
"Kou," ucapku kembali berjalan mendekatinya, kusandarkan tubuhku duduk di tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja? Maksudku, tentang kau menjadikan para duyung itu sebagai budak. Apa kau pikir itu akan baik-baik saja?" Sambungku, kepalaku bersandar di sayapnya sembari mataku menatap kepada para laki-laki yang tampak sibuk memecahkan es yang mengelilingi kapal.
"Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka, aku dapat menyembunyikan keberadaan mereka... Maksudku, pemimpin mereka..."
"Laki-laki tua itu?" Tanyaku memotong perkataannya.
"Benar, sihir yang ia keluarkan sangatlah besar. Jika Naga milik Kaisar terbang di sekitar sini, dia dapat dengan mudah menemukan mereka."
"Tapi bukankah kalian dapat merasakan sihir sekecil apapun?"
"Apa kau lupa My Lord? Kita tidak dapat saling berbicara beberapa hari yang lalu, di sekitar tempat ini seperti melarang sihir dari luar untuk memasukinya."
"Aku mengerti, lalu... Kenapa tidak dari dulu saja kau melakukannya? Maksudku, aku sangat terkejut kalian memiliki kekuatan yang sangat besar seperti itu," ucapku, kuangkat sebelah lenganku menutupi kedua mataku.
"Karena aku tidak ingin kau membenciku. Jika aku melakukannya, lalu apa bedanya aku dengan Naga milik Kaisar? Lagipun, kesetiaan akan datang jika mereka sendiri yang ingin melakukannya tanpa paksaan. Aku, hanya sedikit jengkel dengan para ikan itu, karena mereka tak bisa menghargaimu," ucapnya mengarahkan kepalanya yang besar itu ke atas pahaku.
"Kau melakukannya untukku? Terima kasih," ucapku menggerakkan tanganku yang menutupi kedua mataku sebelumnya itu mengusap-usap pipinya.
_____________________
Tidurku terusik saat kurasakan sesuatu menyentuh pundak, dengan perlahan kubuka kedua mataku menatap bayangan kabur yang ada di hadapan...
"Zeki?" Ucapku parau sembari kedua mataku beberapa kali tertutup lalu terbuka kembali.
"Apa aku membangunkanmu?" Ucapnya, ikut kurasakan sesuatu meraih rambutku.
"Aku lelah sekali," ucapku kembali dengan sangat pelan, kembali kupejamkan kedua mataku perlahan.
"Dingin sekali," ucapnya, kubuka sedikit kedua mataku, meliriknya yang telah duduk bersandar di tubuh Kou sama sepertiku.
"Punggungku," ucapnya lagi, dia beranjak menjauhkan punggungnya yang sebelumnya menempel di tubuh Kou sembari sebelah tangannya juga ikut bergerak mengusap-usap punggungnya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku sembari tetap meliriknya, ia menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku.
"Tidurlah bersama Cia dan yang lain di dalam kapal, walaupun kapalnya masih tenggelam ke samping, tapi kau bisa tidur di dindingnya," ucapnya, kedua tangannya bergerak membetulkan selimut yang ia letakkan di atas tubuhku sebelumnya.
"Tubuhku hampir tak bisa digerakkan, aku terlalu lelah untuk beranjak ke sana," ucapku kembali memiringkan kepala bersandar di tubuh Kou.
__ADS_1
"Apa itu sebuah permintaan? Kau ingin aku menggendongmu ke sana?" Ucapnya, diangkatnya sebelah tangannya meraih rambutku lalu diselipkannya kembali rambutku tadi di telingaku.
"Tidak perlu. Mendekatlah," ucapku meraih lengannya, Zeki menggerakkan tubuhnya semakin duduk mendekatiku.
"Aku benar-benar menyukai punggungmu ini," ucapku pelan, kugerakkan kepalaku bersandar di punggungnya.
"Zeki," ucapku kembali, ikut terdengar suara berdeham yang ia lakukan.
"Ada apa? Apa kau tertidur?" Ucapnya dengan menggerakkan sedikit pundaknya saat aku terdiam beberapa saat.
"Tidak ada, lupakan saja," balasku kembali memejamkan mata.
"My Lord," suara Kou tiba-tiba terdengar, aku menggerakkan kepalaku dengan sangat perlahan menoleh ke arahnya.
"Tubuhmu melemah karena aku terlalu lama berada di sini. Aku akan segera kembali, panggil aku jika terjadi sesuatu," ucapnya terngiang di kepalaku, aku mengangguk membalas perkataannya sembari kugerakkan punggungku menjauh dari tubuhnya.
Aku melirik ke arah Kou yang telah beranjak berdiri, ia berjalan maju beberapa langkah sebelum kedua sayapnya mengepak kuat membawa tubuhnya terbang ke langit malam.
"Kou kembali ke rumahnya?" Ungkap Zeki di sampingku.
