
"Aku melarangmu mengikuti turnamen, Izumi," ucap Haruki berjalan mendekati Lux, diraihnya tas kulit miliknya saat Lux terbang mendekatiku.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengikutinya?"
"Sa-chan, bisakah kau memukul kuat belakang pundak kanannya," ucap Haruki membuka tas miliknya.
"Memukul? Seperti ini?" Tukasku, kuarahkan pukulan kuat yang aku lakukan ke belakang pundak Izumi.
"Kau baik-baik saja, nii-chan?" Ungkapku ikut duduk berjongkok saat dia tiba-tiba duduk berjongkok dengan kepala tertunduk di sampingku.
"Lenganmu terluka bukan? Karena itu, aku melarangmu bertarung," ucap Haruki melangkah mendekat dengan sebelah tangannya menggerakkan tali tas miliknya diselempangkan di pundak.
"Tapi, aku harus melakukannya. Aku baik-baik sa..." Ungkap Izumi terhenti. Kepalanya semakin tertunduk saat Eneas menekan kuat pundak kanannya.
"Kau akan kehilangan nyawa jika terlalu memaksakan diri. Aku melarangmu melakukannya," ucap Haruki kembali.
"Sudah aku..."
"Serahkan semuanya padaku. Aku akan memenangkan turnamen, hanya... Obati saja semua luka di tubuh kalian," tukasnya memotong perkataan Izumi, Haruki berjalan melewati kami.
"Mau kemana kau?" Sambung Izumi menggerakkan kepalanya menatapi Haruki yang menghentikan langkah kakinya menoleh ke arah kami.
"Aku akan meminta mereka menyiapkan kamar baru untuk kita. Kalian harus beristirahat, lihatlah... Hapus darah yang mengalir di kepalamu, Sa-chan," ucapnya kembali berbalik berjalan melewati pintu kamar sembari kugerakkan telapak tanganku mengusap dahi.
_______________________
"Jangan bergerak! Atau darahnya akan semakin keluar," ucap Lux terbang mengitari kepalaku, sesekali sentuhan dingin kurasakan beberapa kali menyentuh kulit-kulit kepala.
"Lebam birunya lebar sekali," ucap Haruki, kepalaku menoleh menatapnya yang tengah membalurkan sesuatu di pundak Izumi.
"Izu nii-chan, kau baik-baik saja?" Ungkapku menatapnya yang masih tertunduk tak bersuara.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kepala dan lenganmu?" Ucapnya melirik ke arahku.
"Aku baik-baik saja, aku bahkan tidak sadar jika kepalaku terluka seperti ini," ucapku menundukkan pandangan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Uki bahkan masih tertidur lelap bahkan saat keadaan tadi," suara Eneas tiba-tiba terdengar diikuti pandangannya yang menatap ke dalam tas milik Haruki.
"Berapa uang yang kita keluarkan? Maksudku, biaya ganti rugi?"
"Biaya ganti rugi?" Tukas Haruki menjawab perkataanku.
"Untuk kamar yang kita tempati sebelumnya," sambungku kembali menatapnya.
"Tidak ada, bahkan pemiliknya berkata itu sudah jadi hal yang biasa di sini. Karena itu, biaya menginap di sini sangatlah mahal," ungkap Haruki mengikat sebuah kain yang membalut luka di pundak Izumi.
"Berisitirahatlah, kau pasti lelah bukan?" Ucapnya kembali, kualihkan pandanganku pada Cia yang telah tertidur pulas di ranjang.
"Nii-chan, kau yakin?"
"Apa kau mengkhawatirkanku?" Ungkapnya yang kubalas dengan anggukan kepala.
"Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku, aku tidak akan terluka semudah itu, Sa-chan."
___________________
Aku beranjak berdiri mendekati pintu kamar, kubuka pintu tersebut perlahan. Haruki dan Eneas berjalan masuk ke dalam dengan sebuah tas penuh makanan di tangan mereka. Kututup kembali pintu kamar seraya kugerakkan kembali tubuhku berjalan mendekati mereka.
