
"Naiklah ke punggungku," ucap Haruki seraya berlutut ia membelakangi.
Kulangkahkan kakiku semakin mendekati punggungnya seraya menunduk aku dengan lenganku melingkar di lehernya. Haruki beranjak berdiri dengan kedua lengannya berusaha menahan tubuhku yang ada di gendongannya.
Dia melangkahkan kaki bergerak membelah kerumunan, rasa sakit di pundakku semakin kuat dan semakin dalam terasa. Kugerakkan kepalaku bersandar di pundaknya, kutatap beberapa makanan berserta benda-benda yang dijual yang berjejer rapi di pinggir jalan.
Kurasakan Haruki beberapa kali menghentikan langkah kakinya, sesekali terdengar suara percakapan antara dia dan beberapa orang dengan nada suara yang berbeda-beda. Apakah kalian tahu, di arah mana penginapan Fornøjelse? Begitulah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan Kakakku itu sepanjang ia menghentikan langkah kakinya.
Pegangan tangannya di pahaku semakin kuat, Haruki mempercepat langkah kakinya. Semakin cepat dan semakin cepat hingga kurasakan angin sedikit meniup pelan rambutku. Kulirik kumpulan anak-anak yang tengah duduk menepi di samping bangunan...
Kuarahkan pandanganku menatap pada langit yang menghitam, tetesan-tetesan air yang jatuh sesekali masuk ke dalam mataku yang lambat berkedip. Tetesan-tetesan air tadi semakin cepat dan semakin tajam menghujani wajah dan tubuhku.
Lenganku pada leher Haruki semakin erat melingkar, rasa sakit pada punggungku semakin menjadi diikuti dengan semakin derasnya hujan yang turun. Kepalaku semakin dalam bersandar pada pundak Haruki, tatkala sinar putih nan cepat dengan suara bergemuruh mengelilingi sekitar...
Tubuhku semakin menggigil saat udara dingin menembus kulit, kugigit kuat bibirku yang bergerak gemetar tanpa kusadari. Kepalaku tersandar lemah pada pundak Haruki, tatapan beberapa orang yang berdiri menepi di pinggir-pinggir bangunan semakin mengabur dari pandanganku...
"Nii-chan," bisikku lemah, suaraku seakan tak kuasa lagi untuk keluar.
"Sa-chan, bertahanlah. Penginapannya ada di depan, bertahanlah sedikit lagi," ungkap Haruki membalas perkataan dariku dengan nada suara bergetar.
__ADS_1
Langkah kaki Haruki kurasakan bergerak semakin cepat dari sebelumnya, kadang terdengar suara napasnya yang semakin cepat terdengar di tengah-tengah hujan. Kualihkan pandanganku menatap kuda putih milikku yang masih terikat sama seperti saat aku meninggalkannya sebelumnya...
Air tak lagi menetes ke atas tubuhku, remangnya ruangan sekitar membuat pandangan mataku semakin terbatas. Tubuh Haruki bergerak ke samping, langkah kakinya terasa melamban saat kualihkan pandanganku menatap tangga kayu yang ia lewati...
"Minggir!" Teriakan Haruki sedikit menghentakkan tubuhku, kurasakan tubuhnya kembali bergerak naik ke atas.
Kualihkan pandanganku menatap seorang laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri merapat ke dinding tatkala tubuh Haruki berjalan melewatinya. Kutatap pintu kamar yang sama seperti pintu kamar yang kami lewati saat kami ingin ke kamar kami sebelumnya...
Haruki kembali menghentikan langkah kakinya, digerakkannya tubuhnya sedikit menyamping seraya diarahkannya siku lengan kanannya menyentuh gagang pintu berwarna gelap tersebut. Digerakkannya siku lengan kanannya tadi menggerakkan gagang pintu tadi ke arah bawah...
Pintu tak terbuka, masih tertutup seperti biasanya. Tubuhku tersentak saat terdengar suara yang mengagetkan telingaku, kuarahkan pandanganku menatap kaki Haruki yang bergerak menerjang pintu kamar berulang kali...
"Izumi!" Teriak Haruki kembali, tendangan kakinya pada pintu semakin sering dilakukannya.
"Sialan!"
Pintu kamar terbuka, kualihkan pandanganku pada serpihan kayu yang jatuh di lantai. Haruki melangkah masuk ke dalam kamar, masih kutatap lubang kunci di dinding kayu yang telah rusak tak lagi elok seperti sebelumnya. Haruki membalikkan tubuhnya, bergerak ia pelan menurunkan tubuhku di atas kasur yang masih terbaring di lantai seperti sebelumnya...
Haruki kembali beranjak berdiri, berlari ia mendekati pintu seraya ditutup dan ditahannya pintu tersebut dengan lemari kecil yang tak terlalu jauh dari pintu. Kugerakkan tubuhku berbaring menyamping seraya masih kutatap jari-jemariku yang bergerak diluar kehendak.
__ADS_1
"Sa-chan apa kau bisa menelungkup? Aku ingin mencabut pisau yang ada di pundakmu," ucap Haruki, kurasakan genggaman lemah yang memegang pundakku.
Genggaman tersebut mengarahkan tubuhku bergerak mengikuti arahannya. Tubuhku seakan mati rasa, rasanya sama persis ketika tubuhku ditembak oleh penjahat lima belas tahun yang lalu...
Aahh, benar... Sudah lima belas tahun sejak kejadian tersebut.
Suara sobekan kain mengusik telingaku, suara tersebut kembali dan kembali terdengar berulang-ulang. Kurasakan jari-jemarinya menyentuh kulitku, gigitan bibirku semakin kuat tatkala jari-jarinya bergerak semakin mendekati pundakku.
"Sa-chan, gigitlah kain ini," ungkapnya seraya kutatap kumpulan kain yang berbentuk layaknya bola di hadapanku.
Bola kain tadi bergerak semakin mendekati bibirku, kugigit kuat bola kain tadi dengan sangat erat agar tak terjatuh. Gigitanku pada bola kain tadi semakin kuat tatkala sesuatu yang menancap di pundakku tadi bergerak perlahan...
Kugenggam kuat kain yang menyelimuti kasur, rembesan air pada tubuhku tampak jatuh membasahi kain tersebut. Kupejamkan mataku yang menangis tanpa sadar...
Kepalaku terasa seakan dihancurkan saat rasa sakit di pundakku semakin menjadi. Benda yang menancap di pundakku bergerak perlahan dan perlahan...
Sakit, ini sakit sekali Tuhan.
"Sa-chan, apa kau baik-baik saja?" Kembali terdengar suara Haruki, kugerakkan kepalaku dengan sangat pelan mengangguk membalas perkataannya.
__ADS_1
"Aku akan membersihkan lukanya, jangan terlalu menggerakkan tubuhmu. Apa kau mengerti?" ungkapnya kembali, mengangguk lagi aku dengan pelan menjawab perintahnya seraya kembali terdengar langkah kaki melangkah menjauh meninggalkan.