
"Bagaimana kau bisa memainkannya?" tukas Raja Ismet yang telah berdiri di sampingku
"Maksudnya Piano?" tanyaku bingung
"Piano?" balasnya yang juga ikut bingung menatapku
"Kalian memainkannya tapi tidak mengetahui namanya?" ucapku balik menatapnya
"Ini harta Kerajaan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi, dan hanya satu keluarga yang bisa memainkannya, itupun mereka hanya bisa memainkan satu lagu." ucap Raja Ismet kembali, tampak pemain yang memainkan piano sebelumnya menganggukkan kepalanya
"Lihat, ukiran bunga mawar yang ada di sana! Itu simbol dari sihir waktu, yang berarti benda ini tidak akan rusak sampai kapanpun."
"Dan kau, kau bisa memainkannya bahkan bernyanyi sambil memainkannya." Sambungnya semakin menatap tajam ke arahku
Apa ini? Aku pikir tidak adanya piano di Kerajaan kami bukan berarti Kerajaan lain tidak mempunyai nya. Aku tidak tahu, kalau piano merupakan harta karun...
Aahh sial, Apa yang harus aku lakukan? Kata-kata apa yang harus aku utarakan untuk memuaskan pertanyaannya...
"Aku benar-benar tidak tahu mengenai hal ini, ini pertama kalinya aku menghadiri pesta." ucap Zeki pelan, ditatapnya balik aku yang menatapnya
"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan mu... Ayah." ucapku seraya beranjak berdiri dengan kepala tertunduk
"Bawa Putri Takaoka Sachi ke kamar tengah, dan pastikan ia tidak melarikan diri sampai ia dapat menjawab pertanyaanku." tukas Raja Ismet kembali
"Apa yang kau lakukan?" teriak Zeki seraya menatap tajam ke arah ayahnya
"Tutup mulutmu, aku masihlah seorang Raja dan juga Ayahmu." Sambung Raja Ismet berbalik menatap Zeki
"Hukum Pangeran Zeki dengan lima puluh cambukan jika ia menghalangi kalian!" lanjut Raja Ismet seraya mengalihkan pandangannya ke arah Kesatria yang telah berbaris di hadapan kami
"Aku bersedia di kurung, asal bebaskan Zeki dari hukuman."
"Kau tidak perlu membelaku." ucap Zeki, ditariknya tanganku ke arahnya
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkannya. Aku lebih tahu, mana yang terbaik untukku atau tidak." ucapku, kulepaskan genggaman tangan Zeki di lenganku
"Lewat sini, Putri." Ucap salah satu Kesatria yang berjalan di depanku
"Bisakah kau menunggu sebentar?" ucapku, berjalan aku menuju ke sebuah meja yang dipenuhi makanan
__ADS_1
Kuraih dan kuangkat kain tipis yang menutupi gaunku, kuambil berbagai macam buah dan kuletakkan buah-buah tersebut ke kain tipis tadi. Berjalan kembali aku mendekati Kesatria-Kesatria tadi dengan kain berisi penuh buah di sebelah tanganku...
Menatap heran mereka semua kepadaku, kubuang pandanganku dari mereka. Apapun yang akan mereka lakukan, mereka tetap tidak akan bisa menghentikan ku...
"Bawa dan kurung juga Pangeran Zeki di kamarnya, jangan sampai kalian kehilangan dia!" kembali terdengar suara Raja Ismet dari arah belakangku
Berjalan aku tanpa mempedulikan keadaan sekitar, para Kesatria tadi mengawal ku ke sebuah ruangan dengan pintu berwarna cokelat. Dibukanya pintu ruangan tersebut oleh salah satu Kesatria, berjalan masuk aku ke dalam ruangan...
Tampak terlihat sebuah ranjang usang terbaring di pojokan, ruangannya sendiri terasa lembab dan juga pengap dengan beberapa lumut yang menempel di dinding...
Pintu kembali ditutup, ruangan tersebut menjadi lebih pengap dari sebelumnya. Pandangan mataku terbatas, hanya sedikit sekali cahaya yang masuk ke dalam. Apa aku benar-benar harus tinggal di sini?
Berjalan aku menuju ke ranjang tadi, kuletakkan dan kususun buah-buahan yang aku ambil tadi di samping ranjang. Kubaringkan tubuhku, bau apek di kasur terasa langsung menyengat di hidungku. Kupejamkan mataku perlahan, selamatkan Sachi, Ayah...
_______________________
Kuangkat kedua kelopak mataku, kupandangi buah Apel yang telah hampir membusuk di hadapanku. Kualihkan pandanganku ke arah tumpukan roti yang telah berjamur di dekat pintu, aku menolak untuk memakannya, entah mereka membubuhkan racun atau tidak di roti-roti tersebut...
Aku sudah tidak tahu lagi telah berapa lama aku berada disini, para Kesatria ku pun dilarang untuk menemui ku, aku mengetahuinya dari Kesatria yang berjaga di luar...
Tubuhku mati rasa, rasa perih di perutku seakan ikut menarik hancur tubuhku. Terdengar suara besi yang saling dibenturkan dari luar yang juga diikuti suara kunci pintu yang terbuka...
