
"Nii-chan kau sengaja melakukannya bukan?" ucapku berjalan di samping Haruki, menoleh aku menatapnya yang tengah menatap lurus ke depan.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan."
"Kau sengaja membahas Zeki di hadapannya bukan? Bagaimana jika Zeki juga ikut datang ke sana? Apa kau ingin membunuh Adikmu sendiri?" ungkapku lagi seraya kuangkat telapak tanganku meraih lengannya.
"Ada aku dan Izumi, kau tidak akan mati di tangan salah satu dari mereka," ungkapnya seraya tetap mengabaikan pandanganku.
"Kenapa juga kita harus menerima ajakan Aydin yang ingin mengantarkan kita ke sana menggunakan kapalnya. Aku bisa memanggil Kou, dan itu lebih bisa menghemat waktu jika kau ingin..."
"Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kita? Kau ingin meninggalkan kuda putihmu itu di sembarang tempat?" ucapnya memotong perkataanku, menoleh ia seraya tersenyum menatapku.
"My Snowy," ucapku berjongkok seraya kututup wajah menggunakan kedua lenganku.
"Lagipun, jika ada tumpangan percuma, kenapa juga harus kita tolak," ucapnya kembali sembari terdengar suara langkah kaki menjauh.
"Terima saja nasibmu," ikut terdengar suara Izumi disertai tepukan pelan di kepalaku.
_________________
Kusandarkan lenganku pada papan di sisi samping kapal seraya kupandang air laut yang menghampar di hadapanku. Berkali-kali kuraih rambutku yang terbang menyamping tertiup angin...
"Selamat pagi, Putri," terdengar suara laki-laki di samping kananku, menoleh aku ke arahnya yang tersenyum menatapku dengan sebelah lengan menopang dagunya di papan.
"Apa terjadi sesuatu? Jangan mengajakku berbicara jika itu bukan perkataan yang penting," ucapku mengalihkan pandangan darinya.
"Seperti biasa, dingin... Sedingin Monster yang kau punya."
"Kau tidak harus ikut kami ke sana, kenapa juga kau sampai menawarkan diri pada kedua Kakakku," gumamku kesal seraya kuangkat sebelah telapak tanganku menopang dagu.
"Bukankah lebih cepat jika melewati jalur laut? Lagipun jika kau menikah denganku nanti, maka ini kesempatan bagus untukmu membiasakan diri."
"Aku tidak akan menikah denganmu."
"Kau tidak bisa tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
"Aydin, tidak bisakah kau berhenti membahasnya?" ucapku seraya menoleh menatapnya.
__ADS_1
"Jika kau setuju, maka aku akan berhenti membahasnya," ungkapnya tersenyum menatapku.
"Harusnya aku meminta Kou menelan hidup-hidup tubuhmu kemarin," ungkapku kembali mengalihkan pandangan darinya.
"Apa Zeki itu lebih tampan dariku?"
"Dia seorang Pangeran, tentu dia tampan. Tapi bukan itu yang membuatku peduli dan jatuh hati padanya, dia selalu menunjukkan sesuatu langsung dengan perbuatannya. Melihatnya berkerja keras selama ini... Membuatku tidak tertarik pada laki-laki lain," ungkapku seraya tersenyum menoleh ke arahnya.
"Heh, kau ternyata bisa tersenyum sangat manis seperti itu," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya dariku.
"Benarkah?" ucapku seraya mengangkat kedua telapak tangan memijat-mijat pipiku.
"Sa-chan," teriak suara laki-laki, menoleh aku ke arahnya yang berjalan mendekati.
"Ada apa nii-chan?" ungkapku kembali mengalihkan pandangan menghindarinya.
"Apa kau menghindariku?"
"Bagaimana mungkin Adikmu yang lemah ini menghindar darimu," sambungku seraya tetap menatap lurus ke depan.
"Aku baru saja mendapat surat dari Zeki, apa kau tidak ingin membacanya?"
"Heh, kau ingin bermain denganku?" ucapnya kembali seraya ikut terdengar suara langkah kaki mendekati.
