Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXVI


__ADS_3

Aku menutup mulut menggunakan telapak tangan, saat bibirnya itu menyusuri pangkal telingaku lalu menurun hingga ke leherku. Kugigit kuat bibir saat suara desahan tak sengaja keluar dari bibirku itu. Zeki kembali menatapku, tangannya meraih lalu menciumi tanganku yang sebelumnya aku gunakan untuk menutup mulut. Wajahnya bergerak semakin mendekati, bibirnya yang mengecup bibirku itu, terasa sangat berbeda kali ini … Saat ikut kurasakan, jari-jemarinya yang mengelus seluruh leherku.


“Jangan menahannya! Aku, ingin mendengar suaramu,” ungkapnya menatapku dengan matanya yang nanar.


Tubuh Zeki beranjak diikuti jari-jemarinya yang menarik tali pita di gaun tidurku. Kedua tanganku terangkat menutupi tubuh saat dia sedikit menyingkap gaun yang aku kenakan itu ke samping, “jangan menatapku seperti itu,” ucapku pelan dengan sedikit membuang tatapan ke samping.


“Kenapa?” tanyanya, aku kembali melirik ke arahnya saat dia mengangkat tangan kananku, “kau, selalu terlihat cantik di mataku apa pun yang terjadi,” sambungnya dengan tangannya yang lain mengangkat tangan kiriku.


“Sachi,” ucapnya pelan sambil menyatukan kedua tanganku itu, lalu dengan pelan ia mendorongnya hingga kedua tanganku tersebut terangkat melewati kepala, “aku, sangatlah benci … Jika laki-laki lain menjatuhkan pandangannya kepadamu,” ucapnya lagi, aku berusaha melirik ke arah tangannya yang lain, yang bergerak membuka pakaian dalam yang menutupi dadaku itu.


“Namun aku, lebih tidak menyukai jika kau melirik laki-laki lain,” sambungnya, napasku semakin tak beratur saat jari-jemarinya itu bergerak menelusuri tubuhku.


Aku mengangkat kedua tanganku merangkul kepalanya saat tangannya yang sebelumnya menahan kedua tanganku itu ia lepaskan. Kepalaku mendongak ke atas, napasku semakin menjadi-jadi, suara lirih keluar dari bibirku … Saat isapan, gigitan hingga jari-jemari Zeki yang tak berhenti memainkannya.


Napasku masih tersengal saat isapannya di dadaku itu berhenti. Mataku menerawang ke atas, aku sudah sulit untuk memikirkan apa pun … Yang aku sadari hanya, kedua kakiku yang merapat, diikuti rasa basah yang mengalir. “Sachi,” aku melirik ke arahnya yang menatapku dengan telapak tangannya menyentuh pelan pipiku.


“Suaramu yang barusan benar-benar sangat terdengar menggoda di telingaku,” sambungnya dengan tersenyum menatapku.


Aku mengangkat tanganku ke atas, lalu meraih dan melemparkan bantal yang ada di dekat kepalaku ke wajahnya. Dia tertawa kecil sebelum wajahnya bergerak mendekati, dengan bibirnya yang mengecup lembut bibirku. “Aku akan melanjutkannya kembali,” bisiknya lirih sambil ikut kurasakan kecupannya lagi yang kini berpindah di kelopak mataku.


Aku mengangkat kedua lengan menutupi mata, sebisa mungkin aku mencoba untuk kembali mengatur napas. “Angkat pinggulmu! Aku sedikit kesulitan untuk melepaskannya,” ucap suaranya yang terdengar diikuti elusan yang kurasakan di area bagian bawah perutku.

__ADS_1


Aku mengikuti apa yang ia katakan, sedikit aku mengangkat lenganku, mencoba untuk menatapnya yang tengah menundukkan pandangannya diikuti kedua tangannya yang menarik pelan celana dalam yang aku kenakan menjauh dari kedua kakiku. Jantungku kembali bergemuruh saat kurasakan elusan dari telapak tangannya menyusuri lutut hingga ke pangkal pahaku.


Kuarahkan kembali tatapan mataku ke arah Zeki yang menundukkan kepalanya sambil menarik ikatan tali di celananya. “Kau ingin ke mana?” tukasnya ketika aku hendak beranjak pergi meninggalkannya.


Aku berbalik menatapnya dengan tatapan memohon saat dia memegang erat tanganku, “aku menarik kata-kataku. Bisakah kita tidak melanjutkannya?” tukasku yang kembali memejamkan mata saat tatapan mataku tak sengaja terjatuh ke benda miliknya itu.