"Putri..."
"Tsu nii-chan, kau kah itu?" ucapku meliriknya, tubuhku sendiri sudah tidak bisa digerakkan lagi
"Maaf, kami tidak bisa menjagamu." ucapnya dengan suara bergetar
"Tubuhku terasa lemah sekali untuk digerakkan. Bisakah kau menggendongku seperti dulu, Tsu nii-chan?" sambungku tersenyum meliriknya
"Tentu, Adikku." ucapnya, diangkat dan digendongnya tubuhku ke dadanya
"Kau benar-benar datang menyelamatkanku kan nii-chan?" ucapku, kugenggam erat kemeja putih yang dikenakannya, kemeja putih yang telah nampak mengusam.
"Tentu, aku telah berjanji bukan akan melindungimu."
"Aku pikir, aku tidak akan bertemu denganmu lagi nii-chan. Aku takut..." ucapku dengan suara bergetar, entah kenapa air mataku keluar
"Aku kakakmu bukan? Sampai kapanpun, tidak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu." Ungkapnya, ditatapnya aku dengan matanya yang memerah
__ADS_1
Berjalan ia menggendongku ke luar, terlihat para Kesatria ku tengah mengikat Kesatria Kerajaan Yadgar yang menjagaku dari luar. Berbalik para Kesatria ku ke arahku, ditatapnya aku oleh mereka dengan mata yang memerah, tampak raut wajah lega, bersyukur, bercampur di wajah-wajah mereka...
Digendongnya aku kembali oleh Tsubaru menuju ke singgasana Raja Ismet dengan Kesatria lain yang ikut berjalan di belakang kami. Dibukanya pintu yang menutupi ruang tersebut oleh Kazuya, melangkah ia maju diiringi Tsubaru dan juga Kesatria lainnya...
Tampak terlihat punggung seseorang yang sudah sangat aku kenal, berbalik laki-laki tadi menatapku. Di kanan dan kirinya terlihat beberapa puluh Kesatria yang berbaris, ditatapnya aku oleh laki-laki tadi, entah kenapa rasa sesak dan takut yang menyelimuti sebelumnya seakan sirna ketika melihatnya...
"Ayah..." ucapku menatapnya, air mataku kembali keluar melihatnya
Berjalan ia mendekati, diraihnya aku dari tangan Tsubaru. Dipeluknya tubuhku dengan sangat kuat, jari jemarinya yang gemetaran memelukku seakan mengiris tubuhku...
"Kau datang untuk menjemputku, Ayah?" ucapku menatapnya, balik ia menatapku dengan mata memerah dengan kantong mata berwarna hitam yang mengiringi
"Apa kau mendapatkan pesan yang aku kirimkan untukmu, Ayah?" ucapku lagi, mengangguk ia menatapku
"Bawa aku pulang, Ayah. Aku ingin kembali pulang ke rumah secepatnya..."
"Tentu, kita pulang..." Ucapnya seraya berjalan menggendongku
"Tunggu dulu, Raja Takaoka Kudou. Ada beberapa pertanyaan yang masih belum dijawab oleh Putrimu." Terdengar suara Raja Ismet dari arah belakang Ayahku
"Tutup mulutmu. Beraninya kau memperlakukan Putriku seperti ini, aku tidak akan pernah memaafkan Kerajaan kalian." Teriak Ayahku, berjalan ia meninggalkan ruangan diikuti seluruh Kesatria dari Kerajaan kami
"Ayahmu seperti orang yang kehilangan akalnya ketika mendapat kabar darimu, Putri." Tukas Duke Masashi menatapku, berjalan ia disamping Ayahku
"Bagaimana bisa kau mengirimkan surat, bukankah kau dan para Kesatria yang mengawalmu dibawah pengawasan langsung oleh Raja Yadgar?" sambung Duke Masashi menatapku bingung
"Bukan aku yang mengirimkan surat tersebut. Dan coba kau hitung jumlah Kesatria yang mengawal ku sekarang Duke, apakah mereka tepat berjumlah tiga puluh orang?" ucapku tersenyum menatapnya
"Satu...dua...tiga..." ucap Duke Masashi seraya menghitung
"Semuanya dua puluh lima orang, dua puluh lima?" ucapnya lagi
"Lima orang Kesatria lainnya aku perintahkan untuk tidak mengikuti atau mendekati kawasan Istana sebelum kami tiba di Istana ini sendiri..."
"Dan tepat sehari sebelum kami bersiap untuk pulang, aku memerintahkan Kazuya untuk mengirimkan mereka pesan berisi jika besok kami tidak meninggalkan kawasan Istana, segera kirim kabar ke Kerajaan dan katakan jika Putri berada dalam bahaya."
"Karena itulah, kau membiarkan dirimu dikurung oleh mereka, Putri?" ucap Duke Masashi kembali
"Aku tidak ingin, jika nyawa para Kesatria ku hilang sia-sia. Lagi pun, aku sangat percaya jika Ayahku akan datang menjemput ku apapun yang terjadi." ungkapku seraya kubenamkan kepalaku di dadanya.
__ADS_1