Fake Princess

Fake Princess
Chapter DVIII


__ADS_3

Aku kembali beranjak duduk dengan menundukkan kepalaku menatap kain putih yang menyelimuti kaki. Kugerakkan wajahku, menoleh ke arah Tsubaru yang lelap tertidur dengan duduk bersandar di dinding. Kuangkat kedua kakiku ke samping kasur sembari kakiku tadi bergerak melangkah mendekati pintu, “Putri, mau ke mana di malam hari seperti ini?”


Aku tertegun dengan melirik ke arah lenganku yang telah digenggam kuat olehnya, “aku tidak bisa tidur. Suara dari arah bawah terlalu berisik,” ucapku dengan melirik ke arah lantai ketika suara tawa banyak sekali laki-laki kembali terdengar.


“Ini sudah terlalu larut Putri, terlalu berbahaya untuk berjalan ke luar,” tukasnya yang telah beranjak berdiri di sampingku.


“Tsu nii-chan, tinggal menemaniku saja jika khawatir,” ucapku dengan membalas tatapannya yang masih terpaku kepadaku.


Tsubaru menghela napas sebelum dia berbalik lalu duduk berjongkok merogoh tas miliknya, dia kembali beranjak dengan sebuah selimut tebal di kedua tangannya yang ia arahkan padaku. Aku meraih selimut tadi sebelum berjalan mundur ketika dia bergerak membuka pintu kamar tersebut untukku.


Aku melangkah melewatinya ketika Tsubaru membungkukkan tubuhnya. Aku membuka lipatan selimut tadi lalu kututup tubuhku tadi menggunakan selimut tersebut dengan kedua kakiku yang terus saja berjalan maju menyusuri lorong kapal. Aku semakin menarik selimut itu hingga menyelimuti tubuhku dengan sangat erat ketika lorong tersebut berakhir yang digantikan dengan langit malam menghias sekitar.


Sesekali aku menarik rambutku yang sempat tertiup angin sebelum kakiku melangkah mendekati tong-tong kayu yang berjejer rapi di samping kapal. Aku menaiki salah satu tong dengan kedua mataku menatap ke arah kegelapan yang membentang sejauh mata memandang. “Apa terjadi sesuatu kepadamu, Putri?”


Aku menoleh ke arah Tsubaru yang telah berdiri di sampingku, “banyak. Banyak yang terjadi,” ucapku dengan kembali membuang pandanganku ke depan.

__ADS_1


Aku menghela napas dengan menundukkan kembali pandanganku, “nii-chan, apa kau pernah kehilangan kepercayaan terhadap seseorang?” gumamku dengan tetap tertunduk.


“Aku pernah,” jawabnya yang membuatku kembali mengangkat pandangan menatapnya.


Tsubaru bergerak mengangkat sebelah kakinya diikuti kedua tangannya membuka sepatu yang ia kenakan hingga sepatu tersebut jatuh ke lantai, “aku, kehilangan kedua jari kakiku karena terlalu percaya kepada Ayahku,” ucap Tsubaru, aku terdiam ketika mataku itu terjatuh ke kaki kanannya yang kehilangan jari manis berserta jari kelingkingnya.


“Putri, hanya katakan dengan sangat jujur … Apa Putri, bisa mengetahui apa yang sekarang aku pikirkan?” tukasnya yang segera aku balas dengan gelengan kepala.


“Apa Putri tahu, maksud dari perkataanku?” Aku kembali menggeleng ketika dia lagi-lagi bertanya.


“Bagaimana perasaanmu setelah mendengarnya, Putri? Atau, bagaimana jika aku katakan … Aku menjagamu karena perintah Raja yang tidak bisa aku tolak. Jika dapat memilih, aku tidak ingin menghabiskan waktuku melayani perempuan lemah yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Apa kau akan tetap baik-baik saja mendengarnya, Putri?”


Bibirku terkatup menatapnya dengan masih kuarahkan pandanganku melirik ke arahnya yang telah duduk sedikit di tong kayu yang ada di belakangku, “itulah yang akan kau rasakan jika terlalu mempercayai seseorang. Itulah yang akan kau rasakan, saat harapanmu terlalu tinggi kepada seseorang sedangkan orang itu … Malah menusuk dirimu sendiri dari belakang. Maafkan aku, yang sedikit salah mendidikmu, Putri,” ucapnya dengan menundukkan pandangannya.


