Beberapa dari mereka sempat berhenti, dengan menggerakkan potongan bambu yang ada di tangan mereka ke mulut. Saat mereka melakukannya, sesuatu seperti anak panah dengan ukuran lebih kecil yang sempat aku lihat sebelumnya … Meluncur kuat dari dalam potongan bambu tersebut.


Aku menepuk punggung telapak tangan Izumi yang menutupi bibirku itu, “melelahkan sekali,” gumamku pelan saat Izumi melepaskan telapak tangannya yang membekap mulutku sebelumnya.


“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”


Aku menoleh ke arahnya yang sudah mendongakkan kepalanya ke atas, “tentu saja mendatangi tempat tinggal mereka,” tukasku menjawab pertanyaan Izumi.


“Dengan melihat bagaimana mereka tadi, kita pasti sudah tahu betapa membahayakannya mereka, bukan?” ungkapnya dengan geram menatapku.

__ADS_1


“Justru yang berbahaya seperti mereka itu, calon sekutu yang baik untuk kita,” jawabku sembari beranjak berdiri dengan menepuk-nepuk pakaianku yang sedikit kotor saat berlari.


__ADS_2