
Aku duduk berjongkok di hadapannya setelah memakai kembali pakaian di tubuhku, “apa yang harus aku sembunyikan?” bisikku pelan di samping telinga perempuan tadi.
“Apa kau ingin aku menyembunyikan, jika kau menghina perempuan tersebut sebagai perempuan tua di hadapan Yang Mulia kesayanganmu itu?” sambungku berbisik, aku mencoba menahan senyum saat suara isakan darinya kian terdengar.
“Yang Mulia, akan mengeksekusi saya jika engkau melakukannya. Saya mohon,” tukasnya terdengar dengan suara terputus-putus yang mengetuk telingaku.
Aku sedikit mundur dengan tersenyum menatapnya, “aku tidak akan melakukannya. Apa kau lihat hewan besar tadi?” tanyaku, aku mengangkat tanganku mengusap bawah matanya yang sembab.
“Selama dia ada di sini, tidak akan ada yang bisa mengeksekusimu tanpa seizinku. Namun, aku tidak akan melakukannya secara percuma,” ungkapku, kedua matanya membesar menatapku saat aku tersenyum membalas tatapannya.
“Aku hanya ingin, kau menceritakan apa yang terjadi di sini! Semuanya, hanya ceritakan saja padaku … Dan aku, akan menjamin keselamatanmu. Namun, jika kau tidak ingin melakukannya … Aku akan mengatakan pada Yang Mulia, kalau kau mengejek perempuan memakai gaun merah muda yang ada di belakangnya. Yang kau maksudkan itu, perempuan yang memakai gaun merah muda itu, bukan?” Perempuan yang terisak di depanku itu, menggigit kuat bibirnya saat aku kembali tersenyum menatapnya.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”
“Karena aku tidak tertarik padanya, aku sudah menikah,” ucapku sambil menunjuk ke arah telinga yang ada ukiran namaku dan Zeki di sana, “suamiku yang gagah menunggu kepulanganku. Jadi, jika kau membuat waktuku tertunda untuk bertemu dengan suamiku kembali, kau akan menyesalinya. Jadi, cepatlah ceritakan padaku apa yang kau ketahui!” ancamku sambil beranjak berdiri lalu duduk di samping busur panah milikku yang bersandar di kursi.
“Yang Mulia, merupakan Pangeran bungsu … Bisa dikatakan, dia adalah adik dari Putri Sasithorn. Karena semua pewaris tahta telah meninggal ketika mengunjungi Kekaisaran, yang tersisa hanyalah-”
“Aku mengerti. Lanjutkan!” perintahku kembali ketika perkataannya terhenti.
“Apa Nona, mempercayai hubungan terlarang di antara Ibu dan Putranya?”
Mataku sempat membesar saat mendengarkan apa yang ia katakan, “kau ingin menipuku? Dia memiliki enam pendamping termasuk dirimu, bukan?”
Dia tersenyum dengan sedikit tertunduk, “penampilan luar seringkali menipu. Kami, hanya dijadikan sebagai pagar yang menutupi aib mereka dari Kerajaan luar. Dia memenjarakan kami, dengan cara memberikan keperawanan kami kepada Kesatria yang menjadi kepercayaannya. Siapa yang akan menerima perempuan yang telah kehilangan kehormatannya, hal itu mustahil untuk kami yang tidak memiliki status bangsawan,” air matanya kembali jatuh saat ia menggigit bibirnya lagi.
__ADS_1
“Aku berteriak, karena tidak ingin ada perempuan lagi yang mengalami apa yang kami alami.”
Aku menarik napas dalam, “beranjaklah! Dan berikan jubah milikku itu kembali!" ucapku sambil mengangkat telapak tangan ke arahnya.
Dia mengikuti apa yang aku perintahkan, “apa kau ingin pergi dari sini? Dengan menjalani kehidupan yang lebih baik, kehidupan di mana kau bisa menjadi dirimu sendiri,” ucapku ikut beranjak dengan mengenakan kembali tas dan jubah milikku yang ia berikan.
“Apa ada tempat seperti itu di dunia ini?”
Aku membungkuk meraih busur dan tabung anak panah milikku sembari kembali menyilangkannya di pundak, “tentu, aku menjamin adanya tempat itu.”
"Nona, jika yang Nona katakan itu, benar. Maka, saya akan mengatakannya sekali. Harap Nona mendengarkannya baik-baik."
"Apa itu?" Aku balas bertanya dengan sedikit mengerutkan kening menatapnya.
"Kelemahan dari Yang Mulia."
