
Aku berjalan menelusuri lorong Istana, sesekali sebelah tanganku bergerak menggulung lengan pakaian yang sedikit besar itu. Sudah beberapa hari kami tinggal di sini, kakakku Haruki telah mengirimkan surat kepada Julissa agar secepatnya datang ke Yadgar. Aku tidak tahu, kapan Julissa akan sampai … Mungkin hari ini, atau mungkin esok.
Kedua kakiku berjalan semakin cepat mendekati paviliun yang ditinggali Kakakku dan juga Eneas, berkali-kali aku memanggil mereka, namun tak ada jawaban sedikit pun yang terdengar dari dalam, “apa mereka sedang pergi?” gumamku pelan sambil berbalik lalu melangkah menjauh.
Aku menghentikan langkah saat mataku terjatuh kepada Akash yang berjalan mendekat, “apa kau, melihat kakak dan adikku, Akash?” tanyaku kepadanya saat dia menghentikan langkahnya di depanku.
“Mereka pergi bersama Kabhir mengunjungi Viscount, ada yang ingin mereka diskusikan,” jawab Akash kepadaku.
“Lalu, kenapa mereka tidak mengajakku?”
Akash menggelengkan kepalanya, “aku tidak bisa menjawabnya jika hal itu yang ditanyakan,” ungkapnya membungkukkan tubuh sebelum berjalan melewatiku.
“Akash, apa kau memiliki simpanan uang? Jika iya, bisakah kau meminjamkan aku uang?”
Aku menundukkan pandangan di hadapannya dengan kedua tanganku yang saling menempel ke dapan, “aku memakai pakaian Zeki secara diam-diam, dan-” ucapku terhenti dengan sedikit melirik ke ujung mata, “ukuran tubuh Zeki tidak sama denganku. Jadi, aku membutuhkan uang untuk membeli pakaian,” ungkapku dengan mantap sembari mengangkat wajahku kembali menatapnya.
“Dengan siapa, kau akan pergi keluar Istana, Putri?”
“Dengan Lux,” ungkapku sembari menunjuk ke pundak kananku.
Akash kembali berjalan melewatiku, “aku akan mengawalmu selama berbelanja. Yang Mulia, pasti akan langsung membunuhku jika terjadi sesuatu kepadamu di Kerajaan,” ungkapnya, aku melirik ke arah punggungnya yang semakin berjalan menjauh.
__ADS_1
Aku berbalik lalu melangkah mengikutinya. “Aku akan mengawalmu dari kejauhan. Karena mereka sudah mengetahui jika aku seorang Kapten Kerajaan, jika saja kabar kematian tunangan Yang Mulia tidak menyebar, aku mungkin akan langsung mengawalmu dengan banyak sekali pasukan,” ungkapnya dengan tetap berjalan tanpa sedikit pun memalingkan wajahnya.
“Aku tahu. Lagi pun, aku tidak terlalu ingin menjadi pusat perhatian,” aku menyelipkan sedikit rambutku ke telinga dengan helaan napas yang pelan terdengar.
Akash memerintahkan Kesatria yang berjaga untuk membuka gerbang, dia berbalik dengan sebuah kantung kulit di tangannya yang mengarah kepadaku. Aku berjalan mendekatinya sembari meraih kantung berisi uang yang ada di tangannya, dia sedikit berjalan mundur sebelum membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangannya mengarah ke arah gerbang.
Aku menarik napas lalu mengembuskannya kembali sebelum langkah kakiku berjalan melewati gerbang. Langkah kakiku terhenti sejenak dengan wajah yang sedikit mendongak ke atas, “sebenarnya apa yang kau khawatirkan, Sachi! Berhenti bersikap bodoh,” gerutuku pada diri sendiri sebelum kembali melanjutkan langkah.
Aku berjalan dan terus berjalan semakin menjauhi Istana, suara hiruk-pikuk semakin terdengar saat aku telah berjalan melewati rumah-rumah besar dengan pagar yang hampir menyamai tingginya benteng Istana. Aku terus melangkahkan kaki membelah kerumunan orang yang berlalu-lalang diikuti kedua mataku yang tak henti-hentinya menatap ke sekitar.
Aku menyilangkan kedua tanganku, berusaha mencari barang-barang yang aku perlukan di sekitar Pasar, “aku ingin banyak sekali makanan, tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan uang yang aku pinjam,” bisikku lirih dengan masih melemparkan tatapan pada barang-barang yang dijajakan.
