
Pintu kereta terbuka dari luar, tampak Duke Masashi telah berdiri di baliknya. Beranjak dan berjalan keluar Raja dari dalam kereta, berbalik ia seraya merentangkan kedua tangannya ke arahku. Berjalan aku menuju ke arahnya, diraih dan digendongnya aku ke pelukannya.
Dilangkahkannya kedua kakinya menuju sebuah gapura yang terbuat dari lilitan akar-akar pohon dengan beberapa bunga warna-warni di sela-sela akar yang melilitnya.
Tampak dari kejauhan, sebuah bayangan melintasi tebalnya kabut berjalan ke arah kami. Seorang laki-laki paruh baya muncul dari balik kabut tersebut, laki-laki itu mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jenggot dan kumis putih yang tumbuh, menutupi senyum yang ia pancarkan kepada Raja.
"Apa kalian membawa undangannya?" ucapnya seraya menatap kami satu persatu
"Masashi, berikan kotak itu padanya" ungkap Raja seraya mengalihkan pandangannya ke arah Duke Masashi
Berjalan Duke Masashi ke arah laki-laki tadi, diberikannya kotak kayu putih yang kami dapatkan sebelumnya kepada laki-laki tadi. Dibukanya kotak kayu tersebut oleh laki-laki tadi, di lihatnya sebentar isi kotak di dalamnya seraya ditutupnya kembali seperti sebelumnya.
"Takaoka Sachi?" ucapnya seraya menatapku yang kubalas dengan anggukan kepala
"Ikuti aku. Dan yang lainnya, kalian dilarang memasuki area Kuil." Ungkapnya lagi seraya menatap tajam ke arah Raja, Duke Masashi dan yang lainnya
"Ayah, kau tidak ikut?" bisikku pelan di telinganya
"Aku akan menunggumu disini. Kau jangan khawatir," ucap Raja seraya menurunkan aku dari gendongannya
Kulangkahkan kakiku mengikuti langkah laki-laki asing tadi menembus kabut tebal yang terbentang di hadapan kami. Menyeramkan, begitulah tepatnya yang aku rasakan...
Perlahan demi perlahan kabut tebal yang menyelimuti kami menipis, tampak berbagai macam bunga beraneka warna terbentang layaknya karpet di sekeliling kami. Di tengah-tengah taman bunga tersebut, terdapat jalan setapak terbuat dari susunan batu yang terbenam ke dalam tanah. Jalan setapak itu mengalir mengarah ke sebuah bangunan berbentuk Kastil besar berwarna putih.
__ADS_1
"Sucikan dirimu terlebih dahulu ke sungai suci yang ada disana, dan ganti pakaian mu dengan pakaian yang telah kami siapkan.." ucap laki-laki tadi sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah kanan tubuhnya
Ku ikuti semua perintahnya tanpa sepatah katapun keluar dari dalam bibirku. Kulangkahkan kakiku ke arah yang ditunjuknya tadi, udara dingin yang berhembus di sekitar benar-benar membuat tubuhku bergidik...
Sebuah sungai berair jernih mengalir panjang dari arah sebelah kanan ke sebelah kiri tubuhku. Kulangkahkan kembali kedua kakiku mendekati sungai tersebut, tampak sebuah gaun putih polos tergantung di salah satu dahan pohon yang rendah...
Kuperhatikan sekitar, tak ada seseorang pun di sini kecuali aku. Kulucuti semua pakaian yang menempel di tubuhku seraya kulangkahkan kembali kakiku semakin mendekati sungai...
"Dingin" ucapku tanpa sadar ketika ujung jariku menyentuh air sungai yang mengalir
Kutarik nafasku sedalam mungkin sembari kuhembuskan kembali dengan perlahan. Rasa dingin dari air sungai, menggelitik seluruh tubuhku. Duduk aku di pinggir sungai seraya menahan gemeretak tubuhku yang diselimuti rasa menggigil...
