Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXCVIII


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucapku menatapnya, kuarahkan telapak tanganku menyentuh pundaknya saat ia meraih pinggangku lalu mengangkat tubuhku turun dari atas kuda.


"Kunjungan Kerajaan," ucapnya tersenyum menatapku, dilepaskannya kedua tangannya yang memegang pinggangku tadi.


"Siapa dia?" Ucapnya kembali menatapku, jari telunjuknya mengarah ke arah Cia yang masih duduk di atas kuda menatap kami.


"Aku belum sempat memberitahukannya, dia Cia... Kami menemukannya saat dia hampir dijual menjadi budak oleh seseorang. Lihat matanya, sama persis seperti Kakakku bukan?" Ucapku meraih tubuh Cia lalu menggendongnya.


"Pertanyaan yang sama, kenapa kau tidak membalas surat ku?" Ungkapnya melangkahkan kakinya berjalan di sampingku.


"Aku ingin cepat-cepat membalasnya, akan tetapi... Banyak sekali hal yang terjadi akhir-akhir ini, aku berniat membalasnya ketika sampai di kapal, sebuah kejutan besar untukku... Orangnya sendiri yang telah muncul di hadapanku..."


"Pertanyaan yang sama untukmu, apa yang kau lakukan di sini, wahai Raja Yadgar?" Ucapku lagi seraya berbalik melangkah mendekatinya.


"Aydin melakukan kunjungan di Kerajaan saat surat dari Haruki datang, aku mengkhawatirkan keselamatanmu jika berada dekat dengan laki-laki itu, jadi aku memutuskan untuk mengikutinya menjemput kalian," ucapnya kembali tersenyum menatapku.


"Lalu, bagaimana dengan Kerajaan? Kau meninggalkannya begitu saja?"


"Aku meminta Viscount Okan untuk membantuku mengurus masalah Kerajaan. Aku tahu, jika dia salah satu orang kepercayaan Kakakmu," ucapnya berjalan melewati.


"Kau benar-benar," ucapku mengikuti langkah kakinya.


Pandangan mataku menunduk menatap Cia saat kurasakan tarikan pada jubah yang aku kenakan. Cia menatapku dengan kedua pipinya yang menggelembung, seluruh wajahnya pucat pasi dipenuhi keringat.


"Zeki, bawa dia ke pinggir kapal. Aku akan memberikan obat untuknya," ucapku mengangkat Cia mendekatinya, Zeki masih diam menatapku dengan menggendong Cia menggunakan sebelah tangannya.


"Apa yang kau tunggu, cepat bawa dia ke sana," ungkapku mendorong punggungnya berjalan mendekati bagian samping kapal.


Langkah kaki kami berdua berhenti, aku meminta Zeki menggendong Cia dengan kepalanya menghadap ke laut. Kutepuk-tepuk dengan sangat pelan punggung Cia saat semua isi perutnya ke luar jatuh bersama air laut...

__ADS_1


Aku mengarahkan tangan merogoh ke dalam tas, kuraih botol kecil keramik yang ditutupi kain kuning dari dalam tas. Kutatap Zeki yang sedang menyapukan sapu tangan di tangannya ke bibir Cia yang tertunduk diam di gendongannya.


"Cia, makanlah," ucapku membuka penutup botol tadi, ku arahkan ramuan obat berbentuk bulat-bulat kecil yang jatuh dari botol keramik tadi di atas telapak tanganku ke arah Cia.


"Buka mulutmu Cia," ucapku kembali saat dia menyembunyikan kepalanya di bahu Zeki.


"Eneas," ucapku dengan nada tinggi saat kutatap dia yang tengah berbicara dengan beberapa orang perompak.


"Kau memanggilku nee-chan?" Ucapnya berbalik melangkah mendekati.


"Dia tidak ingin meminum obat ini, bisakah kau membujuknya?" Ungkapku memberikan beberapa butir ramuan obat tadi kepadanya.


"Cia, apa kau ingin bermain bersamaku?" Ungkap Eneas saat butiran obat tadi telah berpindah di genggamannya.


"Ma-in?" Ucapnya berbalik menatap Eneas, Eneas tersenyum mengangguk menatapnya dengan kedua tangannya mengarah ke arah Cia.


