Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXIV


__ADS_3

“Apa yang kau maksud? Zeki, apa maksudnya ini? Apa yang dia katakan benar?” Aku menatapnya yang masih mengarahkan pandangannya ke arahku.


“Jangan diam dan berpura-pura tidak mengerti Zeki, kau pasti paham apa yang ia maksudkan bukan?!”


“Apa kita harus membahasnya di sini?” Kedua mataku membesar saat mendengarnya.


“Daisuke,” ucapku menoleh ke arahnya, “aku tahu jika kalian sedang menjalankan tugas, tapi bisakah?” Tanyaku dengan menggigit bibirku yang bergetar ketika berbicara itu, aku mengembuskan napas sebelum mengangkat lagi kepala menatapnya.


Daisuke menghela napas, “Arata, Makoto, kawal Putri kembali ke Istana. Dan sisanya, kalian berempat … Ikuti aku!” Tukas Daisuke, dia membungkukkan tubuhnya sebelum kembali beranjak melangkahkan kakinya menjauh.


“Demi keamanannya, kalian berdua,” ucap Arata melirik ke arah Zeki dan Costa bergantian, “berjalanlah sedikit menjauh dari kami. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawa kalian, di sini, saat ini juga,” sambung Arata lagi berucap.


“Hime-Sama,” aku menoleh sedikit ke belakang, kedua kakiku melangkah maju saat Makoto mengangkat sebelah tangannya ke depan.


“Hime-Sama, apa kau tidak ingin menunggangi kuda?” Kepalaku kembali terangkat lalu menggeleng pelan, “kita jalan kaki saja. Lagi pun, aku hanya ingin berjalan untuk menenangkan pikiran,” ungkapku lagi dengan tetap menatap lurus ke depan.


_____________________


Semakin lama kami berjalan, gerbang Istana semakin jelas terlihat. Pikiran yang bergemelut di kepalaku membuat rasa penatku menghilang entah ke mana, “buka gerbangnya!” Aku sedikit melirik ke belakang saat suara Zeki terdengar berteriak.


Gerbang kayu yang ada di hadapan kami perlahan dibuka, aku melangkah masuk dengan melirik ke arah Kesatria yang masih berdiri di sisi kiri dan kanan kami. Langkah kakiku berhenti, kugerakkan tubuhku berbalik ke belakang, “jadi, tepatnya di mana kau ingin membicarakannya, Zeki?” Tukasku menatapnya.


Zeki berjalan melewati kami, “Ikuti aku!” Perintahnya tanpa menoleh ke arahku.


Aku menghela napas sebelum melangkahkan kaki mengikutinya. Zeki membawa kami ke ruang pertemuan, dia menghentikan langkah kakinya di depan anak tangga lalu berbalik menatap kami, “aku tidak ingin jika ada seorang asing yang mengikuti pembicaraan kita, Sachi,” tukasnya dengan melirik ke arahku.

__ADS_1


“Aku tidak mempermasalahkan kedua kesatria itu, tapi untuk yang lainnya tidak,” ucapnya kembali berbalik, Zeki melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga yang ada di hadapan kami.


Aku menoleh ke arah Costa, “aku akan menunggumu di sini, Putri,” ucapnya, aku menganggukkan kepalaku seraya kulangkahkan kakiku menaiki tangga mengikuti langkah kaki Zeki dengan Arata dan juga Makoto yang ikut berjalan di belakangku.


Pintu kayu yang ada di hadapan kami terbuka, “jangan biarkan siapa pun mendekat,” ucapnya melangkah masuk, Kesatria yang membukakan pintu untuknya tadi masih membungkukkan tubuhnya seperti sebelumnya.


Aku ikut melangkah masuk, kulirik ruangan sekitar yang telah bersih seakan tak terjadi apa pun sebelumnya, bahkan secuil noda darah pun tak terlihat di lantai, “apa yang ingin kau ketahui?” Aku kembali menoleh ke arah suara Zeki yang terdengar.


Langkah kakiku berjalan mendekatinya, “aku ingin kau menjelaskan semuanya,” ucapku yang telah berdiri di hadapannya.


Zeki mendongakkan kepalanya menatapku dengan sebelah tangannya menepuk anak tangga yang ia duduki, “duduklah,” ucapnya dengan terus menatapku.


“Apa kau tidak mempercayaiku?” Tukasnya lagi, dia melirik ke samping kiri tubuhnya.


