
"Buku apa yang tengah kau baca Izumi-kun?" terdengar suara dari arah belakangku.
"Jangan mengagetkanku seperti itu," ucapku menoleh ke arahnya.
"Apa yang sedang kau baca sekarang?" ucapnya lagi.
"Kenapa juga aku harus memberitahukanmu," ungkapku seraya berbalik membelakanginya.
"Aku hanya..."
"Aduh." kembali terdengar suaranya, kali ini terdengar sedikit bergetar dari sebelumnya.
Berbalik aku kembali ke arahnya, kutatap ia yang tengah setengah membungkuk seraya memegang perutnya. Meloncat aku turun dari jendela yang aku duduki, berjalan aku mendekatinya...
"Kau kenapa?" tanyaku berdiri di sampingnya.
"Perutku kembali terasa sakit," ucapnya dengan wajah pucat pasi.
"Beristirahatlah di kamarku, aku akan memanggil Tabib Istana," ucapku seraya kubuka pintu kamar.
Masuk ia ke kamarku, kututup kembali pintu kamar seraya berlari dengan cepat mencari bantuan. Kulangkahkan kakiku mendekati dua pengawal yang tengah berjaga di depan pintu ruang kerja Ayah...
"Yang Mulia," ucap mereka membungkukkan tubuhnya ke arahku.
"Salah satu dari kalian segera kabarkan Tabib Istana dan bawa ia langsung ke kamarku. Cepatlah, Ratu tiba-tiba sakit."
Menunduk salah satu diantara mereka seraya berlari menjauh, berbalik aku sembari kembali berlari menuju ke kamarku. Kubuka pintu yang menutupi kamarku tersebut, berjalan aku masuk ke dalam...
Kutatap ia yang masih memegang erat perutnya, kualihkan pandanganku ke telapak tangannya yang menggenggam kuat seprai kasur. Duduk aku disampingnya, menoleh dan tersenyum ia menatapku...
Beberapa derap langkah kaki berhasil membuatku menoleh, pintu kamarku kembali terbuka. Tampak dua orang pria, satu masih berusia dua puluh tahunan dan satunya Tabib Istana yang sudah sering aku lihat, nampak juga seorang perempuan di tengah-tengah mereka...
Berlari mereka mendekatiku, beranjak aku berdiri seraya membiarkan mereka memeriksa Ratu. Wanita tersebut meminta air hangat pada laki-laki yang ada di belakangnya, berjalan ia semakin mendekati Ratu...
Berdiri dan duduk wanita tersebut di depan kedua kaki Ratu, direntangkannya kedua kaki Ratu olehnya. Berjalan aku mendekati jendela kamarku, laki-laki tersebut kembali berlari dengan membawa semangkuk besar dengan asap putih tipis di atasnya.
"Ratu, tarik nafas dalam-dalam lalu embuskan," ucap wanita tersebut berulang-ulang terdengar.
"Sakit... ini sakit sekali," tangisnya yang juga berkali-kali kudengar.
Berdiri aku seraya tertunduk dengan menggenggam celana pendek yang aku kenakan, kugigit bibirku seraya terus mendengarkan riuh kesakitan yang ia keluarkan... Suara tangisan yang belum pernah kudengar bergema ke seluruh penjuru kamarku, mendengarnya membuat perasaanku menjadi lega seketika. Kubalikkan tubuhku untuk melihat apa yang terjadi, kutatap ia yang masih setengah berbaring dengan manusia kecil yang masih dipenuhi darah di gendongannya... Ditatapnya lama bayi tersebut, berkali-kali ia tersenyum dengan mata yang basah...
__ADS_1
"Ratu, Hamba akan membersihkan tubuhnya," ucap wanita tadi, diarahkannya telapak tangannya meraih bayi tersebut.
"Terima kasih," balasnya tersenyum menatap wanita tadi.
"Hamba akan memeriksa tubuhmu Ratu," ucap Tabib Istana seraya menyentuhkan jarinya di lengan Ratu.
