
Aku berbalik menyusul Haruki yang telah kembali duduk di dekat api unggun yang telah padam, dia mengangkat sebelah tangannya menatap gelang akar pemberian kakek yang melingkar di lengannya itu. “Melihat kakekmu dan juga kakeknya Izumi, membuatku juga ingin mengenalkan kakekku kepada kalian … Aku hanya mengetahui jika Ibuku seorang bangsawan, aku belum mendapatkan kabar apa pun mengenai tempat tinggalnya,” gumam Haruki, dia kembali menurunkan lengannya lalu beralih menatap ke arah api unggun yang telah padam tersebut.
“Bagaimana dengan kelima Leshy yang kau tangkap kemarin?”
Aku kembali mengarahkan pandangan ke arahnya, “Kou membawa mereka ke dunianya. Mereka telah banyak merugikan manusia, walaupun keberadaan mereka juga sebenarnya telah membantu penduduk sekitar. Tapi tetap saja, apa yang mereka lakukan salah. Lagi pun, jika dia terus melakukannya … Para manusia itu akan manja hingga tidak bisa menjaga diri mereka sendiri,” ungkapku, aku berbalik ke belakang ketika suara patahan ranting terdengar.
“Tsubaru,” ucapku ketika pandangan mata terjatuh kepadanya yang berjalan tertunduk.
“Putri, Pangeran, selamat pagi,” Tsubaru menghentikan langkahnya lalu membungkukkan tubuhnya ke arah kami.
“Duduklah Tsubaru! Ada yang ingin aku tanyakan.”
“Baik Pangeran,” jawab Tsubaru yang segera menyanggupi perintah Haruki.
“Bagaimana kalian bisa terjebak ke dalam lumpur?”
“Bagaimana kalian bisa terjebak di hutan itu?” ungkap Haruki yang beruntun bertanya kepada Tsubaru.
“Saat kami berkeliling desa, aku … Mendengar suara Putri yang terus-menerus memanggil namaku. Jadi aku, mengikuti suara tersebut dan setelah itu, aku tidak mengingat apa pun lagi.” ungkap Tsubaru yang mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Baiklah, bagaimana keadaanmu sekarang?
“Baik-baik saja, Pangeran," jawab Tsubaru sambil menundukkan wajahnya.
“Tatsuya sudah sadar sejak semalam. Bantu aku untuk membangunkan yang lain, selepas sarapan kita akan kembali melanjutkan perjalanan,” ucap Haruki yang dibalas oleh anggukan pelan dari Tsubaru.
_______________.
“Ampuni kami, karena kami telah menghilangkan tas berisi keperluan milik Yang Mulia dan juga Putri,” aku melirik ke arah mereka berdua yang berlutut di samping kuda yang ditunggangi Haruki.
__ADS_1
“Kami masih bisa meminjam pakaian milik yang lain, atau kita bisa membelinya kembali. Itu hanya barang yang mudah ditemukan di mana pun, nyawa kalian lebih berharga dibanding hal itu,” ungkap Haruki, Tatsuya dan juga Tsubaru mengangkat wajah mereka menatapnya.
Aku tersenyum dengan mengangguk pelan saat lirikan mata mereka mengarah kepadaku. “Jadi semua wakil kapten akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki?”
Kepalaku menoleh ke arah Izumi yang telah berkuda di samping, “kuda milik Haru-nii, Tsubaru dan juga Tatsuya menghilang. Tsutomu memberikan kuda miliknya kepada Haru nii-chan, sedangkan kuda milik Arata dan juga Yuki, mereka gunakan untuk mengangkut keperluan kita,” jawabku, kuangkat sebelah tangan mengusap pipinya yang masih menyisakan bekas debu.
“Aku, masih sedikit tidak percaya akan apa yang terjadi semalam jika saja gelang ini tidak melilit lenganku,” sambung Izumi sambil mengangkat gelang akar yang melilit pergelangan tangannya ke arahku.
“Haru nii-chan, seperti mendapat semangat baru. Aku, turut berbahagia untuknya,” ungkapku sembari menatap Haruki yang tengah berbicara bersama para wakil kapten.
“Kau benar, aku tidak menyangka jika sebentar lagi akan menjadi seorang paman.”
“Paman Izumi. Paman Izumi, terlalu kekanakan untuk menjadi pamanku … Aku tidak bisa membayangkannya, jika anak Haru-nii mengucapkan kata-kata seperti itu dengan nada bicara yang sama seperti Ayahnya,” ungkapku seraya menggerakkan tali kekang hingga kuda milikku berjalan meningalkannya.
