
"Sudah lima hari, ini sudah hari kelima. Sebenarnya kau ingin mengajak kami kemana?" ungkap Izumi memberhentikan kudanya.
"Itu benar nii-chan, setidaknya beri kami sedikit informasi," balasku yang juga ikut menghentikan kuda yang aku tunggangi.
"Sebentar lagi kita akan sampai ke tujuan, bertahanlah sedikit lagi Adik-adikku," ucapnya seraya tetap menatap lurus ke depan.
Haruki memacu kudanya semakin cepat dari sebelumnya, ikut kugerakkan kudaku menyusulnya dengan Izumi beserta Eneas menunggangi kudanya di belakangku.
Kutarik tali kekang yang aku genggam, kuda putih milikku itu berhenti. Kugerakkan kembali dengan pelan tali kekang yang masih kugenggam kuat seraya mengarahkan kudaku berjalan pelan mendekati Haruki.
"Kita telah sampai," ucapnya menatap lurus ke depan.
Ikut kuarahkan pandanganku ke sebuah gapura dari papan bertuliskan Metin terpampang sedikit jauh di hadapan kami. Kuda yang ditunggangi Haruki berbalik dan berjalan mendekati kami...
"Selamat datang di kota Metin, kota para perompak," ucap Haruki seraya mengangkat sebelah telapak tangannya.
"Kota perompak?" tanya Izumi padanya.
"Seperti namanya, kota ini merupakan tempat tinggal dari para perompak."
"Bukan itu yang aku maksudkan, apa kau ingin mati sekarang juga?" sambung Izumi padanya.
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa kau membiarkan kami terlebih lagi Sachi masuk ke kota berbahaya seperti itu."
__ADS_1
"Tapi jika kita dapat menjadikan mereka sekutu, kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar," sambung Haruki menimpali perkataan Izumi.
"Berikan busur dan anak panahmu padaku, aku akan melubangi kepalanya saat ini juga," ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah mengarahkan telapak tangannya padaku.
"I-zu-mi-chan, percayalah pada Kakakmu ini," sambung Haruki sembari tersenyum menatapi Izumi.
"Jangan tambahkan Chan di belakang namaku, kau Kakak sialan. Apa kau ingin dia berada dalam bahaya?" lanjut Izumi kembali mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
"Aku tidak akan melakukannya, dia Adikku juga... Bagaimana mungkin aku membiarkannya dalam bahaya, tapi seperti yang kau tahu..."
"Kitalah yang membesarkannya seperti sekarang, dia tidak selemah itu," sambung Haruki kembali tersenyum.
"Aku tidak apa-apa Izu-nii, nii-chan pasti telah memikirkan segala kemungkinan yang ada," ucapku, mengangguk Haruki menanggapi perkataanku.
"Jika terjadi apa-apa padanya di sana, aku sendirilah yang akan langsung meremukkan seluruh tulang di tubuhmu," ungkap Izumi, kembali mengangguk Haruki menanggapi perkataan darinya.
Kutarik kembali penutup kepala yang aku kenakan semakin ke depan, kuda putih yang aku tunggangi berjalan pelan mendekati Haruki. Berhenti kembali ia di hadapan dua orang penjaga yang memegang satu kapak berukuran besar di masing-masing tangan mereka...
Kutatap wajah mereka yang dipenuhi sayatan luka dengan sebuah lubang besar di masing-masing daun telinga mereka. Tersenyum mereka ke arah kami, tampak terlihat gigi-giginya yang berwarna hitam bersembunyi dibalik bibir mereka...
"Kami hanya ingin mencari tempat beristirahat untuk beberapa hari," ucap Haruki balas menatap mereka, seorang laki-laki yang memegang kapak tadi tampak terlihat mengarahkan kapak yang ia genggam mendekati leher Haruki.
"Aku akan memberikan ini kepada kalian, semuanya," sambung Haruki seraya melemparkan sebuah kantung berukuran sedang ke arah mereka.
Kutatap laki-laki yang menggenggam kantung yang dilemparkan Haruki sebelumnya, dibukanya kantung tersebut olehnya seraya dibaliknya kantung tadi hingga jatuhlah isi dari dalam kantung ke atas telapak tangannya.
__ADS_1
Beberapa puluh kalung, gelang dan juga cincin tampak bertumpuk di telapak tangannya yang besar itu. Tersenyum lebar dia dan rekannya menatapi kami...
Dimasukkannya kembali perhiasan tadi ke dalam kantung kulit tadi seraya menyingkir mereka berdua dari gerbang, berbalik mereka berdua sembari didorongnya gerbang kayu besar itu oleh mereka...
Mengangguk Haruki ke arah mereka seraya digerakkannya kuda miliknya melewati gerbang kota tersebut, ikut kugerakkan kudaku mengikuti langkahnya dengan Izumi yang menjaga kami berdua dari belakang...
Melirik aku ke sekitar, tampak pandangan dari orang-orang sekitar jatuh menatapi kami yang berjalan di hadapan mereka. Laki-laki dan perempuan terlihat berbaur menjadi satu tanpa kecanggungan sama sekali di antara mereka...
Pandangan mataku jatuh pada sekumpulan laki-laki dan perempuan yang tengah duduk di samping sebuah bangunan dengan bertumpuk-tumpuk kantung kulit di dekat mereka...
Salah satu dari mereka terlihat meraih kantung kulit tersebut lalu meminum isinya, sesekali diciumnya perempuan yang duduk di pangkuannya itu. Kembali kuarahkan pandanganku pada beberapa anak kecil yang berkelahi satu sama lain...
Orang-orang dewasa yang mengelilingi mereka terlihat mengumpulkan uang pada seorang pemuda yang membawa kotak kayu di pundaknya. Sorak-sorai mereka semakin menggemuruh tatkala salah satu anak kecil yang tengah bertarung tersebut terjatuh...
"Apa kalian pendatang? Kami bisa menemani kalian selama di sini," terdengar suara perempuan dari arah depan.
Kualihkan pandanganku pada beberapa perempuan yang terlihat mengelilingi Haruki, bahkan salah satu perempuan meraih lengan Haruki dan menghimpitnya di depan dadanya...
"Tidak, terima kasih," ucap Haruki seraya sebelah tangannya yang lain menarik lengannya menjauhi perempuan tadi.
Kutatap punggung Kakakku yang masih menatap lurus ke depan, digerakkannya kembali kudanya membelah para perempuan yang berdiri di hadapan kami. Kuikuti langkahnya dari belakang, sembari kutundukkan pandanganku dari mereka semua...
"Dia tampan sekali."
"Laki-laki yang ada di belakangnya juga terlihat tampan."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tapi untuk apa mereka datang ke tempat kumuh seperti ini?" bisik mereka bergantian, kembali kuarahkan pandanganku ke depan seraya mengacuhkan semua perkataan yang mengetuk telinga.