Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXXVIII


__ADS_3

“Putri, biar kami saja yang melakukannya,” ucap kepala koki yang melangkahkan kakinya mendekati, “tidak apa-apa, aku sudah lama sekali … Ingin memasak di dapur lagi seperti ini,” ucapku meniupkan udara ke atas sendok berisi susu stroberi hangat yang ada di tanganku.


“Tapi Putri,” ucapnya lagi kepadaku, kuletakkan sendok yang aku pegang sebelumnya ke atas meja, “Paman, ini permintaan Kakakku … Bagaimana aku bisa menolak permintaannya saat kondisinya seperti ini,” ucapku pelan, kutatap mereka semua yang telah menundukkan kepala dengan mengenggam kedua tangan mereka.


Aku berbalik meraih gelas keramik berserta tutupnya yang tersimpan di dalam lemari, ikut kuraih nampan kayu yang juga tergeletak tak terlalu jauh dari sana. Kuletakkan kedua benda tadi ke atas meja dengan kedua tanganku perlahan menuangkan susu stroberi hangat yang ada di dalam panci tembikar ke dalam gelas keramik yang aku ambil sebelumnya.


“Bagaimana keadaan kalian?” Tanyaku menoleh ke arah kerumunan pelayan yang berdiri menatapku, “kami semua baik-baik saja, Putri,” ucap kepala koki yang disambut anggukan kepala dari yang lainnya, “syukurlah, terima kasih … Karena telah membantu kami merawat Ayah,” ucapku kembali dengan sedikit membungkukkan tubuh ke arah mereka.


“Putri.”


“Jangan lakukan itu, Putri,” ucap mereka bergantian terdengar, kuangkat kembali kepalaku menatapi mereka, “aku benar-benar beruntung, memiliki kalian semua,” sambungku tersenyum menatapi mereka bergantian, kutatap beberapa dari mereka yang tertunduk tersenyum, dengan beberapa yang lainnya mengangkat kedua tangannya menutupi wajah.


“Paman,” sambungku menutup gelas berisi susu tadi, kepala koki yang berdiri di sampingku itu mengangkat kepalanya, “aku ingin sekali makan ramen buatanmu, jadi tolong buatkan aku ramen untuk makan malam nanti. Pastikan Paman memasaknya dengan sangat lezat,” ucapku mengangkat nampan berisi segelas susu stroberi hangat di atasnya.


“Pelayanmu ini, pasti akan membuatkan ramen yang sangat lezat untukmu, Putri,” ungkapnya membungkukkan tubuhnya ke arahku, “terima kasih Paman, aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya,” ucapku lagi seraya melangkahkan kaki meninggalkan dapur.


Kedua kakiku berjalan menyusuri lorong istana lalu berhenti di depan pintu perpustakaan. Aku memegang nampan dengan sebelah tanganku, sedangkan sebelah tanganku yang lain bergerak membuka pintu perpustakaan. Aku melangkah mendekati Haruki yang tengah duduk dengan tumpukan buku di hadapannya, “nii-chan, aku membawakanmu susu stroberi hangat,” ucapku dengan meletakkan cangkir berisi susu tadi di dekatnya.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku, “apa yang sedang kau baca, nii-chan?” Aku kembali membuka suara dengan kedua mataku melirik ke arah tumpukan kertas yang ada di hadapannya.


“Laporan keuangan Kerajaan kita selama tujuh tahun terakhir, apa kau ingin membantuku memeriksanya?” Tanyanya menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku, kutarik kursi yang ada di dekatnya lalu mendudukinya, “apakah ada yang salah dari laporan tersebut?” Tanyaku kembali dengan meletakkan nampan yang aku pegang tadi ke samping.


“Sejauh ini tidak ada, karena Tatsuya sendiri yang memegang laporan keuangan Istana,” ucapnya membuka tutup gelas lalu meminum susu stroberi yang ada di dalam gelas tersebut, “Tatsuya?” Aku balik bertanya kepadanya, Haruki kembali meletakkan gelas yang ia pegang tadi ke meja.


“Kemungkinan karena Tatsuya selalu mengikutiku mengurus semua laporan, karena itulah Ayah memberikan tugas ini kepadanya. Aku hanya merasa aneh dengan laporan yang ini,” ucapnya mengangkat lembaran kertas ke arahku.


