Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXVIII


__ADS_3

"Kau tidur saja di ranjang, kami berdua akan tidur di kursi," ucap Haruki menatapku


"Nii-chan," ucapku, kubaringkan tubuhku di atas ranjang


"Ada apa?" balas Haruki


"Bagaimana pendapatmu ketika kita sampai kesini?" kuangkat lengan kananku seraya kuletakkan menutupi kedua mataku


"Entahlah, terasa aneh sekali bukan?" ungkapnya balik bertanya


"Bersihkan tubuh dan ganti segera pakaian kotormu. Bagaimana kau akan bertemu Putri-putri dari Kerajaan lain dengan tubuh penuh bau keringat seperti itu," terdengar suara Izumi disertai sebuah lemparan sesuatu ke arahku


Kuangkat lengan yang menutupi kedua mataku tadi, beranjak aku duduk seraya meraih gaun berwarna biru tua yang dilemparkan Izumi padaku. Berjalan aku mendekati kotak kayu berisi pakaian dalam, kuambil beberapa potong seraya kembali berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur...


Sebuah bak mandi berukuran sedang berdiri di tengah-tengah ruangan, kuletakkan pakaianku ke sebuah lemari kayu kecil yang juga ada di dalam ruangan. Kulucuti seluruh pakaian kotor yang aku kenakan, berjalan aku mendekati dua buah tong kayu besar yang terletak tak jauh dari bak mandi yang akan aku gunakan...


Kuambil air dari dalam tong kayu sedikit demi sedikit hingga memenuhi bak tersebut, kusanggul rambut menggunakan sebuah tusuk kayu yang biasa aku gunakan...


Masuk seraya kurebahkan tubuhku hingga tenggelam ke dalam air tersebut, kuambil beberapa genggam bunga yang diletakkan disamping bak mandi seraya kuhamburkan seluruh bunga yang ada di genggamanku tersebut hingga memenuhi tubuhku...


Kutatap langit-langit bercat putih yang ada di atasku. Kutenggelamkan tubuhku semakin dalam ke dalam bak hingga air menyentuh seluruh kulit kepalaku.


Perasaan apa ini? Dadaku terasa sesak sekali, Tuhan.


______________


Beranjak aku keluar dari dalam bak, berjalan aku kembali mendekati lemari kayu. Kuambil sehelai handuk yang terlipat rapi disana seraya kusapukan di seluruh tubuhku.


Kukenakan pakaian bersih yang aku bawa sebelumnya, kuambil kembali handuk yang berukuran lebih kecil seraya kuletakkan handuk tersebut membungkus rambutku.


Kulipat pakaian kotor yang aku kenakan sebelumnya seraya kuletakkan kedalam keranjang yang telah dipersiapkan. Kubuka pintu kamar mandi, berjalan aku keluar seraya mendekati Haruki dan juga Izumi yang tengah duduk di kursi...

__ADS_1


"Kemarilah," tukas Izumi menatapku, dilambaikan telapak tangannya ke arahku


Berjalan aku seraya duduk di sampingnya. Berbalik ia duduk menghadap ke arahku,


"Berputarlah, aku akan mengeringkan rambutmu." ucapnya menatapku


Kuputar tubuhku seperti yang ia perintahkan, diraihnya handuk yang melilit rambutku. Digosokkannya handuk tersebut ke helai-helai rambutku yang masih basah...


"Pangeran, Putri." terdengar suara dari balik pintu diiringi ketukan pintu yang senada dengannya


"Masuklah," ucap Haruki seraya fokus menatap buku yang dibawanya


Pintu terbuka, seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh tahunan masuk ke dalam. Berdiri ia tertunduk tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami.


"Kaisar memerintahkan para Pangeran dan juga Putri untuk berkumpul di halaman Istana." ucap laki-laki tersebut


"Kami mengerti, kau bisa menunggu di luar. Kami akan bersiap-siap," sambung Haruki, ditutup dan diletakkannya buku yang ia baca keatas meja.


Laki-laki tadi menganggukkan kepalanya, berbalik ia kembali membuka pintu. Melangkah ia keluar seraya ditutupnya kembali pintu tersebut.


"Akupun begitu, dan kau..." ucap Izumi seraya menyentuh pundakku berulang kali


"Aku?" ungkapku menoleh ke arahnya


"Benar, kau. Keluar dari kamar!" ucapnya lagi


"Kenapa?" tanyaku bingung


"Apa kau ingin melihat tubuh kakakmu yang seksi ini, Sa-chan?" sambung Haruki tersenyum menatapku


"Aku keluar sekarang," ucapku beranjak menjauh dari mereka

__ADS_1


Kubuka pintu kamar seraya berjalan keluar, tampak terlihat laki-laki tadi berdiri di depan kamar kami sambil tetap terus menundukkan wajahnya.


"Apa kau punya sisir?" ucapku pelan menatapnya


"Eh?" ucapnya tertegun menatapku


"Apa kau punya sisir?" ucapku lagi padanya


Menunduk kembali ia seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan, diarahkannya kedua telapak tangannya seraya digenggamnya dengan kuat.


Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Haruki dan Izumi keluar dari kamar mengenakan pakaian berwarna senada seperti yang aku kenakan.


"Rambutmu," ucap Izumi seraya mengulurkan sebuah sisir ke arahku


"Terima kasih," ungkapku, kuraih sisir yang ada ditangannya seraya kusisir rambutku menggunakan sisir yang ia berikan


"Sisirnya nii-chan," ucapku lagi seraya mengembalikan sisir tersebut kepadanya


Diraihnya sisir yang aku berikan tadi padanya seraya dibukanya sedikit pintu kamar. Dilemparkannya sisir tersebut ke dalam kamar,


"Semuanya sudah siap bukan?" sambung Haruki merapikan rambutku menggunakan tangannya.


"Sudah," jawab Izumi, ditutupnya kembali pintu kamar yang dibukanya tadi.


"Kami akan mengikutimu," ucap Haruki menoleh ke arah laki-laki tadi


Berbalik dan berjalan laki-laki tadi di depan kami, ikut berjalan kami bertiga mengikuti langkah kakinya. Perjalanan terasa memutar-mutar karena luasnya Istana, salah sedikit saja... mungkin kami akan tersesat di Istana ini,


Berhenti laki-laki tadi di depan sebuah halaman yang sangat luas, terlihat banyak sekali manusia berbagai usia yang berdiri rapi di halaman tersebut. Para laki-laki tampak memakai setelan jas mewah beraneka warna, begitupun dengan para perempuan yang memakai gaun mewah beraneka warna...


Di sudut-sudut halaman, terlihat beberapa puluh laki-laki yang memakai pakaian yang sama seperti yang dikenakan laki-laki yang mengantar kami sebelumnya.

__ADS_1


Digenggamnya telapak tanganku oleh Haruki, ditariknya pelan telapak tanganku tadi seakan menyuruhku untuk mengikutinya. Kulangkahkan kakiku mengikuti langkahnya dengan Izumi yang juga ikut berjalan di samping.


Melangkah kami bertiga menuju sekumpulan manusia berkasta tinggi yang ada dihadapan kami tersebut.


__ADS_2