“Para pangeran dan juga putri yang selamat, memang setelahnya dipinta untuk melakukan kontrak perjanjian. Tapi, bukan perjanjian seperti yang kau pikirkan,” ucap Zeki terdengar di sampingku.


“Saat kalian bertiga pulang, tangan kanan Kaisar mengumpulkan kami di sebuah ruangan. Dia mengancam kami untuk tidak membeberkan rahasia yang kami lihat di hutan larangan, karena jika rahasia itu terkuak … Itu akan berpengaruh buruk pada Kekaisaran.”


“Kau pasti ingat dengan jelas bukan? Bagaimana kemampuan Danur yang dapat merasakan sihir?” Aku menganggukkan kepalaku menatapnya.


“Saat kami dikumpulkan, mereka memberikan banyak sekali jamuan makanan. Tapi Danur, meminta kami untuk jangan memakannya … Aku lupa apa yang dia katakan, tapi jika aku tidak salah ingat, dia mengatakan jika seluruh makanan itu diselimuti kutukan.”


“Kami dikurung beberapa hari di sana, jadi mau tidak mau mereka yang berada di dalam ruangan harus memakan jamuan itu untuk bertahan hidup, aku bahkan masih mengingat jelas … Bagaimana Julissa mati-matian melarang Kakaknya untuk jangan memakan jamuan itu,” ucapnya dengan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


“Kau tenang saja, mereka yang dahulu satu kelompok denganmu … Tidak ada yang berada di bawah sihir Kaisar, jika pun ada … Kou mungkin sudah membunuhku dari jauh-jauh hari,” sambungnya dengan kembali menoleh ke arahku.

__ADS_1


“Kutukan?” Gumamku dengan menggerakkan kedua mataku melirik ke sekitar, “Kou, apa kau pernah merasakan kutukan itu?” Tanyaku dengan sangat pelan terdengar.


“Pernah, beberapa kali. Aku tidak memberitahukannya karena yang dikutuk tidak sadar jika mereka telah dikutuk,” jawaban Kou melintas di kepalaku.


“Kapan? Kapan kau merasakannya?”


“Laki-laki dan perempuan saat kau bertemu kembali dengan laki-laki yang ada di sebelahmu, dan juga perempuan yang kalian bawa berlayar berserta laki-laki yang mati tidak lama ini,” ucapan Kou kembali terdengar di dalam pikiranku.


“Laki-laki dan perempuan saat aku bertemu dengan Zeki, dan juga laki-laki,” ucapanku terhenti, kedua mataku membesar seraya gigitan di ujung jariku semakin menguat, “Putri Khang Hue dan juga Kakaknya, berserta Yoona dan juga kakaknya. Apa mereka semua-”


“Kou,” ucapku kembali memanggilnya, “apa kau tahu? Kutukan apa itu?” Tanyaku lagi kepadanya.


“Maaf, My Lord, aku tidak mengetahuinya. Sihirnya sangat kecil, untuk makhluk seperti Lux saja, akan sangat sulit merasakannya. Jangan terlalu sering berada di dekat mereka, mata hijau yang kau miliki, seperti pisau bermata dua untuk sebuah kutukan,” ucapnya kembali terlintas.


“Apa yang kau maksudkan?”


“Leluhurku hanya memberikan informasi seperti yang aku sampaikan, sisanya … Itu tugasmu untuk mencari tahu semuanya sendiri, My Lord. Aku hanya terlahir untuk melindungimu, bukan untuk melindungi manusia yang lain,” ungkapnya yang semakin lama semakin kabur terdengar.


“Hime-Sama,” aku mengangkat kepalaku menatap Arata yang bersuara. “Ada apa denganmu, Hime-Sama? Dan juga, dengan siapa kau berbicara?” Dia bertanya dengan mengarahkan pandangannya ke sekitar.


“Dengan hewan menakjubkan, yang akan aku kenalkan kepadamu, segera,” ucapku tersenyum menatapnya.


Aku kembali menundukkan pandangan, pikiranku hanyut memikirkan semua yang terjadi selama ini, “ada apa?” Aku kembali mengangkat kepalaku menatap Zeki saat kurasakan sentuhan pelan yang menyentuh punggungku.


“Aku, hanya meragukan … Apakah sebenarnya aku ini, seorang manusia atau bukan,” ucapku kembali menghindari tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2