“Kau ingin mundur? Setelah membuatku seperti ini?”


“Mau bagaimana lagi, bisa-bisa aku tidak bisa berjalan lagi jika kau memasukkan benda itu,” aku hampir menangis dengan menggigit kuat bibirku membalas tatapannya.


“Sebenarnya apa yang kau makan sampai sebesar itu,” aku menarik kuat napas dengan sebelah tangan mengusap mata.


“Jangan katakan kau pernah melihatnya sebelumnya?”


“Aku,” ucap Zeki sambil mencubit kuat pipiku, “tidak bisa menahan diri lebih lama dari ini. Kau ingin pasrah? Atau aku harus memaksamu?”


“Aku mengerti,” jawabku sembari mengusap pipi saat cubitannya di pipiku terlepas.


Aku berbalik lalu membaringkan tubuhku kembali menghadapnya, aku menutup kedua mataku menggunakan telapak tangan saat kedua kakiku kulebarkan. “Ah,” ucapku tanpa sadar, aku mengangkat lagi tatapanku menatapnya yang terdengar mendecakkan lidahnya.


“Ada apa?”

__ADS_1


Zeki mengembuskan napasnya, kepalanya hanya menggeleng pelan tanpa menjawab perkataanku. Masih kutatap dia yang menggerakkan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Zeki merangkak ke samping lalu beranjak turun dengan melangkahkan kakinya mendekati meja rias. “Itu, itu minyak kemiri. Apa kau lupa?” tukasku saat kutatap dia menuangkan minyak kemiri yang ada di dalam guci kecil.


“Apa kau, ingin membuat benda milikmu itu ditumbuhi banyak rambut?”


Zeki melirik tajam ke arahku dengan tangannya yang kembali meletakkan guci kecil itu ke atas meja sebelum dia berjalan kembali mendekati ranjang. “Hentikan ocehanmu yang tidak berguna itu. Aku sekarang, sudah tidak bisa berpikir jernih,” jawabnya yang bergerak merangkak lalu kembali setengah berdiri di dekat kakiku.


Mataku sedikit membelalak, bibirku ikut terbuka saat kurasakan suatu nan keras bergerak perlahan mengusapi tubuh bagian bawahku tersebut. Semakin lama usapan itu kurasakan, semakin itu juga pinggulku kadang kala bergerak sendiri tanpa aku sadari. Tanganku kembali terangkat menutup bibirku yang mulai meracau, mengeluarkan berbagai suara diikuti tubuhku yang kian memanas beriringan dengan detak jantungku dan napasku yang tambah memburu.


Aku menggigit kuat bibirku diikuti sebelah tanganku yang lain mencengkeram kuat lengan Zeki, “apa sakit?” Kepalaku mengangguk pelan membalas tatapan dan ucapannya itu.


“Hanya sedikit lagi, aku akan melakukannya dengan sangat perlahan. Apa kau bisa menahannya?”


“Bisakah, melakukannya sambil aku memelukmu?”


Zeki tersenyum diikuti tubuhnya yang sedikit bergerak hingga wajahnya berada tepat di hadapanku. Aku mengangkat kedua tanganku memeluk erat tubuhnya, desahan kecil darinya yang keluar menyentuh telingaku mengiringi rasa sakit yang kian bertambah saat kurasakan perasaan penuh yang menyelimuti anggota tubuhku tersebut.


Tubuhku tersentak, teriakanku tak sempat keluar saat bibir Zeki sudah terlebih dahulu mengatup bibirku. “Ini sakit sekali, rasanya sama saat kulitku terbelah oleh pisau," rintihku sambil mencengkeram kuat pundaknya yang aku peluk.


“Lihat aku, lihat aku!” tukas suaranya itu, pandangan mataku semakin jelas saat dia mengusap kedua mataku tersebut.


“Rasa sakitnya akan segera menghilang. Kau percaya padaku, bukan?” ungkapnya setengah berbisik sembari kurasakan beberapa kali kecupan darinya menyentuh pipiku.

__ADS_1


Napasnya berembus pelan menyentuh kulitku saat dia kembali mengangkat wajahnya menatapku, “aku, akan mulai menggerakkannya. Jadi, jangan menahan apa pun … Entah itu suara atau apa, keluarkan saja semuanya. Kau paham, bukan?” sambungnya lagi seraya sebuah kecupan lembut mengiringi perkataan yang ia ucapkan.


__ADS_2