Kutatap wajahnya yang masih pucat pasi tersebut, menoleh ia ke arah wanita tadi berjalan. Bola matanya tiba-tiba membesar, beranjak ia berdiri lalu jatuh tersungkur di samping ranjang...
Menoleh aku mengikuti pandangan matanya, laki-laki tadi tampak mengendap-endap berjalan mendekati wanita tersebut dengan sebilah pisau di punggungnya. Berlari aku sekuat mungkin ke arah laki-laki tersebut...
"Izumi!" teriaknya.
Menoleh laki-laki tersebut ke arahku, kuhentikan langkahku seraya kembali berjalan mundur beberapa langkah kebelakang. Kutatap wanita tua yang tubuhnya gemetar itu, ditancapkannya pisau yang ada ditangannya di leher wanita tersebut seraya dicabutnya kembali dengan cepat...
"Lepaskan!" teriak Ratu, menoleh aku menatapnya... Tampak Tabib tersebut memegang kuat lengannya.
"Ini perintah langsung dari Raja, wahai Ratu," ucap Tabib tersebut menatapnya.
"Suamiku, tidak akan pernah melakukannya," balasnya, digigitnya lengan Tabib tersebut hingga genggaman tangannya di lengan Ratu terlepas, beranjak Ratu seraya meraih mangkuk tanah liat berisi air yang ada di atas meja lalu dipukulkannya mangkuk tersebut ke Tabib hingga tak sadarkan diri, berlari Ratu menuju ke arah kami...
Kutatap wanita tua yang masih mengejang-ngejang di lantai, darah segar keluar dari lubang yang ada di lehernya. Berbalik laki-laki tersebut seraya mengangkat pisau yang ada di tangannya ke atas bayi tersebut...
Tertunduk Ratu di atas tubuh bayi yang baru saja ia lahirkan tersebut, pisau yang ada di genggaman laki-laki tadi nampak menempel di punggungnya. Kutatap punggungnya, gaun putih yang ia kenakan berubah merah secara perlahan...
Langkahnya terhenti, kepalanya mendongak keatas. Rambut panjangnya ditarik dan digenggam kuat oleh laki-laki tersebut. Dilepaskannya genggaman tangannya padaku, diraihnya pisau yang masih tertancap di tubuhnya. Dicabutnya pisau tersebut seraya diarahkannya kebelakang, rambut panjangnya terpotong hingga sebahu...
Dilemparkannya pisau tersebut seraya digenggamnya kembali tanganku. Berlari kami bertiga mendekati pintu kamar, kuraih seraya kubuka pintu kamar dengan sebelah tanganku... Berlari kami bertiga keluar dari dalam kamarku.
"Izumi," ucapnya, dihentikannya langkah kakinya seraya menunduk menatapku.
"Aku akan mengalihkan perhatiannya, kau larilah bersamanya sejauh mungkin. Kau mengerti?"
"Lalu bagaimana denganmu?" ucapku dengan suara bergetar menatapnya.
"Aku akan baik-baik saja, kumohon padamu... Jaga adikmu, jangan berikan ia pada siapapun. Kau bisa melakukannya bukan?" ucapnya, diarahkannya bayi tersebut kepadaku. Kuarahkan telapak tanganku menggendongnya...
"Ayah memintaku untuk menjaga kalian, aku tidak mungkin meninggalkan kalian." Tangisku, kutatap wajahnya yang semakin pucat itu.
"Kau adalah Putraku, aku telah mengatakannya kepadamu bukan? Keselamatan kalian, lebih penting untukku dibandingkan apapun. Pergilah, bawa adikmu lari sejauh mungkin," berbalik ia membelakangiku, kutatap bercak darah yang kian membesar di punggungnya. Berlari ia dengan langkah kaki gontai, sesekali tertunduk ia menghentikan langkah kakinya lalu berlari kembali...
