
Aku menunduk dengan sangat cepat mengikuti teriakan laki-laki tadi, betapa terkejutnya aku saat kutatap seorang Kesatria musuh yang kepalanya telah ditancap dua anak panah sekaligus. Tubuh Kesatria musuh tersebut jatuh terjungkal ke belakang diikuti kedua kakinya yang terangkat ke atas sebelum kembali jatuh ke tanah.
“Hime-Sama,” suara beberapa laki-laki tiba-tiba kembali terdengar, kugerakan kepalaku menatapi Gritav yang telah berdiri di atas kuda miliknya diikuti beberapa orang Kesatria berkuda di belakangnya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Aku kembali membuka mulut kepada mereka, para Kesatria yang berkuda di belakang Gritav menggerakan kuda-kuda yang mereka tunggangi menjauh. “Gritav?” Kali ini aku menatapnya dengan sedikit membesarkan kedua mataku.
“Aku mengkhawatirkan keadaanmu, Hime-Sama,” ucapnya membalas perkataanku. “Tapi … Tapi, tapi bagaimana dengan benteng utama?” Aku kembali bertanya kepadanya.
“Pasukan bantuan telah datang, kita semua akan baik-baik saja Hime-Sama,” ucap Gritav menjawab perkataanku.
“Pasukan bantuan?” Ungkapku dengan sedikit kebingungan.
“Putri!”
“Putri?” Aku menggerakan kepalaku mencari suara yang memanggilku itu.
“Apa yang kau lakukan Putri? Menyingkirlah dari sana!”
Kepalaku mendongak ke atas saat bayangan hitam tiba-tiba melintas di atas kepalaku. Kuda berwarna cokelat yang melompati tubuhku tadi berhenti di depan pasukan musuh yang bergerak mengelilinya. Laki-laki yang duduk di atas kuda tersebut melompat turun diikuti kedua tangannya menarik dua buah pedang yang menggantung di kanan dan kiri tubuhnya.
Laki-laki tersebut menerjang kuat salah satu Kesatria yang berlari mendekatinya hingga tubuh Kesatria tersebut terjungkal ke belakang, menimpa beberapa orang Kesatria musuh yang ada di belakangnya. Laki-laki tersebut berbalik cepat dengan menganyunkan kedua pedang yang ada di tangannya itu ke belakang, pedang yang ia ayunkan tadi mengapit salah satu leher Kesatria musuh, kepala Kesatria musuh tadi mendongak ke atas dengan kondisi leher yang hampir putus saat laki-laki tersebut menggerakan pedang miliknya yang mengapit leher Kesatria musuh tadi.
__ADS_1
“Tsu nii-chan,” ucapku menatapnya saat Tsubaru mengangkat kakinya menindih tubuh salah satu Kesatria yang berhasil ia jatuhkan. Diangkatnya kedua pedang yang ada di tangannya itu menancap di perut Kesatria tadi seraya digerakannya kedua pedang tadi bergerak membelah perut Kesatria musuh tadi hingga terbentuk dua garis panjang yang membelahnya.
“Pelayan pribadimu, benar-benar menakjubkan Hime-Sama,” aku berbalik menatapnya saat Gritav mengatakan hal tersebut.
“Kau benar,” ucapku membalas perkataannya, kugerakan kedua tanganku mengangkat busur panah yang sebelumnya aku letakan menyilang di pundakku.
Kuarahkan anak panah milikku ke arah para pasukan musuh yang mulai kembali mengelilingi Tsubaru. Telapak tangan kananku bergerak bebas berusaha meraih anak panah yang ada di sana tapi tak kunjung ditemukan. “Kau membutuhkan anak panah Hime-Sama,” ucap Gritav dengan sekitar sepuluh anak panah di tangannya.
Kuraih satu anak panah yang ada di tangan Gritav lalu kuarahkan anak panah tersebut ke arah pasukan musuh yang tak kunjung habis berdatangan. Tsubaru membalikan tubuhnya, kedua kakinya berlari mendekatiku seraya diraihnya telapak tanganku dengan tangannya yang penuh akan darah dari musuh.
Ditariknya tubuhku oleh Tsubaru seraya sebelah tangannya yang masih menggenggam pedang, ia ayunkan ke arah musuh yang datang mendekat. Langkah kaki kami terhenti, sosok tinggi besar yang ada di hadapan kami menghentikan langkah kaki kami. “Adofo, dia di pihak kita,” ucapku kuat saat Adofo mengangkat tombak miliknya di hadapan kami.
