Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXI


__ADS_3

Aku melirik ke arah beberapa perempuan paruh baya termasuk bibi Alida yang tengah berdiri mengelilingiku, mereka bahu-membahu mengenakan kimono berwarna putih yang akan aku kenakan untuk pernikahan. Aku, tidak bisa menjelaskan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi kemarin … Namun, saat laki-laki itu meletakkan besi panas di belakang telingaku, sama seperti waktu aku bertunangan dulu, sangatlah menyakitkan … Bahkan, aku bisa membayangkan kembali rasa sakitnya itu.


Lebih jelasnya, setelah aku meminum air pemberian pendeta tersebut. Dia, melaksanakan upacara selanjutnya dengan meletakkan besi panas berbentuk namaku untuk disandingkan dengan luka bakar di nama Zeki yang ada di belakang telingaku. Dibanding kepala dipenggal, tentu menerima besi panas lebih baik untuk para perempuan. Aahh, aku benar-benar mengutuk dunia ini.


“Putri, kami akan memanggil Yang Mulia. Silakan duduk terlebih dahulu untuk menunggu mereka,” ucap bibi Alida sambil mengangkat kedua tangannya ke arahku.


Aku mengangkat kedua tangan meraih tangannya, dengan perlahan … Dia dan perempuan yang lain, membantuku untuk duduk. Satu per satu, dari mereka keluar dari dalam ruangan, meninggalkan aku sendiri. Jari-jemariku kembali menggenggam erat kimono putih yang aku pakai, beberapa kali akut tertunduk dengan menghela napas, berusaha untuk menenangkan sedikit kecemasan yang melanda.


Pintu ruangan bergeser, bersambut dengan seluruh keluargaku yang berjalan masuk lalu duduk di hadapanku. Baik aku, dan mereka … Hanya saling tatap, tanpa mengucapkan kata-kata apa pun. “Putriku,” suara Ayah memecah keheningan.


“Hari ini, kau akan menyambut sebuah kehidupan baru. Bukan menjadi Takaoka Sachi seperti dulu, melainkan akan menyandang nama keluarga yang sama seperti suamimu. Hormati dia, hormati setiap keputusannya … Karena setelah ini berakhir, dia yang akan memikul tanggung jawab untuk menjagamu.”


“Tapi itu bukan berarti, kau harus menyembunyikan semua keluh kesahmu dari Ayah, Ibu ataupun saudara-saudaramu. Ayah-”


Perkataan Ayahku terhenti, dia tertunduk dengan mengangkat telapak tangan menutup wajahnya. “Ayah,” tukasku, hingga wajahnya yang sembab terangkat menatapku.

__ADS_1


“Maafkan Sachi, karena aku belum menjadi anak berbakti yang dapat membahagiakanmu. Aku belum membalas kebaikan Ayah, kebaikan kakak-kakakku, dan kebaikan yang lain … Aku belum membalas satu kebaikan pun, tapi aku sudah memutuskan untuk pergi menikah dengan seorang laki-laki.”


“Omong kosong apa yang kau ucapkan?” tukas Izumi yang memotong perkataanku, “jika ini semua berakhir, lalu kau pergi mengikuti suamimu … Itu bukan berarti Istana ini bukanlah lagi rumahmu. Kau bisa kembali kapan pun, bahkan kau memiliki Kou yang dapat membawamu ke mana saja dengan sekejap bukan?” sambung Izumi lagi sambil menatapku.


“Ini hari bahagia kalian, jangan menangis! Riasanmu sudah terlalu memukau untuk dihancurkan oleh suatu tangisan,” timpal Haruki yang tersenyum menatapku.


Ayah beranjak berdiri, “baiklah, sudah saatnya kita pergi. Jika terlalu siang, dikhawatirkan akan ada banyak sekali warga yang melihat,” ungkap Ayah sambil berjalan lalu berdiri di hadapanku.


Aku menatapi mereka satu per satu, kimono hitam yang dikenakan Ayah berserta saudara-saudaraku yang lain, semakin membuat mereka terlihat gagah, begitu pun dengan Ibu yang terlihat sangat anggun dibalik kimono berwarna sama yang ia kenakan. Aku mengangkat tangan meraih lalu menggenggam tangan Ayah, dia membantuku berdiri dengan tetap menggenggam tanganku, lalu menuntun aku berjalan meninggalkan ruangan.


Aku mengangkat sedikit kepalaku saat kereta yang aku naiki berhenti, penutup kepala berwarna putih yang aku kenakan … Membatasi penglihatanku saat aku mencoba melirik ke arah suara pintu yang terdengar. “Kita sudah sampai, Ayah akan membantumu,” aku menoleh ke arah suara itu sambil mengangkat telapak tanganku meraih tangannya yang mengarah padaku.


