Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXXII


__ADS_3

Sebuah suara ketukan pintu yang terdengar berulang-ulang, memaksa kedua kelopak mataku untuk terbuka. Kuarahkan pandangan mataku ke sekitar, tampak semua yang ada di dalam ruangan merasakan hal yang sama.


"Sucikan diri kalian kembali ke sungai suci seperti sebelumnya, lalu ganti pakaian yang kalian kenakan dengan pakaian yang ada di dalam bungkusan kain putih yang telah kami berikan. Bergegaslah, upacaranya sendiri akan segera dimulai." ucap sebuah suara laki-laki terdengar dari balik pintu


Suara kayu berderit mengiringi suara langkah kaki yang bergerak menjauh. Beranjak aku berdiri seraya kuraih bungkusan kain putih punyaku yang tergeletak di lantai, kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki para anak perempuan lainnya yang telah terlebih dahulu berjalan ke luar.


Keadaan di sekitar masih diselimuti kegelapan, pandangan mataku yang kuarahkan ke kanan dan ke kiri tampak hanya menangkap satu cahaya yang hanya berasal dari obor bambu yang dipegang oleh seorang laki-laki berjubah putih.


Laki-laki misterius tadi meminta kami untuk mengikutinya, kulangkahkan kembali kakiku bersama dengan anak-anak yang lain mengikuti langkah kaki laki-laki misterius tadi.


Berhenti kami kembali di depan hutan, jalan masuk menuju ke sungai suci yang mereka maksudkan sebelumnya. Tampak beberapa titik cahaya berasal dari obor bambu berbaris rapi menempel di pohon-pohon yang tumbuh di hutan.


"Kalian hanya perlu mengikuti obor yang menyala itu untuk sampai ke sungai. Aku akan menunggu kalian disini..." ucap laki-laki misterius tadi seraya menatap tajam kami satu persatu


Ku ikuti langkah anak perempuan yang berjalan di depanku, udara kali ini terasa lebih menusuk daripada sebelumnya. Kegelapan yang menyelimuti seluruh hamparan hutan, seakan telah bersiap untuk menelan kami hidup-hidup.


"Sachi." bisik Julissa pelan


"Ada apa?" ucapku balas berbisik padanya


"Warna pita apa yang kau dapatkan? Kalau aku, putih." ungkapnya lagi dengan sangat pelan


"Senangnya, aku malah mendapatkan warna biru." balasku seraya menatap lurus ke depan


Berhenti kami semua tepat di tepi sungai, kulucuti gaun putih yang melekat di tubuhku, hal yang sama pun dilakukan oleh anak lainnya. Kulangkahkan kembali kakiku semakin mendekati sungai, kugigit bibirku pelan ketika ibu jari kaki ku menyentuh air sungai yang sedingin es.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ini dingin sekali." ucapku dalam hati seraya kulangkahkan kaki kecilku membelah air sungai


Duduk aku di tengah-tengah sungai yang dangkal tersebut, kuambil air yang melewati tubuhku itu menggunakan kedua telapak tangan yang aku rapatkan satu sama lain. Ku tepukan kedua telapak tanganku yang berisi penuh air tadi ke wajahku dengan pelan, dinginnya air yang menampar wajahku tadi sanggup membuat bibir kecilku saling menggemeretakkan satu sama lain.


Kuhirup udara di sekitar dalam-dalam lalu coba kutahan seraya kutenggelamkan kepalaku sepenuhnya ke dalam air. Otak ku seakan membeku menahan dinginnya air yang membelah melewati tubuhku.


Beranjak aku berdiri seraya dengan cepat kulangkahkan kaki ke luar dari sungai. Kuraih bungkusan kain putih punyaku yang aku letakkan cukup jauh dari bungkusan kain putih punya anak-anak yang lain.


Kubuka ikatan simpul yang menghubungkan kain putih itu, bayang-bayang cahaya yang dihasilkan oleh obor sudah lebih dari cukup membantuku untuk melihat apa yang ada di hadapanku.