“Adofo, dia laki-laki kepercayaan Hime-Sama,” ucap Gritav menimpali perkataanku, aku berbalik menatapnya yang tengah mencengkeram rambut salah satu Kesatria musuh lalu menarik rambut tersebut hingga tubuh Kesatria tersebut ikut terseret di samping tubuhnya.
“Ayah? Ayah ada di sini?” Tsubaru menganggukan kepalanya membalas perkataanku.
“Pergilah Putri, kami akan menyelesaikan semuanya,” ucapnya kembali, Tsubaru bersiul yang disusul oleh seekor kuda yang berjalan mendekat.
Kuda tersebut menghentikan langkah kakinya di samping kami, Tsubaru menarik pelan tanganku tadi dengan kemudian mengangguk menatapku. Kulangkahkan kakiku menaiki kuda tersebut saat Tsubaru melepaskan genggaman tangannya di lenganku tadi. “Tsu nii-chan, berhati-hatilah,” ucapku menatapnya, Tsubaru kembali menganggukan kepalanya menatapku.
“Kalian berdua juga, berhati-hatilah,” ucapku dengan mengarahkan kepala ke arah Gritav dan juga Adofo bergantian.
__ADS_1
Kugerakan kedua tanganku yang mengenggam tali kekang kuda tersebut, kuda berwarna cokelat tersebut berlari cepat meninggalkan mereka semua yang ada di belakang. Kuda tersebut kubawa menyusuri jalan yang ditunjukan Adofo sebelumnya … Tubuhku tiba-tiba jatuh ke belakang diikuti rasa sakit di leherku. Kuangkat telapak tanganku menyentuh leherku tadi seraya kepalaku bergerak menatap kuda milik Tsubaru yang berhenti jauh di hadapanku.
Kuarahkan kedua telapak tanganku menyentuh tanah seraya kugerakan tubuhku berusaha beranjak berdiri. Rasa sakit yang menjalar di punggung bagian bawahku semakin terasa saat aku telah kembali beranjak berdiri.
Apa yang terjadi?
Bagaimana aku bisa tiba-tiba jatuh dari atas kuda?
Kuangkat telapak tangan kananku menepuk-nepuk beberapa kali punggungku, langkah kakiku yang hendak mendekati kuda milik Tsubaru terhenti. Kedua mataku membesar saat kutatap salah satu laki-laki yang memimpin pasukan musuh telah berdiri di hadapanku. Laki-laki yang aku maksudkan adalah laki-laki yang meminum darah ular sebelumnya.
Laki-laki tersebut mengerakan kuda miliknya mendekatiku, aku berjalan mundur dengan sebelah tanganku bergerak ke belakang. “Sialan!” bisikku pelan saat aku tersadar kembali jika anak panahku yang ada di punggung telah habis.
Apa yang harus aku lakukan?
Mengambil pisau kecil yang menyelip di sepatuku? Tapi hal itu akan percuma, aku tidak akan bisa menyentuhnya dengan hanya bermodalkan pisau kecil.
Dengan cepat aku berbalik lalu berlari menghindari laki-laki tersebut. Semakin cepat aku berlari, semaki cepat pula kuda yang ia tunggangi itu mengejarku. Aku tersungkur ke depan, bagian belakang tubuhku terasa berat saat kurasakan sesuatu menindih punggungku. Kepalaku kembali sedikit mendongak ke atas saat injakan di punggungku itu semakin kuat terasa.
“Aku … Aku, ingin sekali meminum darah dari perempuan sepertimu. Jadi matilah, matilah agar aku bisa memeras seluruh darah yang ada di dalam tubuhmu itu,” ucap laki-laki tersebut kembali bersuara diikuti tulang-tulangku yang semakin terasa remuk saat injakan yang ada di punggungku itu semakin bergerak tak menentu.
“Kou,” ucapku pelan diikuti suara batuk yang mengiringi ucapanku tadi.
__ADS_1
Perkataanku terhenti saat suara benda jatuh terdengar keras di sampingku, kugerakan kepalaku ke samping. Aku sedikit tersontak saat kutatap laki-laki tadi yang telah berbaring di sampingku dengan kedua matanya yang membelalak. Bukan hanya itu, darah yang mengalir di mulutnya semakin menggenang di sekitar wajahnya. Tubuhku terhentak, kugerakan sedikit mataku melirik ke arah belakang saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku.