Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCI


__ADS_3

Duduk aku disampingnya, kuangkat seraya kuarahkan telapak tanganku menyentuh dahinya. Rasa panas ketika aku menyentuh dahinya masih belum berkurang...


"Demam saat terluka itu sudah biasa, ketika demamnya membaik, Ia akan baik-baik saja. Aku akan mengangkat tubuhnya, kau bantu aku memberikan air ini untuknya," ucap Zeki berjongkok di hadapanku, diberikannya sebuah daun berbentuk kerucut berisi air padaku.


"Darimana kau mendapatkan air?"


"Alvaro, maksudku laki-laki yang kita temukan bersama Izumi menunjukkan sumber air tersebut padaku," sambungnya, diraihnya kepala Izumi seraya dipangkunya tubuh Izumi oleh Zeki. Beranjak aku mendekati mereka berdua seraya menuangkan air yang ada di dalam daun secara perlahan pada Izumi.


"Ambil pakaianku yang basah ini, lalu usapkan di tubuhnya. Itu akan membantu menurunkan suhu tubuhnya," ucapnya lagi seraya melirik ke sebuah pakaian yang tergeletak di bahunya.


Kuletakkan daun tadi kesamping, kuraih kain basah yang ada di bahu Zeki. Kuusapkan kain tersebut ke wajah dan juga tubuh Izumi, kugosok-gosokkan kain tadi ke jari-jari tangannya yang menghitam.


Hatiku sakit melihatnya seperti ini Tuhan, kumohon... sembuhkan kakakku.


"Bagaimana keadaannya?" terdengar suara Haruki, menoleh aku kearahnya yang sudah duduk disampingku.


"Beristirahatlah, aku akan menggantikanmu menjaganya," ucap Haruki lagi, ditepuknya kepalaku pelan beberapa kali olehnya.


"Aku ingin menjaganya, aku tidak bisa beristirahat sebelum memastikan dia baik-baik saja, nii-chan," ucapku menatap lurus pada Izumi yang masih belum sadarkan diri.


"Kau dengar itu Izumi. Cepatlah bangun, kau bodoh."


Berbalik aku menatap Haruki, kupeluk lehernya seraya kubenamkan wajahku di pundaknya. Ikut kurasakan tepukan pelan yang beberapa kali menyentuh punggungku...


_______________


Kurasakan sesuatu menyentuh pelan pipiku, kubuka kedua mataku seraya melihat apa yang terjadi. Perasaanku bercampur menjadi satu, kutatap wajah Izumi yang juga balas menatapku...


"Nii-chan, kau sudah sadar?" ucapku dengan suara bergetar.


"Apa kau mengkhawatirkanku?" ungkapnya seraya tersenyum menatapku.


"Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu," tangisku, diarahkannya kembali telapak tangannya ke pipiku.


"Apa kalian berdua baik-baik saja?" ucapnya, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan cepat dariku.


"Syukurlah. Bantu aku duduk," ucapnya lagi, beranjak aku mendekatinya yang berbaring terlungkup dengan sehelai kain yang membatasi antara kulitnya dan tanah. Kuarahkan telapak tanganku menyentuh kedua pundaknya seraya membantunya beranjak duduk perlahan demi perlahan.


"Izumi," kembali terdengar suara Haruki yang sedikit bergetar terdengar.


Menoleh kami berdua kearah Haruki yang membawa sebuah daging beralaskan daun di tangannya, berjalan ia mendekati kami lalu duduk ia disamping Izumi.

__ADS_1


"Lihat aku!" ucapnya, diletakkannya daging tadi kesamping tubuhnya, diarahkannya kedua telapak tangannya menyentuh kedua pipi Izumi.


"Apa kau mengingatku? atau dia?" sambungnya, kutatap wajah Haruki yang menatap Izumi dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja aku ingat. Dan apa-apaan itu, kau hanya membawakan sedikit daging untukku... Aku ikut membunuh ular tersebut, apa kalian lupa," ungkap Izumi seraya membuang pandangannya dari Haruki.


"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu, Izumi," ucap Haruki, dipeluknya tubuh Izumi dengan kuat olehnya.


"Kemarilah, aku akan menggendongmu. Kau ingin makan daging yang sangat banyak bukan?" sambung Haruki, berjongkok ia membelakangi Izumi.


"Hanya punggungku yang terluka bukan kakiku. Bantu aku berjalan seperti biasa."


Dibantunya Izumi oleh Haruki berdiri dengan sebelah tangannya, berjalan mereka mendekati kerumunan yang duduk didepan api unggun. Kualihkan pandanganku pada kain yang mengalasi Izumi sebelumnya, kuraih kain tersebut seraya kulipat kembali.


