
“Apa sekali pun gerbang Istana itu tidak pernah terbuka?” Izumi bergumam diikuti langkah kakinya yang terus berjalan mengikuti Amanda yang menuntun kami ke sebuah kerumunan banyak orang yang berjongkok memetik rerumputan.
Aku turut ikut berjongkok di samping Amanda yang juga telah berjongkok dengan meletakkan mangkuk yang ia pegang ke tanah. “Aku bertanya kepadamu!” suara Izumi kembali terdengar ketika dia telah berdiri di samping kami.
“Apa yang kau tanyakan? Aku tidak terlalu mendengarnya,” ungkapnya dengan mendongakkan kepalanya ke arah Izumi.
“Aku bertanya, apa gerbang Istana itu sekali pun tidak pernah terbuka?” ucap Izumi mengulangi perkataannya.
“Ah, itu benar. Sekali pun tidak pernah terbuka … Bukankah sudah kukatakan, mereka tidak pernah peduli kepada kami,” tukas Amanda dengan kembali menunduk menatap rerumputan yang ada di depan kami.
Izumi berbalik lalu menggerakkan kedua kakinya melangkah menyusul Haruki yang telah berjalan mendekati benteng Istana. Aku melirik ke sekitar, ketika tatapan beberapa orang telah beralih ke arah mereka bertiga. Tatapan mataku kembali beralih kepada Amanda yang kembali memetik rumput-rumput liar yang ada di hadapan kami, lalu dikumpulkannya rumput tersebut di telapak tangannya.
Amanda menatap satu genggam rumput yang ia petik di tangannya, “apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku yang dengan cepat menahan tangannya yang hendak mendekati segenggam rumput tadi ke mulutnya.
“Aku, harus mencari tanaman yang dapat dimakan. Tapi sebelum itu, aku sangatlah haus … Aku, tidak bisa serta-merta langsung meminum air sungai tersebut,” ungkapnya diikuti sebelah tangannya yang lain menunjuk ke arah sungai yang sedikit jauh di bawah kami.
Kedua mataku membelalak saat pandangan mataku beralih kepada Amanda yang telah menggerakkan mulutnya. Dia kembali menundukkan wajahnya, mulutnya terbuka diikuti gumpalan hijau yang jatuh di atas telapak tangannya. Amanda membuang gumpalan tadi ke sampingnya, dia kembali memetik rumput, mengunyahnya lalu melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Melihatnya, mengingatkanku saat kami terjebak di hutan terlarang. Entah itu tanah atau lumut, asalkan itu dapat menghilangkan rasa lapar dan haus.
Tidak, itu tidak benar, Sachi! Hanya pikirkan saja tujuan kami datang ke sini!
“Sachi!”
__ADS_1
Aku menoleh ke samping, ke arah mereka bertiga yang tengah berjalan mendekati kami berdua. “Ambillah, dan isi tenagamu!” Aku segera menangkap buah jeruk yang Izumi lemparkan ke arahku menggunakan kedua tangan.
Kugenggam kuat buah jeruk tersebut sambil beranjak berdiri, “dari mana kalian mendapatkannya?” Amanda segera beranjak dengan menggenggam jeruk pemberian Izumi di tangannya.
“Tanyakan itu kepadanya,” ungkap Izumi sambil menunjuk ke arah Haruki yang berdiri di belakangnya.
“Kita tidak boleh memakan ini. Kembalikan, cepat kembalikan sebelum mereka menyadarinya."
Aku melirik ke arahnya, kedua tangannya yang menggenggam jeruk itu terlihat gemetar. “Aku memang melompati pagar kayu untuk mengambil buah jeruk tersebut. Aku yang akan menanggung semua yang akan terjadi … Hanya makan saja buah itu,” ucap Haruki, dia berjalan melewati kami lalu duduk di samping Izumi yang telah mengupas jeruk yang ada di tangannya.
“Bagaimana ini, kita semua akan berada dalam bahaya,” ungkapnya yang masih tertunduk dengan suara yang terdengar bergetar.
“Jika kakakku mengatakan kata-kata itu, berarti mereka memang akan melakukannya. Lagi pun, lihatlah! Bukan hanya kita yang memakan buah ini,” ungkapku sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang juga sama memegang jeruk di tangan mereka.
