Fake Princess

Fake Princess
Chapter LVII


__ADS_3

Dimana aku? Tempat ini gelap sekali...


Kulangkahkan kakiku, kuarahkan kedua telapak tanganku ke arah depan seraya meraba udara kosong yang ada di hadapanku...


Terasa air memenuhi mata kakiku, dinginnya air seakan menjalar ke atas tubuhku. Berjalan aku perlahan membelah air...


Aku takut, Tuhan. Sebenarnya dimana aku sekarang?


Brukk!!


Tubuhku terjatuh kedepan, aku tidak tahu apa yang telah aku tabrak. Tapi yang pasti, hidung dan mulutku dipenuhi air yang aku sendiri pun tidak dapat melihatnya...


Kupukul-pukul dadaku, beberapa kali aku batuk seraya kucoba untuk memuntahkan kembali air yang tidak sengaja tertelan...


Beranjak aku berdiri, tubuhku terasa beku. Seluruh pakaian yang menempel di tubuhku terasa basah dan juga berat, kugenggam kedua telapak tanganku seraya ku tiupkan udara hangat beberapa kali padanya...


Perlahan, kulangkahkan kakiku kembali... Tampak terlihat sebuah titik cahaya di hadapanku. Melangkah aku mendekati cahaya tersebut, sebuah obor kecil tampak tergantung di sisi dinding yang terbuat dari tanah...


Berjalan aku mendekati obor tersebut, kuletakkan kedua telapak tanganku mendekatinya, hangatnya obor terasa mengalir di kedua telapak tanganku...


Srek!!


Terdengar suara benda bergeser dari arah belakangku, berbalik aku untuk melihat apa yang ada di belakang...


Seorang anak tengah tertunduk dengan kedua kakinya yang dipasung, rambut gelapnya yang panjang tampak menutupi seluruh wajahnya. Pakaiannya mengusam bercampur bekas tanah yang telah keras menempel...


Berjalan aku mendekatinya, berjongkok aku di sampingnya, tak ada reaksi apapun darinya. Kualihkan pandangan mataku ke arah kuku-kuku tangannya yang panjang meruncing, kotoran-kotoran berwarna hitam tampak menempel di ujung-ujung kukunya...


Rambutnya terlihat keras bercampur tanah dan debu, kusentuh kepalanya dengan sangat pelan. Entah kenapa, hatiku terasa sakit melihat keadaannya...

__ADS_1


Diangkatnya kepalanya yang disandarkannya di dinding, menoleh ia ke arah kiri tubuhnya seakan mencari sesuatu atau mungkin seseorang...


Apa dia tidak menyadari adanya aku disini?


Ku arahkan kepalaku ke hadapan wajahnya yang masih tertunduk. Diam aku terpaku...


Apa ini? Siapa dia? Kenapa wajahnya terlihat mirip sepertiku?


Matanya yang berwarna terang tampak menatap kosong kedepan, tak ada emosi apapun yang ada di pandangannya.


Apa ini aku?


Kupegang kedua pipinya, kembali tak ada reaksi apapun darinya. Apa ini, Tuhan?... Hatiku sakit sekali melihatnya.


Sebuah cahaya tiba-tiba menyilaukan mataku, kuusap kedua mataku berkali-kali untuk mengembalikan kembali pandanganku. Kuperhatikan keadaan sekitar, ini Taman yang ada di dekat kamar Ayahku...


Kulangkahkan kakiku menyusuri Taman. Aku sungguh tidak mengerti apa yang tengah terjadi sekarang... Langkahku terhenti, tubuhku gemetar dengan pemandangan yang ada di hadapanku...


Perempuan tersebut mengangkat telapak tangannya, disapukannya telapak tangannya yang penuh darah itu ke pipi Ayahku. Diraihnya tangan perempuan tadi oleh Ayahku, berkali-kali diciumnya telapak tangan perempuan tadi olehnya...


Berjalan dan duduk aku mendekati mereka. Kutatap wajah Ayahku yang pucat pasi, air matanya tidak berhenti keluar. Tersenyum perempuan tersebut menatap Ayahku...


"Aku mencintaimu, Kudou. Jaga anak-anak untukku, Sayang..." ucap perempuan tersebut terbata-bata, digenggamnya kemeja Ayahku dengan kuat... Dibenamkannya wajahnya di dada Ayahku, menangis perempuan tersebut dengan sangat kuat...


"Aku ingin bersama kalian, aku ingin melihat anak-anakku tumbuh dewasa." Ucapnya lagi, genggaman tangannya di kemeja Ayahku terlihat semakin kuat


"Jaga Haruki, jaga Izumi, dan jaga putriku Sachi... Jaga mereka semua untukku, suamiku." Sambungnya, dipeluknya perempuan tersebut oleh Ayahku. Diciumnya dahi perempuan tersebut oleh Ayahku...


Terhentak aku terbangun, kuperhatikan keadaan di sekitar. Ini kamarku, kualihkan pandangan mataku ke arah Lux yang tertidur lelap di tempat tidur kecil yang aku siapkan khusus untuknya...

__ADS_1


Apa ini? Apa aku bermimpi?


Kugenggam kuat dadaku yang terasa sesak, air mataku mengalir dengan sendirinya. Apa itu yang terjadi pada kedua orang tuaku, Tuhan?


Ini menyakitkan, Tuhan. Melihat mereka berdua, sangat menyakitkan untukku.


Beranjak aku turun dari ranjang, berjalan aku mendekati pintu kamar. Kubuka pintu kamar dengan perlahan-lahan, kulangkahkan kakiku keluar...


Berjalan aku menyusuri Istana, dinginnya lantai seakan menusuk telapak kakiku yang berjalan tanpa alas. Kulangkahkan kakiku semakin mendekati Taman yang aku lihat di mimpi sebelumnya...


Langkahku terhenti, pandangan mataku terpaku melihat Izumi tengah berdiri sendirian di Taman tersebut dengan kepala tertunduk, setangkai bunga mawar berada di genggamannya...


Kusembunyikan tubuhku dibalik pohon besar yang tidak terlalu jauh darinya. Angin malam yang berhembus, seakan memeluk tubuhku yang hanya mengenakan gaun tidur...


"Aku membawakan bunga kesukaanmu..."


"Kau tahu, Sachi telah tumbuh jauh lebih besar dibandingkan terakhir kali kau melihatnya. Haruki lebih sering tersenyum dibandingkan terakhir kali kau mencoba menghiburnya..."


"Aku melakukan semua tugasku dengan baik bukan?"


"Maaf, aku masih belum bisa membuat Ayah melupakanmu. Akan tetapi, kabar baiknya sekarang kami sudah seperti keluarga yang sesungguhnya..."


"Sachi semakin hari semakin terlihat cantik, dia tumbuh sepertimu. Itu menyakitkan kau tahu, setiap ia tersenyum ke arahku itu terasa menyakitkan..."


"Dia terlihat mirip sekali denganmu terlebih lagi ketika tersenyum. Kenapa kau harus muncul di kehidupanku kalau akhirnya meninggalkanku seperti itu, kenapa kau harus selalu tersenyum walaupun berkali-kali aku katakan kalau aku tidak ingin melihatmu..."


"Aku ingin melupakanmu, aku ingin melupakan semua kebaikanmu..." terdengar suara Izumi tertahan


"Aku ingin melupakan semuanya. Kumohon... kumohon..."

__ADS_1


"Aku merindukanmu Ibu..."


"Izumi mu ini, merindukanmu..."


__ADS_2