Kedua kakiku melangkah mengikutinya dari belakang, dia semakin menundukkan kepalanya saat kami semakin mendekati mereka, yang masih duduk terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Haruki melirik ke arahku ketika aku sudah kembali duduk ke tempatku semula, “bagaimana kak? Apa diskusi kalian masih berlanjut?” ucapku pelan dengan melemparkan tatapan kepada Haruki.
Haruki membuang pandangannya ke arah pemuda, atau yang mereka sebut dengan Yang Mulia itu, “aku tidak menemukan apa pun yang aku inginkan di sini,” sambung Haruki dengan kembali mengarahkan tatapan matanya kepadaku.
“Kenapa, kalian tidak menginap sedikit lebih lama di sini?” ungkapnya dengan menyunggingkan bibirnya menatap kami berdua bergantian.
“Apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu selama aku pergi?”
“Aku mengatakan, jika Izumi sebagai seseorang yang pernah bertunangan dengan Putri Sasithorn. Ingin menjalin kerja sama di antara Kerajaan kita sebagai ucapan belangsungkawa atas apa yang terjadi dengan Raja terdahulu, para Ratu dan Pangeran berserta Putri.”
__ADS_1
“Benarkah? Jika seperti itu, bisakah kau memberikan salah satu perempuanmu untuk menjadi pelayanku?”
“Yang bertunangan dengan Putri Sasithorn adalah kakakku, tapi aku hanya sekali bertemu dengannya waktu itu. Aku tidak bisa menerima perjanjian yang sebelumnya tidak aku hadiri, karena itu … Berikan aku salah satu di antara mereka, aku memerlukan pelayan perempuan untuk memenuhi semua keperluanku di Istana,” ungkapku tersenyum membalas tatapannya yang mengarah tajam kepadaku itu.
“Aku menginginkan perempuan yang mengantarku tadi, dia bersikap tidak menyenangkan saat aku hanya ingin bertanya sesuatu. Jika kau tidak ingin memberikannya untuk kuperintah, maka aku tidak akan menyetujui perjanjian itu … Atau, berikan perempuan yang bergaun merah muda itu, dia terlihat dewasa … Aku yakin dia bisa mengurus kami dengan ba-”
Aku menghentikan perkataanku saat pemuda itu beranjak menatapku. “Sachi,” ikut terdengar suara Izumi yang aku abaikan.
Aku masih duduk dengan tersenyum menatapnya, tampak juga lirikan sinis mengarah kepadaku yang dilakukan oleh perempuan bergaun merah muda yang aku sindir. “Apa kau tidak tahu? Udara di sini sangat panas, berbeda sekali dengan rumahku. Katakan ya atau tidak, aku tidak suka jika ditolak,” ungkapku yang ikut beranjak berdiri membalas tatapan pemuda tadi.
"Kau hanyalah seorang perempuan."
"Aku memanglah perempuan, namun aku diperlakukan sangat berbeda dibanding perempuan mana pun," balasku dengan turut memperbesar bola mataku sepertinya yang membelalakkan matanya kepadaku.
“Kou, kemarilah! Urusanku di sini telah selesai,” gumamku pelan dangan tetap menatapnya.
“Adikku sangatlah keras kepala, jika dia menginginkan sesuatu maka dia harus mendapatkannya. Dibandingkan kami bertiga, Ayah kami lebih menyayanginya melebihi apa pun. Membuatnya kecewa, aku tidak menyarankannya,” ucap Haruki yang menimpali perkataanku, aku kembali melirik ke arahnya yang juga telah beranjak berdiri dari kursinya.
“Aku, akan mengirimkan surat kepada Ayah kami, untuk mengirimkan utusan yang akan membawakan surat perjanjian hubungan dagang di antara kita. Kami harus melanjutkan perjalanan secepat mungkin, jadi bagaimana?”
Pemuda itu berbalik menoleh ke arah perempuan yang sebelumnya berbicara denganku. Aku tersenyum kecil saat perempuan itu menoleh ke arahku, “tapi, tapi Yang Mulia.”
“Jangan membantah perintahku! Lakukan saja, demi Wattana!” bentaknya yang membuat pandangan perempuan itu kian tertunduk.
“Bagus sekali, aku bahagia. Mendekatlah, calon pelayanku. Bersiaplah, untuk menerima penderitaan yang akan aku pastikan … Kuberikan kepadamu,” timpalku yang kembali tersenyum menatapnya.
__ADS_1
“Yang Mulia, pikirkan baik-baik … Apa Yang Mulia tidak merasa aneh dengan apa yang terjadi di sini?” Aku melirik ke arah perempuan berbaju merah muda, ia berbicara pelan dengan pemuda tersebut sambil meletakkan tangannya menyentuh pundak si pemuda.