“Oi, apa kau tidak tahu itu menyakiti perasaanku?”
“Aku hanya membicarakan semua kemungkinan.”
“Apa kalian membicarakan sesuatu?”
Aku menarik tali kekang kudaku kembali, kuarahkan pandanganku ke arah Haruki yang berjalan mendekati dari arah samping, “itu,” ungkapku sambil melirik ke arah Izumi yang juga terdiam, “Izu nii-chan, ingin membantu menyumbangkan nama untuk anakmu, Haru-nii … Aku benar bukan, nii-chan?” tukasku sembari kembali mengalihkan pandangan ke arah Izumi.
“Itu benar, aku memiliki banyak persediaan nama untuk anakmu, kakak,” sambung Izumi sambil tersenyum menatap Haruki.
“Seleramu dalam memberikan nama sangatlah buruk. Tidak, terima kasih … Aku bisa memikirkannya sendiri,” ungkap Haruki, kudanya berjalan melewati kami berdua disusul para wakil kapten yang berjalan di belakangnya.
“Jika aku memukulnya dalam keadaan dia bahagia seperti sekarang, itu bukanlah masalah besar, bukan?”
“Izu-nii, perjalanan kita masih panjang. Simpan tenagamu, walau sebenarnya aku bahagia melihatmu diperlakukan seperti itu oleh Haru nii-chan.”
__ADS_1
“Kata-katamu yang selalu kau ucapkan itu, terlalu manis untuk ukuran seorang Putri.”
“Benarkah? Bukankah itu bagus? Sudah beberapa kali, kata-kata manisku ini menyelamatkan kita semua,” jawabku, aku menoleh ke belakang, ke arahnya yang telah menunggangi kudanya menyusul.
“Kau benar, sudah berapa banyak laki-laki yang termakan oleh kata-kata manismu itu. Coba hitung, aku ingin mengetahuinya.”
“Untuk apa kau mengetahuinya, nii-chan? Sebanyak apa pun itu, posisimu di hatiku … Tidak akan pernah terganti,” ungkapku tersenyum sambil menepuk-nepuk dada.
“Jangan mengatakan hal menjijikan itu padaku, katakan itu kepada pasanganmu sendiri.”
“Aku akan mengatakannya. Dan jangan mencoba untuk mengajariku perihal percintaan, nii-chan … Masih terlalu polos untuk mengerti perasaan perempuan.”
“Apa yang kau katakan?!”
“Aku bercanda. Terima kasih karena telah menyelamatkanku berkali-kali, terima kasih karena telah membuatku mengerti akan arti suatu hubungan. Dibanding siapa pun, aku lebih menyukai menceritakan semua kegundahan padamu. Entah apa yang akan terjadi, jika saja aku tidak memiliki kakak sepertimu,” ungkapku, aku kembali tersenyum ketika kuda miliknya telah berjalan di sampingku.
“Walaupun tingkahmu kadang membuatku kesal, membuatku ingin melemparkan batu ke atas kepalamu … Tapi, berkat semua itu, aku menjadi tidak mudah untuk melupakan jati diriku sendiri. Karena itu, aku sangatlah berterima kasih,” sambungku lagi padanya.
Izumi membuang pandangannya dariku, “tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku sebagai kakakmu. Sekarang kau baru mengerti, bukan? Betapa bernilainya kakakmu ini,” ungkapnya sembari melirik ke arahku.
“Apa kalian masih ingin melanjutkan pembicaraan?”
Kami terdiam sebelum membuang kembali pandangan ke depan, Haruki menghentikan langkah kudanya dengan menoleh ke belakang, ke arah kami. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Izumi, dia kembali menggerakkan kudanya mendekati Haruki.
“Nee-chan, apa terjadi sesuatu?”
Kepalaku menoleh ke belakang, menatap Eneas dan juga Ryuzaki yang berkuda di belakangku dengan Arata dan Yuki yang berjalan mengiringi kuda mereka. “Aku tidak tahu,” ungkapku sambil menggelengkan kepala menatap mereka.
“Kalian, kemarilah!”
__ADS_1
Aku kembali membuang pandangan ke depan, kugerakkan tali kekang kudaku hingga dia berjalan mendekati kuda milik Haruki dan juga Izumi. Bibirku terbuka sebelum kugigit kembali bibirku itu, “apa ini, Ardenis?” gumamku, aku meneguk ludah diikuti kedua mataku yang masih tertegun menatap ke depan.