
"Kalian lihat itu bukan?" ucapku tersenyum ke arah mereka seraya kugerakkan kudaku mendekati Danurdara yang juga menunggangi kudanya semakin mendekat ke arahku.
"Sa-sachi, syu-syukurlah ka-kau ba-baik ba-baik sa-saja," ucapnya seraya turun dari kuda yang ia tunggangi, berjalan ia mendekatiku lalu menggenggam kedua tanganku.
"Sa-saat a-aku me-merasakan si-sihir Ko-kou, a-aku la-langsung ke-ke si-sini me-menemuimu," ucapnya lagi, ditatapnya lama aku olehnya.
"Apa aku membuatmu khawatir?" ungkapku tersenyum balas menatapnya.
"Te-tentu sa-saja, ka-kau te-temanku," sambungnya, diangkatnya telapak tanganku tadi menempel di dahinya.
"Maaf Danur, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Lagipun, aku dengar kau akan menikah. Aku jauh-jauh datang ke sini untuk melihat temanku menikah," ungkapku lagi padanya.
"Kau tumbuh semakin tampan dari terakhir kali kita bertemu," ucapku seraya diangkatnya kepalanya menatapku.
"Ka-kau ju-juga tu-tumbuh se-semakin ca-cantik," ucapnya balas tersenyum menatapku.
"Lama tidak bertemu Danur," ucap Haruki menggerakkan kudanya mendekat.
"La-lama ti-tidak be-bertemu, Ha-Haruki, I-Izumi," ungkapnya menatap kedua Kakakku bergantian seraya dilepaskannya genggaman tangannya padaku.
"Ka-kakakku pa-pasti a-akan se-senang be-bertemu ka-kalian la-lagi," ucapnya lagi seraya meraih jabatan tangan yang ingin di lakukan Haruki.
"I-ikuti a-aku," ucap Danur kembali, dilepaskannya genggaman tangannya dari Haruki. Berjalan ia mendekat kembali ke kudanya seraya naik ia menunggangi kuda tersebut di hadapan kami.
Kesatria yang berada di belakangnya sebelumnya bergerak meminggir seakan memberikan jalan untuk kami. Kugerakkan kudaku menyusul Haruki yang juga telah menunggangi kudanya di samping Danurdara.
Menoleh aku ke belakang, kutatap Izumi, Eneas, Emre dan juga Erol berserta puluhan Kesatria yang mengikuti Danurdara sebelumnya menunggangi kuda mereka di belakang kami...
__ADS_1
Kembali kuarahkan pandanganku ke depan, tampak terlihat Danurdara tak henti-hentinya berbicara dengan Haruki yang ada di sampingnya. Kualihkan pandanganku ke sekitar, kutatap para penduduk yang berdiri meminggir dengan membungkukkan tubuhnya ke arah kami...
"Putri, apa temanmu selalu berbicara seperti itu?"
Kuangkat kaki kananku menendang tubuh Aydin yang menunggangi kudanya di sampingku, kulirik kudanya yang berjalan ke samping diikuti oleh tubuhnya. Haruki dan Danurdara menghentikan langkah kuda mereka seraya menoleh mereka ke arahku.
"Ada apa Sa-chan?"
"Tidak ada apa-apa nii-chan, percayalah padaku," ungkapku balas menatap mereka, ikut terdengar seseorang menahan tawa di belakangku.
Haruki dan Danurdara kembali membalikkan pandangannya, kembali digerakkannya kuda-kuda mereka seperti sebelumnya. Menoleh aku ke arah Aydin yang masih menggosok-gosok pinggangnya, kuangkat jari telunjuk berserta tengah ke arah mataku lalu kuarahkan kembali kedua jariku tadi ke arah Aydin, kutatap dia yang tersenyum lebar menanggapi perbuatanku...
Berbalik aku mengalihkan pandangan darinya, kembali kugerakkan tali kekang yang aku genggam. Kuda putih milikku tadi kembali berjalan mengikuti mereka dari belakang.
"Sa-sachi," ucap Danur berbalik menatapku.
"Aku tahu," ucapku memotong perkataanya.
"A-aku a-akan me-mendukung se-semua ke-keputusanmu," ucapnya lagi seraya mengangkat sebelah tangannya yang ia genggam.
"Terima kasih, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku," balasku tersenyum menatapnya.
Kembali ia berbalik ke depan, kuarahkan pandanganku ke arah persawahan yang membentang hijau di samping kiri tubuhku. Kutatap para laki-laki yang tengah menarik sepasang hewan seperti sapi berwarna cokelat kehitaman dengan beberapa laki-laki yang lain tengah memanggul sebuah kayu berbentuk seperti ketapel, namun bukan ketapel... Entahlah, namun yang pasti, mereka semua bahu-membahu membawa kayu tadi menjauhi area persawahan.
Kuarahkan kembali pandanganku ke depan, kutatap jalan setapak yang membentang panjang di hadapan kami. Entah berapa lama kuda-kuda kami berjalan...
Kupandangi sebuah jembatan kayu yang terbentang di hadapan kami, kugerakkan kudaku berjalan pelan melewatinya seraya kuarahkan pandanganku pada gemericik sungai dangkal nan jernih yang ada di bawah jembatan yang aku lalui.
__ADS_1
Batu-batu kecil yang bertebaran di dalamnya nampak jelas terlihat dibalik jernihnya air. Kembali kugerakkan pandanganku ke depan, langkah kaki kuda kami berjalan melewati rumah-rumah kayu berbagai ukuran yang ada di kanan dan kiri kami...
Beberapa penduduk yang semula berjalan langsung meminggirkan tubuh mereka seakan memberikan jalan untuk kami lewati. Kuarahkan pandanganku menatap ke atas, silau mentari yang semakin naik ke puncak mengaburkan pandanganku...
"Ki-kita a-akan se-segera sa-sampai," ucapnya, menoleh aku ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan.
Pandangan mataku menyipit, jauh di sana terlihat beberapa orang yang berdiri. Salah satu dari mereka tak henti-hentinya mengangkat dan melambaikan tangannya ke arah kami.
Danurdara mempercepat langkah kudanya, kualihkan pandanganku pada Haruki yang juga melakukan hal yang sama. Ikut kupercepat langkah kaki kudaku menyusul mereka...
"Lux berpeganglah yang kuat," bisikku padanya.
Kuarahkan tubuhku sedikit membungkuk ke depan, kuda yang aku tunggangi semakin cepat dan semakin cepat berlari. Semilir angin yang melewati sela-sela rambutku semakin kuat terasa...
Danurdara dan Haruki menghentikan langkah kuda mereka, ikut kutarik tali kekang yang aku genggam ke belakang. Kuda yang aku tunggangi ikut berhenti bersamanya...
Kuraih telapak tanganku meraih rambutku yang terbang tak menentu sebelumnya seraya kuarahkan kembali menutupi pundakku. Kutatap Adinata yang tumbuh semakin dewasa di hadapan kami, berjalan ia mendekati Kakakku Haruki seraya diraihnya dan digenggamnya telapak tangan Haruki olehnya...
"Kalian bertiga memang tak henti-hentinya membuatku kagum," ucapnya seraya menatap Kakakku itu, Haruki menggerakkan sebelah telapak tangannya menggenggam telapak tangan Adinata yang menggenggamnya.
"Kau terlihat baik-baik saja Adinata."
"Kau pun sama baiknya Haruki," ucapnya balas menatap Haruki.
"Hime-sama," ucapnya lagi seraya mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Selamat datang di Kerajaan Balawijaya," sambungnya tersenyum menatapku.
__ADS_1