"Apa yang kalian beli?" Sambung Izumi yang telah beranjak duduk, diraihnya tas yang ada di hadapan Eneas.
"Ini madu yang kau perlukan Lux," ucap Haruki mengarahkan sebuah botol keramik ke arah Lux.
"Kau butuh bantuan?" Ucap Haruki lagi saat Lux terbang dengan menarik botol keramik pemberiannya.
"Tidak perlu. Aku hanya... Akan memberikan makan untuk Uki. Tidak perlu bantuan sama sekali," ucap Lux dengan napas tak beraturan menarik botol keramik tersebut.
"Lalu, apa ada kabar yang kau dapatkan?" Ucap Izumi dengan sebutir apel di tangannya.
"Kami sempat mencari informasi mengenai turnamen itu. Masih ada waktu untuk menyiapkan semuanya," ucap Haruki ikut meraih sebutir apel dari dalam tas yang ia bawa.
"Aku hampir melupakannya. Surat untukmu, Sa-chan," ucap Haruki dengan sebelah tangannya yang lain merogoh ke dalam pakaiannya.
__ADS_1
"Surat? Untukku?" Ungkapku meraih sebuah gulungan kertas yang ada di tangannya.
"Masih menjadi misteri, bagaimana caranya kau melatih burung-burung penyampai pesan milikmu. Maksudku, bahkan di tempat seperti ini," ucap Izumi menggigit apel yang ada di tangannya.
"Bukan aku, tapi Lux. Lux yang menjadi acuan arah untuk mereka, jadi... Kemana pun kita pergi, pesan itu akan tetap tersampaikan kepada kita," ucap Haruki menimpali perkataan Izumi.
Aku beranjak berdiri meninggalkan mereka, kedua kakiku melangkah mendekati ranjang lalu duduk di pinggirnya. Kepalaku tertunduk menatapi nama સચિ yang tertulis di gulungan surat itu.
Kedua tanganku bergerak membuka ikatan yang mengikat gulungan kertas tadi. Perlahan demi perlahan kubuka gulungan kertas itu...
Bagaimana kabarmu, Darling?
Apa kau membuat masalah kembali? Ayahmu, melancarkan banyak sekali pertanyaan padaku. Kau benar-benar.
Kerajaan Yadgar, telah berada di bawah kekuasaan ku. Aku mengirim mereka semua ke perbatasan, aku benar-benar tidak menyangka pemberontakan ini akan berhasil tanpa satu orang pun yang terbunuh.
Aku telah menepati hampir semua janjiku, jadi cepatlah kembali.
Aku akan sangat berterima kasih jika kau tidak menggoda laki-laki lain selama di perjalanan. Kau paham maksudku bukan?
Aku tidak pandai menulis surat, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku tuliskan. Hanya saja, aku menunggumu pulang secepatnya.
Aku mencintaimu calon Ratuku.
"Kau terlihat bahagia sekali, apakah itu kabar baik dari Zeki?" Suara Haruki mengejutkanku, kugerakkan kepalaku berbalik menatap mereka yang telah lebih dulu menatapku.
"Zeki berhasil melakukannya. Dia sekarang resmi menjadi Raja Kerajaan Yadgar," ungkapku menundukkan kembali pandangan menatapi surat darinya.
"Dengan itu, Yadgar resmi menjadi sekutu kita. Tapi, apa kau baik-baik saja?" Sambung Haruki kembali.
"Apa maksudmu nii-chan?"
"Tidak seperti ketika menjadi seorang Pangeran. Ketika menjadi Raja, sangatlah fatal untuk meninggalkan singgasananya begitu saja terlebih lagi jika itu hasil pemberontakan. Maksudku, kau tidak akan bertemu dengannya... Kecuali, ketika kita mengunjungi Kerajaan Yadgar."
"Tidak apa-apa. Kami memiliki jalan sendiri-sendiri yang harus ditempuh. Tidak selalu bertemu, bukan berarti... Kami tidak akan bisa bersama pada akhirnya. Aku benar bukan, nii-chan?"
__ADS_1