Kugendong tubuh adikku yang masih diselimuti darah itu, kupeluk erat tubuhnya agar tak jatuh. Berbalik aku seraya berlari menyusuri Istana...
"Kenapa? kenapa tidak ada satupun pengawal di sekitar sini," ucapku, kulangkahkan kakiku dengan cepat seraya melihat ke arah kanan dan kiriku.
__ADS_1
Tangisan darinya menghentikan langkah kakiku, berjongkok aku seraya meletakkan tubuhnya ke lantai. Kubuka pakaian yang aku kenakan, kuangkat tubuhnya ke atas pakaianku tersebut. Kuselimuti tubuh kecilnya menggunakan pakaianku tadi, kembali kugendong ia dengan sangat kuat...
wajahku menabrak sesuatu, jatuh terduduk aku olehnya. Kuarahkan pandanganku padanya, tangisanku semakin pecah menatapnya...
"Ayah... Tolong, tolong dia Ayah," kutatap wajah Ayahku yang menatap balik kami dengan wajah pucat.
"Segera temukan Ratu apapun yang terjadi, Tatsuya jaga dan lindungi Haruki, Tsutomu aku menyerahkan mereka berdua padamu!" teriaknya dengan suara bergetar, dilepaskannya mantel yang ia kenakan dan dikenakannya membungkus seluruh tubuh kami berdua, beranjak kembali ia seraya berlari menuju ke arah yang aku tunjukkan.
"Yang Mulia," ucap Tsutomu duduk di hadapanku.
"Maafkan aku, telah meninggalkanmu sendirian," ucapnya lagi dengan suara bergetar.
"Aku harus ikut mencarinya Tsutomu, kau harus membantuku!"
__________________
Tsutomu menuntunku menyusuri Istana, sebilah pedang telah ia genggam dengan kuat di tangannya yang lain. Menoleh aku kesana kemari mencari Ayahku, langkah kakiku terhenti...
Kutatap beberapa pasukan yang tengah berdiri tertunduk dengan Ayah dan juga Ratu di hadapan mereka, duduk Ayah seraya merangkul Ratu yang terbaring di pelukannya...
Berjalan aku mendekati mereka, tiga mayat manusia mengenakan pakaian seperti halnya pengawal Istana bertumpuk di sisi para pasukan.
"Izumi, kemarilah..." ucapnya dengan suara yang sangat parau, melangkah aku mendekati mereka perlahan.
"Apa kau terluka?" ucapnya lagi, duduk aku disampingnya seraya kugelengkan kepalaku berulang-ulang.
"Maaf, maafkan aku," ucapku menatapnya.
"Kumohon, bertahanlah. Aku akan menjadi anak yang baik, aku akan menjadi adik yang baik, dan aku akan menjadi kakak yang baik..."
"Kumohon, Ibu... kumohon bertahanlah."
"Kau akhirnya memanggilku Ibu... Kau dengar itu, Izumi akhirnya memanggilku Ibu," tangisnya, melirik ia ke arah Ayahku yang memangkunya.
"Aku belum meminta maaf padamu, aku belum mengucapkan terima kasih apapun padamu, aku belum melakukan apapun untukmu."
"Seorang Ibu, tidak akan meminta balasan apapun pada anaknya. Kau memanggilku Ibu, sudah cukup membuatku bahagia," ucapnya dengan suara terputus-putus, diraihnya dan dipeluknya erat kepalaku ke pundaknya.
"Akupun ingin bercengkerama denganmu seperti yang kau lakukan pada Haruki, kau
harus..." ucapku tertahan, lengannya yang merangkul kepalaku terjatuh... Kuangkat kepalaku seraya menatap lama wajahnya yang tertidur...
"Kumohon Ibu, bangunlah kembali... Aku sudah tidak bisa memakan apapun lagi selain makanan yang kau masak. Kumohon Ibu, jangan meninggalkanku seperti ini..."
__ADS_1