Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXVII


__ADS_3

"Rencana?" ucap Adinata.


"Tidak bisa disebut rencana juga sih, hanya saja..."


"Ini akan sedikit berguna jika kita menghadapi musuh lebih dari dua," sambung Zeki seraya duduk berjongkok di hadapanku.


"Apa maksudmu?" tukas Izumi ikut menatapinya.


"Kita bersepuluh bukan? buat saja satu orang fokus melindungi satu orang lainnya, dengan begitu fokus kita tidak akan terbagi ketika dikepung musuh yang jumlahnya sangat banyak."


"Kalau begitu, aku akan melindungimu Julissa," ucapku menatap ke arahnya.


"Kau akan langsung berada dibawah perlindunganku," ucap Zeki, diapitnya daguku menggunakan jempol dan jari telunjuknya seraya ditariknya hingga berbalik aku menatapnya, tersenyum ia dingin menatapku.


"Dia akan berada dibawah perlindunganku," sambung Izumi ikut berbicara.


"Apa kalian berdua ingin mengabaikan tunangan kalian masing-masing, calon kakak ipar?" ungkap Zeki mengalihkan pandangannya ke arah Izumi dan Haruki, tersenyum ia menatap mereka.


"Jika kau membiarkan musuh melukainya, aku sendirilah yang akan membunuhmu," ucap Haruki balas menatap tatapan Zeki.


"Laksanakan," ungkap Zeki mengalihkan pandangannya kepadaku.


"Aku akan melindungi Luana, Izumi akan melindungi Sasithorn, Zeki melindungi Sachi, kau Adinata akan melindungi Julissa, dan kau Danur... kau akan melindungi Arion," ucap Haruki kembali seraya menatap kami satu persatu.


"Apa ada yang keberatan?" sambungnya.


"Jika tidak ada, kita akan langsung mencari tempat berlindung," lanjutnya kembali seraya berjalan menjauh.


"Apapun yang terjadi, jangan berdiri terlalu jauh dariku. Apa kau mengerti?" ucap Izumi menatap Sasithorn, dibalasnya perkataannya tersebut oleh anggukan kepala dari Sasithorn.

__ADS_1


Berjalan kami mengikuti jejak langkah kaki Haruki, Zeki sendiri berjalan dibelakangku dengan pedangku tergantung di pinggangnya sedangkan pedang miliknya sendiri berada tak bergerak di genggamannya.


Kutatap Julissa, Luana, dan juga Sasithorn yang tampak terengah-engah mengikuti jejak yang lain menaiki bukit. Kualihkan pandangan mataku ke sebelah kanan tubuhku, berhenti aku melangkah seraya menatap kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke udara.


"Nii-chan, lihatlah kesana," ucapku seraya menunjuk kearah kepulan asap hitam tersebut.


"Danur, apa kau merasakan sesuatu dari arah sana?" ucap Haruki.


"Ti-tidak ada," jawab Danur membalas pertanyaan Haruki.


"Haruskah kita kesana? bukankah Kaisar sendiri yang mengatakan jika kita dapat melakukan apapun kepada rekan maupun musuh kita," tukas Adinata, berbalik aku seraya menoleh kearahnya yang tampak duduk berjongkok menatap arah yang aku tunjukkan.


"Lagipun, kita tidak tahu itu sebuah jebakan atau bukan," sambungnya lagi.


"Apa kau melihat sesuatu Izumi?" ucap Haruki menatap ke arah Izumi yang meletakkan telapak tangannya di atas kedua matanya.


"Aku tidak tahu, mataku hanya berfungsi melihat dalam kegelapan bukan melihat sesuatu dari jarak yang jauh," ucapnya, diturunkannya telapak tangannya tadi dari atas matanya.


"Jika kau bertanya padaku, tentu aku akan langsung mengeceknya. Daripada menduga-duga sesuatu yang tidak jelas dan membuat langkah kita terhambat, bukankah lebih baik langsung memeriksa kebenarannya..."


"Kalaupun benar itu sebuah jebakan, berarti mereka bodoh sekali," sambung Zeki ikut menatap ke arah kepulan asap tersebut.


"Apa maksudmu?" lanjut Adinata menatap ke arahnya.


"Mudah saja, jika yang dikatakan tunanganku itu benar. Bahwa banyak hewan berbahaya di sekitar sini, itu berarti mereka mengundang kematian mereka sendiri," ucap Zeki seraya meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku.


"Apa kalian tidak mengerti maksud dari perkataanku?" ungkapnya seraya menatap kami satu persatu.


"Aku tidak menyangka jika kau sampai dapat berpikir jauh ke arah sana," ucapku menatapnya.

__ADS_1


"Manisnya perkataan dari tunanganku ini," ucapnya, dicubitnya pipiku dengan sebelah tangannya.


"Jadi yang kau maksud, kita tidak akan menyalakan api untuk bertahan hidup?" sambung Adinata.


"Tubuh manusia sendiri seperti halnya sumber panas, jadi menyalakan api ataupun tidak... Tak ada bedanya," ucapku.


"Sakit," sambungku menepuk tangan Zeki yang mencubit pipiku, dilepaskannya cubitan dipipiku olehnya.


"Tapi bukankah lebih bagus jika kita dapat mengajak mereka bekerja sama, setidaknya kita dapat meningkatkan daya bertarung kita menjadi dua kali lipat dari sekarang," ungkapku lagi seraya mengusap-usap pipi kananku.


"Tapi semuanya kami kembalikan lagi kepadamu nii-chan, kau yang memimpin kelompok ini," ucapku menatap Haruki


"Kita akan mengeceknya langsung, jangan turunkan kewaspadaan kalian," ucapnya seraya melangkahkan kaki ke arah kepulan asap yang tak setebal sebelumnya.


Jalan kami menuruni bukit yang kami daki sebelumnya, tanah yang basah hampir membuat beberapa dari kami tergelincir. Digenggamnya telapak tanganku oleh Zeki, berjalan ia di depanku seraya lurus menatap ke depan.


Langkah kaki kami terhenti, Sasithorn berteriak kuat seraya menyembunyikan wajahnya di punggung Izumi. Kutatap Julissa dan juga Luana yang gemetar memandang pemandangan mencekam di hadapannya...


Bercak darah berhamburan dimana-mana diikuti tercecernya sebuah benda-benda bergumpalan, berjalan Adinata mendekati benda tersebut.


"Ini usus," ucap Adinata seraya menyentuh benda tersebut dengan sarung yang ada di pedangnya.


"Bagaimana kau mengetahuinya," ungkap Julissa dengan suara bergetar.


"Karena beberapa rakyat kami suka memakan usus yang berasal dari hewan," sambungnya menjawab pertanyaan Julissa.


"Kemarilah kalian!" teriak Zeki yang sudah berada di samping sebuah pohon besar.


Melangkah kami mendekatinya, tubuhku terasa lemas melihat apa yang ada dihadapan kami. Kugenggam lengan pakaian Zeki dengan telapak tanganku yang penuh dengan keringat, Luana sendiri terduduk lemas di tanah, sedangkan Julissa menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Bisakah kita segera pergi dari sini? Aku takut sekali," tangis Sasithorn seraya menggenggam kuat pakaian Izumi.


"Kita tidak bisa hanya meninggalkan mereka dengan keadaan seperti itu," ungkap Izumi seraya melirik ke arah kami satu persatu.


__ADS_2