Aku meraih enam lembar kertas yang ia berikan padaku, kubaca dengan seksama semua tulisan yang terukir di kertas tersebut, “ada perbedaan jumlah di sini. Mungkinkah ini ketika mereka mengunjungi wilayah Niel? Soalnya, bantuan yang Ayah berikan, tidak sama dengan apa yang diterima Niel,” ucapku mengarahkan pandangan menatapnya.


Aku menggelengkan kepala dengan menggigit pelan ibu jariku, “entahlah, bagaimana dengan Costa? Maksudku dia pedagang bukan? Mungkin dia bisa mendapatkan info mengenai perdagangan yang terjadi ketika itu,” ucapku kembali menatapnya.


“Costa, aku sudah lama sekali tidak mendapatkan kabar darinya. Aku akan mencoba menghubunginya nanti. Apakah ada yang mengusik pikiranmu lagi?” Haruki kembali mengambil gelas lalu meminumnya, “apakah yang terjadi pada kita sekarang ini, akan berdampak kepada wilayah-wilayah yang kita kuasai?” Aku kembali menatapnya dengan perasaan cemas yang menyeruak.


“Aku pikir itu tidak akan berpengaruh, karena yang hancur hanya pusat kota, itu pun tidak terlalu parah. Jadi sepertinya tidak akan ada masalah,” ucap Haruki seraya menyandarkan punggungnya ke kursi, “asalkan kabar ini tidak keluar dari Sora, semuanya akan baik-baik saja,” sambungnya kembali dengan mengangkat sebelah tangannya mengusap kepalaku.


“Kita bisa menghentikan perjalanan jika kau lelah,” aku mengangkat kepalaku menatapnya saat dia mengatakannya, “kau dan Zeki dapat menikah, hanya satu tahun lagi bukan?” Ungkapnya menggerakkan telapak tangannya tadi menyentuh pipiku.

__ADS_1


“Kalian ingin melanjutkan perjalanan tanpaku?” Mataku sedikit nanar menatapnya, “aku ingin membantu kalian. Nii-chan, apa kau tidak bisa memaafkanku?” Bibirku gemetar mengatakannya


“Apa yang kau maksudkan? Aku hanya tidak ingin, terjadi sesuatu padamu,” Haruki menurunkan telapak tangannya tadi di pipiku, “lalu bagaimana denganku? Apa aku tidak boleh mengkhawatirkan Kakakku sendiri? Aku akan ikut perjalanan, apa pun yang terjadi,” ucapku membuang pandangan darinya.


“Baiklah, aku mengerti. Sekarang bantu aku untuk meringkas semuanya, aku ingin beristirahat sejenak,” ucapnya memberikan sebotol tinta hitam dan juga pena bulu ke arahku, “lakukan yang rapi, atau aku akan kesulitan membacanya,” ucapnya lagi yang telah menggerakkan kedua tangannya memangku wajahnya di meja.


Aku meraih lembaran-lembaran kertas yang ada di dekat kepalanya, kuletakkan lembaran-lembaran kertas tadi di hadapanku seraya kuambil selembar demi selembar untuk aku baca bergantian, “Sa-chan,” suaranya terdengar, kugerakkan wajahku menoleh ke arahnya yang telah memejamkan matanya.


“Ada apa nii-chan? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Aku balik bertanya diikuti kedua mataku yang kembali menatap lembaran-lembaran kertas tersebut.


“Buatkan aku lagi nanti minuman yang sama, tambahkan lebih banyak madu dari yang kau buat sebelumnya,” gumamnya dengan sangat pelan terdengar, “aku mengerti, beristirahatlah,” ungkapku yang masih menatapnya.


“Sa-chan,” aku kembali menoleh ke arahnya saat dia memanggilku, “terima kasih karena tidak meninggalkannya tujuh tahun yang lalu. Luana, ingin sekali mengucapkan kata-kata itu kepadamu saat pernikahan kami. Kau tahu, karena dia tidak bisa mengatakannya … Jadi aku mewakilinya sekarang,” kugigit kuat bibirku saat dia mengatakannya.


“Dia juga mengatakan, jika nanti kau menikah dengan Zeki, dan juga Sasithorn menikah dengan Izumi, dia ingin menata rambut kalian agar terlihat cantik di hari pernikahan, dia ingin mengantar kedua adiknya itu duduk di pelaminan,” kuarahkan telapak tanganku menutup bibir, berusaha agar tangisanku tak terdengar olehnya.


“Jadi pastikan, kalian...” Ucapannya terhenti, lama kutatap dia yang telah pulas bernaung dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2