Tubuhku sedikit beranjak saat genggaman tangan Ayah menguat, dengan perlahan, aku bergerak turun dari kereta tersebut. Ayah melepaskan genggaman tangannya, saat Zeki yang berdiri di hadapan kami berjalan maju mendekati. Kimono berwarna hitam yang ia kenakan membuatku tertegun sejenak, a


ku menyambut uluran tangannya yang mengarah kepadaku itu, “kau terlihat cantik sekali,” bisik suaranya ketika kami berdua telah berdiri berdampingan.

__ADS_1


Genggaman tanganku padanya semakin menguat tatkala alunan musik memenuhi telinga. Dua orang laki-laki yang memainkan alat musik yang berdiri membelakangi kami, telah berjalan mengikuti seorang laki-laki paruh baya berpakaian putih yang sudah terlebih dahulu melangkahkan kakinya. Aku dan Zeki, turut berjalan mengikuti ketiga orang tersebut menaiki anak tangga untuk sampai ke kuil yang ada di atas bukit.


Alunan musik tersebut terus terdengar mengiringi langkah kami. Beberapa kali, aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali selama menaiki bukit tersebut. Langkah kaki kami terus berlanjut, lalu berhenti melewati gapura kayu saat anak tangga yang kami naiki berakhir. Ketiga orang yang menuntun jalan kami itu, mengajak kami berjalan mendekati kuil yang tak terlalu jauh dari gapura tadi.


Genggaman tangan di antara kami berdua terlepas, ketika kami berjalan masuk ke dalam kuil tersebut. Kami berjalan berdampingan dengan berhenti di sebuah meja tinggi yang ada di tengah kuil. Seorang laki-laki berpakaian putih, berdiri tak terlalu jauh di hadapan kami. Dia melantunkan, mungkin sebuah do’a … Menggunakan kata-kata dari bahasa yang tak aku mengerti.


Dua orang laki-laki membawa masing-masing teko emas, berjalan mendekati kami saat suara lantunan dari pria sebelumnya berakhir. Laki-laki yang melantunkan do’a sebelumnya, melangkahkan kakinya mendekati sambil kedua tangannya meraih sebuah cawan kecil yang ada di atas meja. Kuarahkan lirikan mataku itu, ke arah tangan Zeki yang meraih cawan kecil tadi.


Aku, mengangkat kedua tangan, meraih cawan kecil yang sebelumnya diberikan laki-laki tadi kepada Zeki. Kedua laki-laki yang membawa teko emas, dengan perlahan menuangkan air ke dalam cawan kecil yang ada di tanganku. Aku mengangkat cawan kecil tadi, menyeruput hingga tiga kali secara sedikit demi sedikit sake yang ada di dalamnya.


Kami terus melakukan hal tersebut hingga tiga kali, dimulai dari cawan terkecil, cawan yang sedang hingga cawan yang besar. Setelah dua orang laki-laki pembawa teko tadi meninggalkan kami, laki-laki yang memakai pakaian putih, lebih tepatnya pendeta … Memberikan sebuah gulungan kertas kepada Zeki. Kedua mataku melirik ke arah kedua tangan Zeki yang meraih lalu membuka gulungan kertas tadi.


“Aku, Zeki Bechir. Bersumpah, untuk menjaga perempuan yang telah aku pilih sebagai isteri … Menjaganya dari setiap kejahatan dunia luar, memenuhi setiap kebutuhannya, mengingatkan dia jika melakukan kesalahan. Atas nama Deus, ini sumpahku padanya,” ucap Zeki sembari kembali memberikan gulungan tersebut kepada pendeta.


Pendeta tersebut berbalik, memberikan lembaran kertas tadi ke arah seorang laki-laki membawa nampan yang berdiri di belakangnya. Dia berbalik ke sisi sebelahnya sambil meraih ranting penuh daun dari pohon Sasaki, lalu memberikan ranting tersebut kepada Zeki dan juga aku.

__ADS_1


Aku menunduk dengan memejamkan mata sambil meletakkan ujung ranting tersebut ke kening saat lantunan dari pendeta lagi-lagi terdengar. Mataku kembali terbuka saat lantunan kembali berakhir, kugerakkan ranting yang aku pegang dengan ujung menghadap ke arahku, seraya dengan perlahan aku meletakkan ranting yang aku pegang tadi ke atas meja. “Ritual telah selesai, dengan ini … Kalian berdua telah resmi menikah,” suara pendeta tersebut terdengar tatkala aku memejamkan mata sambil menepuk dua kali telapak tanganku.


__ADS_2