Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLV


__ADS_3

"Kalian benar-benar melakukannya," suara Lux berbisik di telingaku, "aku terpaksa melakukannya. Karena ikut perang taruhannya nyawa, memaksa seseorang untuk mengikutinya akan menyulitkan untukku sendiri dalam memimpin pasukan. Karena itu," ucapku terhenti, kepalaku kembali tertunduk menatap jubah cokelat yang menutupi kepala Cia.


"Kau ingin mereka sendiri yang mengajukan diri ikut dalam peperangan," bisik Lux kembali pelan terdengar, "kau benar. Karena jika mereka sendiri yang ingin melakukannya, kekuatan mereka akan bertambah dua kali lipat dibanding sebelumnya tanpa mereka sadari, dan itu akan menjadi keuntungan yang sangat bagus untuk kita," aku balas berbisik pelan padanya.


"Lux," ucapku kembali pelan, "tidak perlu mengingatkan aku. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Percayalah padaku," ucapnya membalas perkataanku.


Kuda yang kami tunggangi berjalan beriringan menyusuri hutan, suara besi dari baju-baju zirah yang dikenakan para Kesatria mengiringi perjalanan kami. Arata menuntun kami memasuki sebuah goa yang ada di sudut hutan, "berhati-hatilah. Di dalam sangat licin, akan berbahaya jika kalian tergelincir di sana," ucap Arata menoleh sebelum mengarahkan kudanya memasuki mulut goa tersebut.


"Sachi, jangan menunggangi kudamu terlalu jauh dariku," ucap Izumi, "aku mengerti, nii-chan," balasku seraya menganggukkan kepala menatapnya.


Aku kembali mengarahkan pandangan ke arah mulut goa, kugerakkan kudaku berjalan pelan memasuki goa tersebut. Aneh, goa tersebut telah dipenuhi obor menyala yang menempel di dinding batu sepanjang goa itu.


Arata menghentikan kuda yang ia tunggangi, empat orang laki-laki bertubuh besar yang aku lihat sebelumnya bersamanya telah berdiri di hadapan kami dengan lima ekor kuda berdiri di samping mereka.


"Kakak, kami telah menerangi goa sesuai perintahmu," ucap salah seorang laki-laki, "bagus, kalian memang sangat dapat diandalkan," balas Arata sembari menggerakkan kudanya berbalik ke arah kami.


"Ujung goa ini berakhir di sebuah pertambangan tak terpakai yang tak terlalu jauh dari Ibukota Kerajaan Tao. Jadi jika kita melewatinya, kota-kota lain yang ada di sekitar ibukota tidak akan mengetahui keberadaan kita," ucap Arata menatapi kami bergantian.


"Kakak, apakah mereka yang kau katakan harus kita bantu?"


"Tutup mulutmu!" Arata memotong perkataan salah seorang laki-laki, "kalian harus menghormati kedua laki-laki yang ada di sana, dan juga perempuan yang ada di sana," sambung Arata dengan mengarahkan telapak tangan kanannya ke arahku.

__ADS_1


"Kami mengerti kak," jawab seorang laki-laki, sebelah tangannya bergerak memukul kepala laki-laki yang berbicara sebelumnya.


"Apa kau sudah bisa berkuda sendirian?" Ucap Arata dengan sedikit menggerakkan kepalanya menoleh ke arah Eneas yang duduk di belakangnya.


"Aku sudah membaik, aku akan berkuda sendirian," ucap Eneas, "apa kau yakin Eneas?" Aku balik bertanya saat kudaku berhenti di samping mereka.


"Aku baik-baik saja nee-chan. Aku sudah terlalu lama berisitirahat, jadi sekarang ... Aku benar-benar baik-baik saja," ungkapnya, Eneas sedikit menggerakkan kudanya mengangguk ke arahku.


"Jangan terlalu memaksakan diri," ungkapku kembali padanya, "tentu, aku tidak akan melakukannya," sambungnya dengan sedikit tersenyum menatapku.


________________


Lama kami menunggangi kuda menyusuri goa, suara besi yang bergesekan diikuti suara langkah kaki kuda semakin jelas terdengar di dalam goa. "Hime-sama," kepalaku bergerak menoleh ke arah Arata yang telah menggerakkan kuda miliknya di sampingku.