"Semakin lama dia berada di sini, semakin tenagaku terkuras habis," ucapku, semakin kugerakkan kepalaku terbenam di punggungnya.
"Duduk berlama-lama di atas es, kau tahu... Tubuhku terasa membeku," ucapnya beranjak duduk dengan kedua tangannya bergerak mengarah padaku.
Zeki mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya tadi, kain yang menyelimuti tubuhku tampak menjuntai ke bawah saat ia menggendongku di rangkulannya. Dengan perlahan, Zeki melangkahkan kakinya berjalan melewati lempengan es yang mengelilingi kapal milik Aydin.
"Kau tahu?" Ucapnya sembari tetap melangkah, kugerakkan kepalaku menatapnya yang tengah mendongakkan kepalanya ke atas.
"Saat aku tahu, kau pergi sendirian untuk menyelamatkan Eneas. Hal itu benar-benar membuatku marah," ucapnya, kepalanya kembali bergerak menunduk menatapku.
"Aku marah ke para awak kapal, aku marah kepada pasukanku. Memikirkan, kau melakukan semuanya sendirian membuatku... Apa yang harus aku lakukan agar dia lebih dapat bergantung padaku, kira-kira begitulah yang aku pikirkan," ucapnya, kembali diangkatnya kepalanya itu menatap lurus ke depan.
"Apa kau bosan padaku?" Ucapku sembari membuang pandangan darinya.
"Bosan? Bagaimana aku bisa bosan, pada perempuan yang dapat membuat banyak laki-laki mengatakan menakjubkan saat dia sedang menunggangi Naga miliknya di udara. Lihat aku," ucapnya kembali, dengan sedikit sungkan kuangkat kembali kepalaku menatapnya.
"Aku, tidak akan kalah darimu. Aku, akan melatih tubuhku untuk jadi semakin kuat. Jadi, jangan melirik ke arah laki-laki lain Takaoka Sachi."
"Apa kau kehilangan kepercayaan diri?"
__ADS_1
"Apakah aku terlihat seperti itu?" Ucapnya membuang pandangannya dariku.
"Kemarilah, aku ingin menyentuh wajahmu," ucapku mengangkat kedua telapak tanganku ke arahnya.
"Wajahku?" Ucapnya, digerakkannya wajahnya itu mendekat sehingga aku dapat menyentuhnya.
"Ingat ini baik-baik Zeki Bechir," ucapku menarik wajahnya semakin mendekatiku, ikut kurasakan langkah kakinya terhenti saat aku melakukannya.
"Ini hadiah untuk sebelas tahun hubungan kita," ucapku mengarahkan ciuman di dahinya.
"Ini hadiah untuk menungguku selama enam tahun aku menghilang," ungkapku menggerakkan wajah mencium pipi kanannya.
"Ini hadiah untuk semua usahamu, kau melakukan semuanya dengan sangat baik selama ini," sambungku, aku kembali bergerak mencium pipi kirinya.
"Hanya itu?" Tanyanya saat aku tersenyum ke arahnya.
"Hanya itu, memang apalagi yang harus aku lakukan," ucapku membalas perkataannya.
"Baiklah, sekarang giliranku," ucapnya mengangkat tubuhku, hingga wajahku berhenti tepat di depan wajahnya.
"Cium hidungku," ucapnya semakin mendekati wajahnya ke arahku.
"Untuk apa aku melakukannya," balasku menggerakkan telapak tangan mendorong dagunya hingga kepalanya sedikit mendongak ke atas.
"Lakukan saja, nanti akan kuberitahukan kenapa," ucapnya kembali menurunkan pandangan menatapku.
"Baiklah," ucapku meraih wajahnya lalu menciumi hidungnya.
"Itu hadiah untukku atas semua sikapmu yang membuat kepalaku pusing."
"Apa yang kau katakan?"
"Sekarang cium daguku," ucapnya menggubris perkataanku.
"Lakukan saja," sambungnya saat aku menjauhkan wajah dengan sedikit memicingkan mata ke arahnya.
"Apa kalian telah selesai? Sampai kapan kalian akan berada di sana? Apa sampai es itu mencair lalu menenggelamkan kalian berdua?!" Teriakan Izumi tiba-tiba terdengar, aku membalikkan kepala menatap bayangannya yang berdiri di atas kapal dengan sebuah obor di tangan.
"Bawa Adikku ke sini secepatnya Zeki! Atau aku, akan memberitahukan semua yang aku lihat malam ini kepada Haruki dan juga Ayahku," ucap Izumi kembali dengan sangat jelas terdengar.
__ADS_1
"Sialan. Kapan, kedua kakakmu itu berhenti mengganggu hubungan kita," ucap Zeki diikuti suara decakan lidah yang ia keluarkan, kembali kurasakan tubuhnya berjalan maju menggendongku.