"Bagaimana jika aku membuang perhiasan milikmu ke dalam laut," bisiknya di samping telingaku.
"Lakukan saja, itu berarti kita akan kehilangan sebagian penopang hidup kita selama perjalanan," ucapku kembali seraya tetap membuang pandangan darinya.
"Kau tidak ingin mendengarkanku lagi?"
"Bagaimana denganmu sendiri nii-chan? Apa kau mendengarkan pendapat dariku?"
"Aku lelah, aku ingin beristirahat," ucapku seraya berbalik dan berjalan melewatinya.
Kulangkahkan kakiku melewati lorong kapal, berhenti aku di depan pintu kamar yang kami tempati. Kubuka pintu tersebut seraya berjalan masuk aku ke dalam...
Kugerakkan tanganku ke belakang menutup pintu tadi, melangkah aku mendekati ranjang kayu yang ada di dalamnya seraya menelungkup berbaring aku ke atasnya...
__ADS_1
Terdengar suara pintu terbuka, kututup kedua mataku beriringan dengan suara pintu tadi. Kurasakan sesuatu menyentuh dan mengusap kepalaku...
"Sachi," terdengar suara Izumi, aku masih diam membisu... Mataku masih terpejam, enggan untuk terbuka.
"Jangan mengabaikan Haruki seperti itu, kau tahu bagaimana dia sangat peduli padamu bukan?"
"Dia tidak ingin mengambil risiko, perjalanan ke Kerajaan Balawijaya sangatlah jauh. Kami tidak bisa menjamin bahaya seperti apa yang akan terjadi jika kita menempuh jalur darat..."
"Kita bisa saja menggunakan Kou, tapi semakin lama Kou berada di dunia manusia, semakin buruk juga untuk kesehatanmu..."
"Dia memang terlihat kejam dari luar, tapi kau yang paling tahu bagaimana rapuhnya kakakmu yang satu itu. Dia akan melakukan apapun untukmu, kau adik yang paling dia sayang..."
"Karena itu, jangan mengabaikannya. Dia Kakakmu juga, dia bersikap acuh padamu bukan berarti dia tidak mempedulikanmu, melihatmu terluka bukan berarti perasaannya tidak ikut terluka. Seorang Kakak mungkin akan membiarkanmu pergi menjauh, tapi bukan berarti dia tidak akan mengawasimu..." ucapnya lagi disertai helaan napas.
"Kau mengerti apa yang aku maksudkan bukan?" sambungnya kembali.
Beranjak aku duduk di sampingnya, kupeluk Izumi seraya kuletakkan kepalaku di bahunya. Kurasakan tepukan-tepukan pelan di kepalaku yang dilakukan olehnya...
"Apa kau akan terluka jika aku melakukan hal itu kepadamu nii-chan?"
"Tentu, aku akan terluka jika diabaikan oleh adik kesayanganku," ucapnya lagi padaku.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Dia berdiri di depan pintu, dia memintaku untuk menenangkanmu. Berbicaralah dengannya," bisik Izumi di telingaku.
Kulepaskan pelukanku pada Izumi seraya beranjak berdiri aku dari atas ranjang. Kulangkahkan kakiku mendekati pintu dengan sangat perlahan seraya kuraih dan kuputar gagang pintu yang ada di hadapanku...
Kutatap lama Haruki yang tertunduk berdiri di samping kamar, sesekali diangkatnya kepalanya menatap ke atas. Melangkah aku mendekatinya seraya menoleh ia ke arahku...
"Haru-nii," ucapku seraya kuarahkan tanganku memeluk tubuhnya.
"Maaf, aku tidak memikirkan perasaanmu," ucapku lagi sembari kubenamkan kepalaku di dadanya.
"Apa kau masih marah padaku?" ucapnya, menggeleng aku pelan menjawab perkataannya.
"Maaf, aku tidak memikirkan perasaanmu juga Sa-chan," ucapnya lagi, kurasakan tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lalu apa isi surat yang kau katakan tadi, nii-chan?" ungkapku seraya kuangkat kepalaku menatap padanya.