Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXCI


__ADS_3

Aku masih duduk dengan bergeming menatap perut pemuda yang ada di hadapanku itu, saat aku melakukannya, saat itu pula kedua bola mataku melirik ke kanan dan kiri, berharap menemukan apa yang sedang aku cari. Aku menarik napas sambil kembali mengangkat pandangan, menatap mata pemuda tersebut yang wajahnya dipenuhi coretan berwarna merah.


“Bisakah, aku meminta tas milikku?” tukasku seraya menggerakkan tangan mengikuti apa yang aku katakan.


“Bisakah, aku memintanya?” tanyaku kembali, sambil menunjuk ke arah tasku yang sedang dibawa oleh seorang laki-laki paruh baya.


“Tas, aku memerlukannya. Kumohon,” sambungku dengan sangat pelan sembari mengatupkan kedua telapak tanganku ke arahnya dengan wajah tertunduk.


Aku sedikit tersentak saat suara dari laki-laki itu terdengar. Kuangkat kembali wajahku, menatapnya yang tengah berbicara dengan menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang aku maksud. Setelah laki-laki paruh baya tersebut berdiri di dekatnya, pemuda itu kembali mengucapkan kata-kata yang tak aku pahami maksudnya.


“Aku, menginginkan ini,” ucapku pelan sambil menyentuh tas milikku yang dibawa oleh laki-laki paruh baya di sampingnya.


Mataku sama sekali tak berkedip, walau pemuda tersebut menatap sinis ke arahku. Dia menoleh ke arah laki-laki tua yang berdiri di sampingnya tersebut dengan mengeluarkan ucapan menggunakan bahasa asing. Pemuda itu meraih tas milikku, dia mengangkat tas tersebut mendekati wajahnya, menatapinya dengan sangat lama.


Aku mengetuk perutnya yang kekar itu menggunakan jari telunjuk beberapa kali hingga akhirnya dia kembali menunduk menatapku. Aku menunjuk ke arah tas lalu menepuk-nepuk dadaku sendiri, aku melakukan hal tersebut berulang-ulang. Aku tertegun ketika pemuda yang ada di hadapanku itu, justru melemparkan jauh tasku ke samping.


Aku mencoba beranjak dengan kepalaku yang masih tertunduk. Lama kutatap pemuda itu yang mendongakkan kepalanya membalas tatapanku. Pandanganku beralih, melirik ke arah sekitar … Menghitung satu per satu orang yang berdiri mengelilingi tempat ini. Aku menarik napas, sebelum melompat turun dari batu besar yang aku pijak.


Langkahku terhenti, langkahku yang sempat ingin mendekati pemuda tersebut terhenti oleh sebuah kapak dari batu yang mengarah tepat di samping leherku. Aku menoleh ke arah laki-laki tua yang memegang kapak tersebut, diikuti telapak tanganku yang bergerak mencengkeram kapak miliknya itu. Aku menggigit bagian dalam bibirku, saat rasa sakit menjalar di telapak tanganku tersebut. Kutarik kembali tanganku itu, lama mataku menjatuhkan pandangan ke darah menggenang dari luka di tanganku.

__ADS_1


Aku kembali mengarahkan tatapan kepada pemuda itu, sambil kugerakkan kedua jariku menyentuh darah yang ada di telapak tangan, lalu mengoleskannya di wajah dengan coretan yang sama seperti yang mereka lakukan di wajah. Tubuh pemuda itu sedikit tersentak ketika aku meraih lalu menggenggam kuat tangannya, genggaman tanganku itu semakin menguat tatkala aku mencoba menarik tangannya untuk mengikutiku.


Dia mengangkat tangannya dengan mengucapkan sesuatu ke arah beberapa laki-laki yang hendak berjalan mendekati kami. Aku meneguk ludahku, tatkala tatapan mataku itu terjatuh ke arah kapak-kapak terbuat dari batu yang mereka genggam. Kutarik napasku sedalam mungkin, coba kutepis rasa takut dan gugup yang menyelimuti tubuhku, dengan perlahan … Aku menarik tangan pemuda itu untuk mengikutiku berjalan di belakang.


Sudah kuduga, jika dia seperti kepala suku. Kalau dia tidak memberikan perintah untuk membunuhku, maka aku akan selamat.


Aku melepaskan genggaman tanganku padanya, dengan kedua kakiku kembali melangkah mendekati tas milikku yang sebelumnya ia lempar. Aku duduk berjongkok, meraih tasku tersebut. Aku tak mengindahkan kapak yang ada di samping leherku itu, tubuhku masih bergerak … Merogoh sesuatu yang ada di dalam tas.


Aku mengangkat sebuah guci berukuran sedang yang sudah aku persiapkan sebelum meninggalkan Sora. Mendengar cerita Haruki, aku menjadi sangat tertarik dengan mereka yang tinggal di pedalaman. Aku menjepit guci tersebut menggunakan kedua kaki, lalu membukanya dengan perlahan menggunakan tangan kiriku yang tidak terluka.


