Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXCV


__ADS_3

"La-par," suara Cia pelan terdengar saat dia membenamkan kepalanya di pelukanku.


Pandangan mataku jatuh tertuju pada para laki-laki yang telah memegangi seekor kuda dari rombongan. Kuda tersebut berusaha memberontak saat para laki-laki itu menahan gerakan kuda tersebut dengan tubuh mereka.


Jabari yang berdiri di samping Haruki berjalan maju mendekati kuda tadi dengan sebilah pedang di tangannya. Langkah kaki Jabari berhenti di dekat kepala kuda tersebut, ia menunduk dengan mengarahkan pedang yang ia genggam ke leher kuda itu...


Beberapa laki-laki yang duduk menahan tubuh kuda tadi beranjak lalu berjalan ke belakang menjauhi kuda tersebut. Kuda malang itu menggeleparkan tubuhnya di hamparan pasir yang telah berubah warna menjadi merah oleh darah miliknya.


"Apa kita akan memakan kuda malang itu?" Suara Yoona mengejutkanku saat dia telah duduk di samping.


"Jika tidak melakukannya, kita akan mati kelaparan di sini," ucapku kembali menatap Jabari yang kembali mengayunkan pedang miliknya berkali-kali ke leher kuda itu.


"Kau mengatakannya seperti semuanya biasa untukmu," ucapnya kembali padaku.


"Jika boleh jujur, aku lebih memilih memakan daging kuda dibandingkan daging ular," ucapku menundukkan kepala, ingatan saat kami memakan daging ular di hutan terlarang kembali mencuat di ingatanku.


"Ular?"


"Bukan apa-apa, aku hanya asal berbicara," ucapku kembali menanggapi perkataan darinya.


"Aku akan membawa Cia ke tenda," ucapku berusaha beranjak berdiri dengan menggendong Cia yang telah tertidur.


Aku berjalan mendekati tenda kain berwarna putih yang tidak terlalu jauh dari tempatku duduk sebelumnya. Kenapa putih? Karena warna putih dapat memantulkan panas sinar matahari. Akan terasa seperti di neraka, jika aku membangun tenda tersebut dengan kain berwarna hitam...


"Maaf," terdengar suara perempuan saat aku membuka tirai kain pada tenda tersebut.


"Tidak apa-apa, kau bisa beristirahat di sini," ucapku saat kutatap seorang perempuan yang tengah menyusui bayinya.


Perempuan itu masih diam tertunduk menatapi bayinya yang tertidur di gendongannya. Aku duduk dengan membaringkan Cia di atas kain yang terbentang di dalam tenda, kugerakkan telapak tanganku mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat...


"Terima kasih," ucap perempuan tersebut memecah keheningan.

__ADS_1


"Terima kasih, untuk?" Ungkapku membalas tatapannya.


"Karena, berkat kalian... Kami bisa selamat," ucapnya tersenyum dengan menundukkan kembali pandangannya.


"Tidak perlu berterima kasih, karena jika kau sekarat. Mereka juga pasti akan meninggalkan mu seperti laki-laki semalam," ucapku ikut membaringkan tubuh di samping Cia.


__________________


Kuda milik kami kembali berjalan pelan menyusuri padang pasir. Suara Akintunde tampak riuh terdengar diikuti suara penduduk desa yang lain, beberapa dari mereka melompat kegirangan dengan sebelah tangan menunjuk ke arah yang sama...


Izumi menggerakkan kuda miliknya mendekati rombongan itu. Diangkatnya sebelah telapak tangannya menutupi alis sembari matanya tertuju pada arah yang mereka tunjukkan sebelumnya...


"Air, dan dataran hijau," ucap Izumi menoleh ke arah kami.


Beberapa orang tertunduk dengan telapak tangan menutupi masing-masing wajah mereka. Bahkan, suara tangis ikut terdengar dari bibir mereka...


Aku ikut menunduk, entah kenapa... Air mataku ikut keluar mendengar perkataan yang Izumi ucapkan.


Akintunde diikuti warga desa lainnya berlari kencang ke arah yang mereka tunjukkan sebelumnya. Izumi ikut menggerakkan kuda miliknya berlari menyusul Akintunde, tampak satu-persatu dari rombongan juga ikut menggerakkan kuda milik mereka bahkan ada yang segera berlari menyusul langkah Akintunde dan yang lainnya...