“Nii-chan, dia mengatakan terima kasih untukmu,” ungkapku dengan mengalihkan pandangan ke arah Haruki yang telah menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana cara memakannya?” Dia bergumam sambil menggerakkan buah jeruk tersebut sebelum dia menggigit buah tersebut berserta kulitnya.
Tanganku kembali terangkat menahan tangannya yang memegang jeruk tadi, “bukan seperti itu, kau harus mengupasnya terlebih dahulu,” ungkapku sambil sedikit menarik tangannya tersebut.
Aku kembali duduk dengan tetap memegang tangannya. Kedua tanganku bergerak mengupas jeruk yang ada di tanganku lalu memberikan setengah dari jeruk milikku itu kepadanya saat dia telah duduk di sampingku. “Apa kau, belum pernah melihat buah ini?” tanyaku ketika dia telah meletakkan jeruk yang sebelumnya ada di tangannya, sebelum dia meraih jeruk yang ada di tanganku.
“Aku perempuan, dan juga berasal dari kalangan rendahan. Jangankan sesuatu seperti ini, dapat meminum air hujan ketika kecil saja sudah membuatku sangat bersyukur. Apa ini? Baru pertama kalinya untukku merasakan rasa aneh ini di dalam mulutku,” ucapnya, kedua matanya membesar saat dia menggigit langsung setengah jeruk yang sebelumnya aku berikan.
__ADS_1
“Rasanya manis, bukan? Dan juga segar.”
“Manis? Dan segar? Aku tidak tahu apa arti manis yang kau maksudkan,” ungkapnya yang mengangkat telapak tangannya mengelap dagunya yang telah basah oleh air jeruk.
“Rasanya lezat, bukan?” Aku kembali mengucapkan hal itu dengan tersenyum menatapnya.
Amanda menganggukkan kepalanya sembari meraih kembali jeruk yang sebelumnya ia letakkan di tanah, “apa di luar Kerajaan memiliki banyak sekali makanan-makanan seperti ini?”
Dia kembali menggigit bibirnya sambil menatap jeruk yang ada di tangannya itu, “aku, tidak pernah diizinkan untuk keluar rumah sebelumnya. Karena saat aku besar, aku harus menggantikan pekerjaan Ibuku yang menjadi seorang penghibur. Aku, hanya selalu diberi makan dengan sayur-sayuran pahit untuk menjaga tubuhku … Aku, baru bisa melihat dunia luar ketika tanah tiba-tiba berguncang.”
“Kau mengatakan jika pakaian yang kau kenakan itu milik Ayahmu, bukan?”
“Kau benar, ini … Pakaian terakhir sebelum aku menghilangkan nyawanya. Entah apa yang terjadi kepadaku hingga menceritakan sesuatu yang tak seharusnya aku ceritakan kepadamu,” ucapnya yang dengan kembali membuang pandangan matanya menghindari tatapanku.
“Bisakah, aku melihat ke belakang telingamu?”
“Telingaku? Ada apa dengan telingaku?”
“Ada yang ingin aku pastikan,” ungkapku kembali kepadanya.
Aku sedikit beranjak saat dia menundukkan kepalanya. Kugerakkan kepalaku bergantian memeriksa ke belakang telinganya. Tak ada nama siapa pun di sana … Ataupun, bekas luka terbakar. “Kau telah berjuang dengan sangat baik selama ini,” ungkapku dengan menepuk pelan lengannya.
Kepalaku kembali menoleh ke arah Haruki, Izumi dan juga Eneas yang telah berjalan melewati kami. Aku turut beranjak dengan berbalik menatap mereka yang semakin mendekati beberapa laki-laki memakai baju zirah tengah membuat keriuhan. “Apa yang mereka lakukan? Para Kesatria itu akan menghukum mereka, jika mereka mengetahui apa yang diperbuat oleh kakakmu,” ungkap Amanda diikuti jeruk yang ada di tangannya itu terlepas ketika dia juga telah beranjak.
__ADS_1
“Justru Amanda, itulah alasan mereka sebenarnya … Itu alasan mereka, kenapa mereka mengambil buah-buahan yang dijaga ketat. Kami, harus bertemu dengan dia yang bersembunyi di dalam Istana Ardenis,” ucapku tersenyum sebelum ikut menggerakkan kedua kaki menyusul mereka bertiga yang telah berdiri di hadapan para Kesatria.