Berbalik aku seraya berjalan menyusul mereka, duduk aku disamping Izumi. Kutatap beberapa dari mereka yang tengah menikmati daging ular bakar yang ada di hadapan mereka...


"Akhirnya kau sadar Izumi? Adikmu yang ada disebelah sana tak henti-hentinya menangis," tukas Adinata menatapku.


"Matamu semakin tak terlihat," ucap Izumi menoleh kearahku, diletakkannya kedua jari tangannya di samping bibirku seraya ditatapnya mataku berulang-ulang.


"Sangat wajar bukan jika seorang adik mengkhawatirkan kakaknya," ucapku balas menatapnya.


"Aku merasa terharu sekali," balasnya tersenyum, dilepaskannya kedua jarinya tadi dari wajahku.


"Apa kau yakin baik-baik saja?" balas Haruki menatapnya.


"Tidak masalah, aku akan melindunginya," sambung Zeki, dilahapnya daging yang ada di genggamannya itu.


"Heh, coba ulangi perkataanmu tadi," sambung Izumi menatap Zeki.


"Aku akan melindungi siapa saja yang aku anggap lemah."


"Kemarilah, kemarilah calon adik ipar... aku akan memberikanmu pelajaran."


"Tidak, terima kasih. Aku sudah belajar banyak hal dari adikmu itu," jawab Zeki santai.


"Bisakah kalian berdua menghentikannya?"


"Kau ingin membela tunanganmu?"


"Bukan itu maksudku, nii-chan," ucapku balas menatapnya.

__ADS_1


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, jangan menghabiskan tenagamu. Kau baru saja siuman, apa kau berniat tak sadarkan diri lagi seperti sebelumnya," ucapku memarahinya.


"Kenapa kau memarahi Pangeran Izumi," ucap Sasithorn pelan.


"Kenapa? karena ia kakakku dan aku adiknya. Kenapa aku tidak boleh memarahi kakakku sendiri, aku memarahinya karena aku mengkhawatirkannya..."


"Kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama. Menegur dan ditegur, memarahi dan dimarahi itu sudah biasa untuk kami bertiga. Kenapa aku tidak boleh melakukannya?"


"Karena ia tunanganmu? jadi aku harus meminta izin padamu untuk memarahi kakakku sendiri..."


"Izumi..." ucap Haruki pelan.


"Kalau kau benar tunangan yang peduli padanya harusnya..."


"Hmmm hmm," perkataanku terpotong, kulirik Izumi yang menutup mulutku menggunakan telapak tangannya.


"Aku sarankan untukmu, jangan membuatnya kesal. Karena sekali saja kau melakukannya, ia tidak akan berhenti berbicara sebelum telingamu tuli mendengarkannya," ucap Haruki menatapi mereka.


"Aku mengingatnya... Saat aku menuliskan di surat untuk berhenti mencoba menjadi wakil kapten, aku mendapatkan tiga puluh lembar surat balasan. Benar-benar sebuah mimpi buruk untuk membacanya," ucap Zeki seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Aku pikir, hanya aku saja yang mengalaminya. Beruntung, surat balasan yang aku dapatkan hanya enam lembar," sambung Julissa menatap kearah api dengan tatapan seakan tak percaya.


"Aku melakukannya karena aku peduli akan hidup kalian," ucapku, kugenggam telapak tangan Izumi yang menutupi mulutku tadi.


"Kami mengerti, sekarang makanlah terlebih dahulu. Kau lapar bukan?" ucap Izumi menatapku, diraihnya setusuk daging bakar yang ada dihadapannya seraya diberikannya daging tersebut padaku.


"Maaf, karena telah menyelamatkanku, kau jadi terluka," ucap laki-laki yang berada di samping Izumi sore tadi.


"Namamu?" ucap Izumi balas menatapnya.


"Alvaro Baltasar, Pangeran dari Kerajaan Ardenis."


"Dan aku, Alma Mateo. Pangeran dari Kerajaan Juste," sambung laki-laki yang satunya.


"Maaf, jika perkataanku lancang. Apa kalian berasal dari kelompok yang berbeda?" ucap Alma menatap kami satu persatu.


"Tidak, kami memang sudah seperti ini dari awal," ucap Adinata seraya kembali mengambil daging lalu memakannya.


"Apa aku dan Alma dapat bergabung dengan kelompok kalian?" ucap Alvaro menatapi Adinata.


"Kau bertanya pada orang yang salah?" ungkap Adinata mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Eh?" tukas Alvaro lagi dengan ekspresi kebingungan.


"Karena setiap keputusan bergantung pada tiga orang bersaudara yang duduk disana," sambung Adinata seraya menunjuk ke arah kami.


__ADS_2