Udara sore yang tak terlalu panas semakin membuat mereka lebih bersemangat berlari mendekati hamparan rumput dengan beberapa hewan yang tengah sibuk mengisi perut mereka di sana.


Langkah kaki kudaku terhenti saat ia menginjakkan kaki di hamparan rumput. Aku menatap ke sekitar sembari membiarkan kuda milikku itu memakan rumput-rumput liar yang ada di hadapannya.


Hewan-hewan seperti Zebra, Jerapah dan bahkan Gajah tampak sibuk dengan kehidupan mereka sendiri-sendiri tanpa terganggu dengan kedatangan kami.


Beberapa laki-laki dari warga desa tampak sudah menceburkan diri mereka di sungai yang terpampang panjang di hadapan. Beberapa dari mereka juga ada yang hanya duduk-duduk di pinggir sungai dengan sesekali membasuh wajah mereka...


"Pertama kalinya untukku melihat hewan-hewan ini," suara Izumi mengagetkanku, aku berbalik menatapnya diikuti dengan Haruki dan juga Eneas yang menunggangi kuda mereka di dekatku.


"Maksudmu, Zebra, Jerapah, dan juga Gajah," ucapku dengan menunjuk ke arah hewan-hewan tersebut bergantian.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Aku membacanya dari sebuah buku," ucapku menjawab pertanyaan Izumi.


"Apa kau tahu nii-chan, aku ingin Kerajaan kita memiliki hewan itu untuk dipelihara," ucapku kepada Haruki dengan jari telunjuk mengarah ke arah Gajah yang tengah mandi dengan air yang ia semburkan dari belalainya.


"Hewan itu?" Sambung Haruki ikut menunjuk ke arah Gajah tersebut, aku mengangguk membalas perkataannya.


"Hewan itu sangatlah kuat, jika kita menggunakannya sebagai senjata dalam pertempuran... Kita akan dengan sangat mudah membunuh banyak pasukan pejalan kaki," ucapku kembali menatapi Haruki.


"Apa kau yakin?"


"Tentu, lihatlah tubuhnya. Manusia akan langsung kehilangan nyawanya, jika ia menginjakkan kaki di atas tubuh manusia tersebut," sambungku kembali menimpali perkataan Haruki.


"Begitukah?" Ucap Haruki menyilangkan kedua lengannya ke dada.


"Akintunde!" Teriak Haruki kembali sembari pandangannya tertuju pada Akintunde yang berdiri menatapi warga desanya yang sibuk bermain air di sungai.


"Ada apa?!" Balas Akintunde berteriak, dia berbalik melangkahkan kakinya mendekati kami.


"Bagaimana menurutmu dengan tempat ini?" Ucap Haruki saat Akintunde menghentikan langkah kakinya di hadapan kami.


"Tempat ini, lebih baik dibandingkan tempat kami sebelumnya. Maksudku, di sini ada makanan dan juga air," ucapnya berkacak pinggang menatapi kami.


"Bagaimana jika kami membantumu membangun peradaban di sini?" Ucap Haruki, entah apa yang ada di dalam pikiran Kakakku itu.


"Setelah kami sampai di tujuan, aku akan mengirimkan surat kepada Ayahku untuk mengirimkan banyak sekali bantuan untuk kalian tinggal di sini. Hanya, balas saja kebaikan kami dengan satu syarat yang harus kalian lakukan," ucap Haruki kembali menatapnya.


"Apa yang dapat kalian lakukan?"


"Banyak, aku adalah seorang Pangeran. Kerajaanku dapat memberikan apapun yang kalian butuhkan, bahkan jika itu menyangkut kebebasan perjanjian kalian dengan Kekaisaran nantinya," sambung Haruki kembali padanya.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu, katakan apa yang harus kami lakukan?"


"Aku ingin kalian tinggal di sini, dan latih semua hewan itu yang hidup di sini... Untuk menjadi senjata pembunuh yang dapat kami gunakan nantinya," ucap Haruki kembali menunjuk ke arah seekor Gajah yang merendamkan tubuhnya di dalam sungai.


__ADS_2