Aku berbalik, mengarahkan guci berisi penuh permen kulit jeruk yang aku bawa dari Sora ke arahnya. Aku meletakkan guci tersebut ke tanah, mengambil satu buah permen lalu memakannya, sebelum mengangkat kembali guci itu ke arah pemuda tadi. Mataku membelalak, saat guci yang ada di tanganku tersebut, tergelincir begitu saja hingga semua permen yang ada di dalamnya jatuh ke tanah.


Aku jatuh tersungkur, napasku tercekat … Dadaku terasa sesak, perlahan demi perlahan, tubuhku diselimuti rasa dingin yang menjalar. Mataku mengabur, dan semakin mengabur saat bayangan hitam telah berada di depan wajahku. “Tenanglah, Kou! Semuanya, akan baik-baik saja. Aku, tidak akan mati hanya karena racun,” gumamku pelan, saat bisikan-bisikan teriakan Kou yang memanggil memenuhi kepalaku.


__________________.


Kedua mataku terbuka perlahan, kucoba untuk kugerakkan mataku itu melirik ke arah sekitar walau pandangan mataku itu saja masih sedikit mengabur. Aku menggerakkan kepalaku itu ke samping, ke arah cahaya yang masuk ke dalam lubang besar seperti pintu, yang ada aku di dalamnya. Mataku berkedip beberapa kali, menatap para penduduk yang berjalan hilir-mudik, bahkan tawa-canda dari anak-anak yang berlarian di depanku itu semakin jelas terdengar di telinga.


“Kau bisa menahan dirimu, Kou? Syukurlah, karena jika tidak … Kau akan menghancurkan rencana yang aku buat,” gumamku, sambil mencoba untuk beranjak duduk tapi tetap tak berhasil.

__ADS_1


Aku menoleh ke samping, saat bayangan hitam tiba-tiba menghalangi cahaya yang masuk. Aku tidak bisa terlalu jelas melihatnya, tapi yang jelas … Dia pemuda yang menjadi kepala suku.


Kenapa, kau hanya berdiri di sana? Apa kau, mengkhawatirkan perempuan asing sepertiku?


“Siapa?” ucapku pelan sambil menoleh ke arah bayangannya.


Pemuda itu berjalan masuk lalu duduk di hadapanku setelah sebelumnya dia menghidupkan api yang sedikit membuat terang ruangan. Aku melirik ke arah ruangan yang aku tempati itu, tak ada yang istimewa … Hanya tempat yang aku tiduri, beberapa senjata yang disusun di ujung ruangan, dan perapian kecil yang juga ada di sudut ruangan lainnya.


Jika langsung melawan secara fisik, maka sudah dipastikan, aku akan kalah bahkan sebelum melakukan perlawanan. Karena itu, aku selalu berusaha memperhatikan orang di sekitar untuk menyerang berdasarkan karakter mereka. Ego manusia itu menakutkan, tapi bisa menjadi senjata ampuh jika digunakan dengan baik.


Jika saja, nenek tua itu tidak berusaha membandingkan kulitnya dengan kulitku saat itu. Aku mungkin tidak akan sadar, kalau mereka tertarik pada kulitku yang berbeda dari mereka. Kulitku akan tetap putih, walau aku berada di bawah matahari dalam waktu yang lama. Apakah ini pertama kalinya mereka bertemu dengan manusia berkulit putih? Entahlah, tapi yang jelas, aku sungguh-sungguh tertolong oleh itu.


Entah dia tinggal di hutan, atau tinggal di perkotaan. Manusia tetaplah manusia, ketidakpercayaan yang besar, dapat langsung dihancurkan oleh sebuah pengorbanan. Aku tahu hal itu, aku paham benar akan hal itu, karena itulah … Aku membiarkan tubuhku sendiri terluka dan diracuni. Hal itu mungkin tak berlaku, untuk mereka yang memang tak mengerti arti dari suatu hubungan. Namun, untuk seorang kepala suku yang dihormati sepertinya, jelas berbeda.


Otakku, kau benar-benar dapat diandalkan untuk situasi seperti ini.


Aku masih terdiam menatapinya yang tengah menyerut kayu dengan sebuah pisau kecil di tangannya. Dia menghentikan apa yang sebelumnya ia lakukan, ketika aku mengangkat tangan menyentuh lengannya. “Aku, haus,” ucapku pelan dengan mengusap leherku menatapnya.


“Aku, ingin minum,” sambungku sambil kembali menggerakkan tangan, seakan tengah meminum sesuatu menatapnya.

__ADS_1


Aku melepaskan pegangan tanganku di lengannya saat dia beranjak berdiri meninggalkan ruangan, “yang harus aku lakukan setelah ini hanyalah, bagaimana caranya aku menyelamatkan saudara-saudaraku yang mereka kurung,” tukasku dengan kembali menatapi langit-langit ruangan yang masih tak tersentuh cahaya oleh api yang ia buat.


__ADS_2