Cia menggerakkan tubuhnya berbalik ke arah Eneas, diraihnya tubuh Cia lalu berjalan Eneas meninggalkan kami dengan Cia berada di gendongannya. Aku menyandarkan tubuh pada dinding di samping kapal, kepalaku tertunduk sembari helaan napas berulang kali keluar...


"Aku hanya lelah," Balasku saat kepalaku tadi bersandar di pundaknya.


"Tanganmu," ucapnya mengarahkan telapak tangannya ke arahku, kuraih dan kugenggam telapak tangannya tersebut.


"Aku bersyukur kau baik-baik saja. Saat kudengar jika kalian kabur dari para pelayan pribadi kalian, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu," ucapnya, semakin kuat genggaman tangannya di tanganku.


"Kami harus melakukannya, jika tidak... Kami tidak akan tahu, apa yang akan terjadi ke depannya jika kami membuang-buang waktu. Lagi pun, aku ingin menyelesaikan semua ini secepatnya," ucapku, kugerakkan wajahku semakin terbenam di lengannya.


"Apa kau tahu, aku ingin sekali mengurung mu agar kau tidak pergi jauh ke tempat yang tidak bisa aku datangi," ucapnya, kurasakan sentuhan diikuti udara hangat menyentuh dahiku.


"Apa yang kau lakukan?" Ucapku berjalan ke samping menghindarinya sembari kuarahkan sebelah tanganku menyentuh dahi.

__ADS_1


"Hanya mencium kening mu," ucapnya dengan mengarahkan jari telunjuknya menyentuh dahinya.


"Kau-kau bodoh, bagaimana bisa kau melakukannya?!" Ucapku berbalik melangkahkan kaki menjauhinya.


Aku lupa, sudah tak terhitung... Berapa hari, aku tak membersihkan tubuh. Aku terkejut bertemu dengannya sampai aku melupakan hal penting itu.


"Sachi," ucapnya mengikuti langkahku memasuki lorong kapal.


"Jangan mengikutiku!"


"Darling," ucapnya lagi sambil terus berjalan di belakangku.


"Sudah kukatakan, jangan mengikutiku. Apa kau..." Ucapanku terhenti saat tubuhku berbalik ke belakang.


Zeki menarik lenganku, tubuhku bergerak mendekatinya saat kurasakan rangkulan pada pinggangku yang ia lakukan. Dibenamkannya kepalanya menyentuh leherku, semakin aku bergerak mundur ke belakang, semakin kuat juga rangkulan yang Zeki lakukan di pinggangku.


"Zeki," ucapku pelan sembari kugerakkan kedua telapak tanganku mendorong tubuhnya sedikit ke belakang.


"Tunggu sebentar lagi," ucapnya mengangkat kepalanya menatapku.


"Tunggu sebentar lagi?"


"Bukan apa-apa, itu hanya kata-kata yang aku gunakan untuk menenangkan diri," ucapnya melepaskan pelukan, dia berbalik melangkahkan kakinya berjalan menjauhiku.


"Bersihkan tubuhmu secepatnya," ucapnya kembali berbalik dengan sebelah tangannya membuka sebuah pintu yang ada di sampingnya.


"Kau menjengkelkan sekali. Aku sudah berusaha menghindar agar bau tubuhku tak mengganggumu. Apa kau harus terang-terangan mengatakannya seperti itu," ucapku berjalan masuk ke dalam pintu yang ia buka sebelumnya.


"Aku mengatakannya bukan karena aku tidak menyukainya. Kau bodoh sekali Takaoka Sachi," ucapnya membanting pintu tersebut saat aku telah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi, katakan yang kau ucapkan tadi kepadaku, dan buka pintunya," ucapku berjalan mendekati pintu yang tertutup lalu memukul-mukulnya berulang-kali.


"Aku menyukai bau tubuhmu terlebih lagi jika ia dipenuhi keringat, dan itu membuatku tak bisa berpikir jernih. Karena itulah, aku tidak ingin ada laki-laki lain yang menciumi bau tubuhmu itu, apa kau paham?!" Ucapnya setengah berteriak dari balik pintu cokelat yang ada di hadapanku.


__ADS_2