Aku melirik ke kiri saat suara rintihan terdengar, kujatuhkan pandanganku ke seorang perempuan yang berdiri di samping laki-laki paruh baya. Laki-laki di sampingnya itu kadang mencubit atau bahkan memukul lengan perempuan tadi saat perempuan tersebut menundukkan pandangannya, “Yang Mulia diam-diam suka mengunjungi pasar, tunjukkan wajahmu itu agar dia tertarik,” bisikan laki-laki tersebut tak sengaja terdengar saat dia mengarahkan jari-jarinya mencubit lengan perempuan tadi.
Aku mendecakkan lidah lalu melanjutkan kembali langkah, aku menggigit ujung jari telunjukku saat tatapanku tertuju pada empat perempuan tengah berjalan dengan mengenakan gaun-gaun indah mereka. Langkahku berjalan mengikuti para perempuan tadi yang melangkah memasuki sebuah lorong, “Putri Khang Hue?” tukasku saat kedua mataku terjatuh pada seorang perempuan yang berdiri menatapi salah seorang penjual makanan yang ada di samping lorong.
Perempuan tersebut menoleh ke arahku, kedua matanya membesar saat pandangannya itu mengarah kepadaku. Aku hanya melihatnya sekilas beberapa hari yang lalu, jadi aku tidak terlalu memperhatikannya. Tapi bukankah, “Put-" ucapku terhenti sejenak, "Khang Hue, apa kau sedang hamil?” tanyaku lagi sambil melirik ke arah perutnya yang telah membesar.
Dia menundukkan pandangannya dengan sebelah tangannya bergerak menutupi perutnya tersebut, “Tu- tunggu,” ungkapku dengan cepat meraih lengannya saat dia hendak melarikan diri.
“Aku butuh penjelasan. Pikiranku sedang kacau sekarang … Dan saat me-me-melihat,” ucapku dengan melirik ke arah perutnya, “aku butuh penjelasan. Kumohon padamu,” sambungku lagi dengan membuat mimik wajah memohon kepadanya.
__ADS_1
“Aku mengerti, tapi bisakah … Kita mencari tempat lain?” tukasnya dengan melirik ke sekitar.
“Baiklah, kau saja yang menentukan tempatnya,” ucapku sembari melepaskan genggaman tanganku di lengannya.
Khang Hue menghela napas lalu berbelok melangkahkan kakinya memasuki lorong yang sebelumnya dimasuki oleh para perempuan bangsawan yang aku lihat di jalan. Langkah kaki kami terhenti di sebuah restoran yang ada di sudut lorong, “tempat ini, adalah tempat makan yang sering dikunjungi oleh para perempuan bangsawan. Harga makanannya sangatlah mahal, apa kau membawa cukup uang, Putri Sachi?” tanyanya sembari menoleh ke arahku.
“Aku ingin mengajak suamiku makan di sini, tapi laki-laki dilarang untuk memasukinya. Karena, aku tidak ingin makan sendirian … Karena itu, entah kenapa aku merasa beruntung kau muncul, Sachi,” sambungnya tersenyum ketika dia menoleh ke arahku.
“Su-suami?”
Dia mengangkat telapak tangannya ke arahku, “aku sudah menikah,” ungkapnya dengan menunjuk ke arah sebuah cincin yang melekat di jari manisnya.
“Kapan?”
“Aku lapar, anak yang ada di dalam perutku pun merasakan hal yang sama,” ungkapnya mengalihkan pembicaraan dengan telapak tangannya mengusap-usap perutnya yang membuncit itu.
“Hanya ini, uang yang aku miliki … Apakah cukup?” Aku kembali bertanya dengan menggoyang-goyangkan kantung berisi uang, pemberian dari Akash ke arahnya.
“Apa kau jatuh miskin sekarang?” Dia balik bertanya diikuti lirikan matanya yang terlihat dingin ke arahku.
“Aku memang seorang Putri jika berada di Kerajaanku sendiri. Tapi aku, hanya perempuan biasa yang selalu membutuhkan kebaikan hati seseorang saat berada di luar Kerajaan,” jawabku sambil menepukkan tangan ke arah dada.
__ADS_1
Putri Khang Hue menyelipkan rambutnya ke telinga, dia berbelok lalu berjalan mendekati pintu tempat makan yang ia maksudkan, “baiklah. Karena aku dari dulu ingin sekali berkunjung ke sini. Aku akan membayari makananmu, Sa-chan,” ungkapnya sembari menghentikan langkah dengan menoleh ke arahku.