“Jika saja aku, selalu memperingatkanmu untuk jangan terlalu percaya kepada seseorang … Putri, tidak akan bersusah hati seperti ini. Namun, aku pikir hal ini belum begitu terlambat … Jadi Putri, jangan mempercayai siapa pun walau itu dirimu sendiri, karena diri sendiri pun kadang kala memberikan keputusan yang salah. Jangan pula untuk mempercayaiku, bisa saja aku berkhianat di belakangmu, bukan?” tukasnya yang kembali mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


“Tsu nii-chan,” tukasku pelan hingga dia menoleh ke arahku.


Tsubaru mengangkat telapak tangannya mendekati kepalaku, lama telapak tangannya itu terhenti sebelum dia menariknya kembali ketika tangannya itu belum sempat menyentuh kepalaku, “Putri, walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya Putri khawatirkan, dan aku pun tidak memiliki hak untuk menanyakannya … Akan tetapi, kekecewaan muncul untuk membuat kita menghargai diri kita sendiri. Saat orang di sekitar membuatmu seakan tak dihargai dan kau kecewa, kau akan menyalahkan diri sendiri atau kau akan menghargai dirimu sendiri, semuanya tergantung dari apa yang akan kau pilih.”


“Begitulah hidup, maju ke depan atau berdiam diri dengan menerima semuanya. Saat kau berdiam diri, tidak ada yang dapat berubah dari hidupmu, saat kau berdiam diri … Kau tidak akan bisa melihat mereka yang benar-benar peduli. Akan tetapi, berjalan maju pun tentu ada risikonya dan tidak semua orang dapat melakukannya,” ucapnya yang kembali terhenti, aku menoleh ke arahnya saat suara tarikan napas lagi-lagi terdengar, “jadikan aku perisaimu, Putri. Jadikan aku pedangmu … Karena itulah yang membedakan seorang bangsawan dengan pelayannya.”


“Saat tubuh pelayanmu luka karena melindungimu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena itu akan melukai harga diri dari pelayanmu itu … Dia akan beranggapan jika dia telah gagal menjaga majikannya. Putri sangatlah pandai, jadi aku pikir Putri akan mengerti apa yang aku maksudkan,” sambungnya sambil beranjak dari tong kayu yang ada di dekatku.


“Tsu nii-chan, terima kasih. Mendengarkanmu malam ini membuatku sedikit tersadar, jika kita tidak harus berpangku kepada masa lalu. Aku, sudah bisa berpikir dengan baik kembali sekarang. Bodohnya aku, membuang-buang tenaga untuk sesuatu yang akan menghambat tujuanku sendiri,” ucapku sambil melompat turun dari tong kayu yang sebelumnya aku duduki.


Aku melangkah mendekati sepatu milik Tsubaru, meraih sepatu tersebut lalu berjalan kembali mendekatinya dengan meletakkan sepatu itu di dekat kakinya, “aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan dan aku sebagai majikan, nii-chan,” ucapku dengan kembali beranjak berdiri di hadapan menatapnya.


“Bagiku, Tsubaru tetaplah Tsubaru, Tsu nii-chan tetaplah Tsu nii-chan … Laki-laki pertama yang aku kagumi, dan hingga sekarang pun aku masih mengaguminya,” sambungku sambil tersenyum menatapnya.


Aku berbalik lalu berjalan meninggalkannya, “aku ingin kembali tidur segera, kau pun kembalilah tidur, nii-chan! Jangan merusak wajah tampanmu dengan kurang beristirahat,” ungkapku dengan terus berjalan memasuki lorong kapal kembali.

__ADS_1


Langkah kakiku terus berjalan maju dengan sebelah tanganku yang bergerak mengucek mataku sendiri. Aku terdiam, langkahku terhenti menatap laki-laki yang telah berdiri di depan kamarku, “ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyaku kepadanya yang telah menoleh ketika aku semakin berjalan mendekatinya.


__ADS_2