Sebuah gaun putih polos, kain pita panjang berwarna biru dilengkapi hiasan kepala yang terbuat dari anyaman akar berbalut bunga berwarna biru mengisi bungkusan kain putih yang aku buka tadi.


Kukenakan gaun putih polos yang aku dapatkan seraya ku ikatkan kain pita panjang berwarna biru tadi ke belakang gaunku hingga membentuk sebuah simpul. Kusisir rambutku yang masih basah menggunakan jari-jari tanganku seraya kukenakan hiasan kepala yang terbuat dari anyaman akar tadi ke atas kepalaku.


Berbalik dan berjalan aku menuju ke arah anak-anak yang lain, tampak mereka mengenakan gaun putih yang sama, hanya warna pita dan hiasan kepala kami saja yang membedakannya.


"Kau telah selesai, Sachi?" ucapnya yang kubalas dengan anggukan kepala


"Apa orang-orang di Kerajaan Sora punya mata hijau sepertimu?" ungkapnya lagi seraya menjatuhkan pandangannya ke mataku


"Entahlah, Ayah dan kakakku mengatakan jika mataku sama seperti ibuku.." ucapku seraya melangkahkan kaki mengikuti langkah anak yang lain


"Aku tidak tahu apakah kau akan mempercayainya atau tidak. Akan tetapi, sebuah cerita mengatakan perempuan bermata hijau adalah sebuah kutukan." ucapnya yang berhasil menghentikan langkahku


"Bisakah kau memberitahuku lebih banyak tentang itu?" ungkapku menatapnya

__ADS_1


"Aku hanya sekali mendengarnya, nenek pengasuh yang merawatku pernah menceritakannya..."


"Dia mengatakan, perempuan bermata hijau adalah perempuan yang derajatnya paling rendah di antara perempuan lainnya. Karena itu adalah sebuah kutukan, maka banyak sekali orang jahat yang ingin menguasai nya. Apa Ayahmu tidak menceritakan apapun soal itu?" Tukas Julissa menatapku dengan ekspresi khawatir


"Ini pertama kalinya aku mendengar hal itu" ungkapku balik serius menatapnya


"oi Julissa, apa kau tidak takut akan kutukan itu? Jika kau merasa takut, aku sama sekali tidak melarangmu menjauh.." ucapku berbalik seraya berjalan menjauh


"Aku tidak mempercayai adanya kutukan. Sejujurnya jika aku dapat memilih, aku tidak ingin lebih lama melakukan upacara menggelikan ini.." tukasnya seraya berlari menyusul ku


"Aku pun merasakan hal yang sama. Air sungai itu, benar-benar menghancurkan tulang-tulang ku."


"Kau sendiri, apa kau sama sekali tidak takut?" ungkapnya seraya mengarahkan wajahnya ke hadapanku


"Sama sekali tidak. Aku sudah pernah mati sekali, aku sama sekali tidak takut untuk mati untuk yang kedua kalinya..."


"Ehh?" tukasnya kebingungan


"Maksudku, bukankah sebelum berusia tujuh belas tahun kita masih dibayangi kematian? Jadi, mati sekarang ataupun nanti, itu bukanlah sebuah hal yang berbeda..."


"Lagipula setiap manusia pasti akan mati..." ucapku kembali seraya menatapnya


"Akan tetapi, aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir secepat itu. Masih banyak yang harus aku lakukan, masih banyak yang harus aku selesaikan.."


"Ayahku masih membutuhkan aku di sampingnya untuk menyembuhkan lukanya, Kakak pertama ku masih membutuhkanku untuk menepati janjinya pada ibu kami, sedangkan kakak keduaku..."

__ADS_1


"Aku sangat-sangat ingin melihatnya tumbuh menjadi laki-laki dewasa." ungkapku seraya tersenyum menatapnya


__ADS_2