Kucoba kugerakkan tubuhku yang hampir membeku itu, beranjak aku berdiri seraya berjalan ke arah salah satu pohon yang ada di sana. Kuraih gaun putih polos yang tergantung di salah satu dahan pohon seraya kukenakan gaun itu secepat mungkin...
Berjalan dan kuraih gaun yang telah aku pakai sebelumnya dari atas tanah. Tetesan air yang jatuh di ujung-ujung rambutku, membuat basah gaun putih polos yang aku kenakan...
"Kau telah selesai menyucikan tubuhmu?" ucapnya menatapku yang kubalas dengan anggukan pelan dariku
"Kalau begitu, ikuti aku.." ucapnya lagi seraya berjalan meninggalkanku
Ku ikuti kembali langkahnya menuju ke sebuah rumah kecil terbuat dari kayu yang terletak tepat di belakang bangunan yang berbentuk Kastil tadi. Berjalan ia ke sebuah keranjang rotan besar yang terletak di samping rumah, diambilnya sebuah bungkusan kain putih besar dari dalam keranjang seraya berbalik dan berjalan kembali menuju ke arahku...
"Ambil ini, dan pakailah ketika acara pertunangan besok. Malam ini, kau akan tidur di rumah ini bersama perempuan lainnya yang juga akan melakukan pertunangan besok..."
__ADS_1
"Kami tidak akan memberikan makanan, karena kalian diwajibkan melakukan puasa seharian penuh hingga keesokan harinya..." ucapnya lagi seraya mengarahkan bungkusan putih besar yang ada di tangannya ke arahku
"Aku mengerti.." tukasku seraya mengambil bungkusan kain putih yang diberikan nya tadi
"Jangan sampai terlambat.." Ungkapnya menatapku tajam seraya berbalik dan berjalan menjauh
Berbalik dan berjalan aku menuju ke rumah kayu yang laki-laki tadi sebutkan, kubuka pintu rumah kayu yang tertutup itu. Tampak terlihat sebuah ruangan kosong yang menghiasi nya, hanya lilin-lilin yang mulai mengecil lah yang menyelamatkan rumah ini dari kegelapan yang menyelimuti isinya.
Kujatuhkan pandanganku ke sekitar, tampak ada sepuluh lebih anak perempuan duduk di sudut-sudut dinding rumah. Mereka semua mengenakan gaun putih polos yang terlihat persis dengan yang aku kenakan, dan tak lupa bungkusan kain-kain putih yang senantiasa di masing-masing pelukan mereka...
Berjalan dan duduk aku di sudut kanan ruangan, kusandarkan tubuhku yang lelah ke dinding kayu yang hampir lapuk itu. Kuperhatikan lagi mereka yang ada di sekitarku, tampak raut wajah kelelahan terlukis jelas di wajah-wajah kecil mereka...
Seminggu sudah aku menghabiskan waktu di perjalanan untuk dapat sampai kesini, aku tidak tahu berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya untuk datang kesini...
Seorang anak perempuan berambut pirang bermata biru menatapku dari kejauhan, beranjak ia berdiri seraya berjalan ke arahku dengan bungkusan kain putih tergantung di genggaman tangan kanannya...
"Kau seorang bangsawan, bukan?" ucapnya seraya duduk di sampingku
"Darimana kau bisa tahu?" ucapku menatapnya
"Tentu saja aku tahu, tubuhmu bebas dengan luka tidak seperti perempuan lainnya yang ada di sini." Ucapnya lagi seraya mengarahkan pandangannya ke sekitar
"Dan kau juga bangsawan?" ungkapku kembali menatapnya
__ADS_1
"Julissa, Julissa Laura. Aku Putri ketiga, Kerajaan Leta, dan kau?" ungkapnya balik menatapku
"Sachi, Takaoka Sachi. Putri kedua, Kerajaan Sora." ucapku yang ikut menatapnya