"Tapi aku terlihat biasa saja?" Tanyaku memotong perkataannya, Arata menganggukkan kepalanya membalas perkataanku.


"Aku sudah mengikuti beberapa peperangan, aku juga sudah berkali-kali hampir mati selama perjalanan. Karena itu, bisa dikatakan aku sudah sedikit merasa terbiasa. Karena aku tidak ingin mati dengan sangat mudah, maka aku harus menghancurkan siapa pun yang berniat menghalangi keinginanku," ucapku, kepalaku kembali tertunduk menghindari tatapannya.


"Putri yang aku besarkan, memiliki hati yang baik. Dia, bahkan mungkin tidak akan sanggup untuk membunuh seekor semut. Akan tetapi, dia selalu memaksakan dirinya sendiri. Dia tumbuh kuat untuk melindungi mereka yang ingin dia lindungi, maka sudah sepantasnya aku mendukung semua yang ingin ia wujudkan. Kata-kata yang Tsubaru ucapkan, saat kami semua berkumpul di Istana ketika upacara kematian kalian enam tahun yang lalu," ucap Arata, aku sedikit melirik ke arahnya yang juga telah menundukkan pandangannya.


"Aku telah menunggu saat-saat ini, semua wakil Kapten ... Menunggu untuk berperang di bawah perintah langsung darimu Hime-sama. Sama sepertiku, kami semua menganggap Sora seperti rumah kami. Walaupun, kami berasal dari wilayah yang berbeda, namun nama Arata yang aku miliki sekarang ... Diberikan langsung oleh Yang Mulia, aku hidup kembali sebagai Arata karena Yang Mulia."

__ADS_1


"Jadi, jika Yang Mulia melarang kami untuk mengikutinya terjun ke dalam api sekali pun, kami tetap akan mengikutinya. Karena bagi sepuluh Wakil Kapten, Yang Mulia..."


"Sudah seperti Ayah kalian sendiri, aku benar bukan?" Ungkapku memotong perkataannya, "itu benar. Beliau sudah seperti Ayahku sendiri," ucapnya dengan tetap tertunduk, tampak terlihat senyum kecil di ujung bibirnya.


"Kak, kita hampir sampai," suara laki-laki yang terdengar sedikit mengalihkan pandanganku, "benarkah? Kalau begitu, persiapkan diri kalian ... Kerajaan Tao, ada di depan mata kita sekarang," ucap Arata, kuda yang ia tunggangi melangkah maju melewatiku.


Kugerakkan kudaku berjalan perlahan menyusul mereka, kondisi goa yang sedikit licin beberapa kali hampir membuatku terjungkal dari atas kuda. Kepalaku bergerak sedikit menoleh ke belakang, raut wajah kelelahan tampak samar terlihat oleh sedikitnya cahaya yang ada di dalam goa.


Udara dingin nan lembab yang menyelimuti tubuh ketika berada di dalam goa berubah hangat saat kudaku melangkah keluar darinya. Kepalaku menoleh ke sekitar menatap tebing-tebing batu yang mengelilingi kami.


"Lewat sini," ucap Arata menggerakkan kudanya berjalan mendekati celah lubang yang terhimpit tebing batu.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanyaku pada empat orang laki-laki yang menunggangi kuda milik mereka mengelilingiku.


"Kakak, meminta kami untuk menjaga Nona," ucap salah seorang laki-laki, "Sudah berapa lama kalian mengikutinya?" Aku balik bertanya tanpa menoleh ke arah mereka.


"Sudah sejak lama, dia laki-laki yang baik Nona. Kau tidak akan menyesal memilihnya," ucap suara laki-laki itu kembali.


"Entahlah, aku pikir dia lebih pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku," ucapku tersenyum menatap laki-laki tersebut.


"Shen, aku akan membunuhmu jika kau membuka mulutmu lebih dari ini!" Arata meninggikan suaranya, dia menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Maaf kecerobohan yang aku lakukan, Kakak," laki-laki tersebut menjawab perkataan Arata dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dari atas kudanya.


"Hentikan kalian semua! Persiapkan diri kalian! Tao, berada tepat di depan mata kita!" Teriakan Haruki mengalihkan pandanganku, kuarahkan mataku menatap atap Istana berselimut emas yang dikelilingi benteng batu tinggi, jauh di bawah bukit tandus yang kami pijak sekarang.


__ADS_2