Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXVII


__ADS_3

"Namamu siapa?" ucap Julissa berjalan mundur di hadapannya, ikut kutatap perempuan tadi yang berjalan dengan kepala tertunduk di sampingku.


"Wasfiah, Putri," ungkapnya dengan suara yang terdengar sangat pelan.


"Panggil aku Julissa, aku tunangan dari Pangeran Adinata... Jadi dapat dikatakan, jika kau adalah calon adik ipar ku," sambung Julissa lagi padanya.


"Dan dia yang ada di sampingmu, kau dapat memanggilnya Sachi..."


"Takaoka Sachi, salam kenal dariku, Wasfiah," lanjutku meninmpali ucapan Julissa padanya.


"Salam kenal, Julissa, Sachi," ungkapnya kembali seraya kudekatkan telingaku mencoba mendengarkan apa yang ia katakan.


Kualihkan pandanganku pada Julissa yang terlah membalikkan kembali tubuhnya berjalan membelakangi kami, kuikuti langkahnya yang mengajak kami ke sebuah pintu berlapis emas dengan sebuah ukiran bunga teratai tepat di kedua daun pintu yang tertutup itu...


Kedua pengawal yang berdiri di hadapan pintu tersebut bergerak membuka pintu tadi, ikut kulangkahkan kakiku bersama Wasfiah mengikuti langkah Julissa memasuki ruangan...


Kualihkan pandanganku ke sekitar, tampak seorang perempuan paruh baya berdiri di hadapan kami dengan satu... dua...


Sepuluh perempuan berdiri di belakangnya, kutatap mereka yang memakai sebuah baju panjang terbuat dari kain yang sedikit mengkilap, benang-benang emas yang menyusuri kain membuat mataku tak berhenti menatap mereka...


Perempuan paruh baya tadi berjalan maju mendekati kami, membungkukkan tubuh ia di hadapan kami bertiga seraya sebelah tangannya yang dipenuhi gelang-gelang emas itu menyilang di dada.

__ADS_1


"Ajeng Pangestu, bibi dari Pangeran Danurdara Pangestu... Akulah yang akan mengurus seluruh upacara pernikahan..."


"Aku meminta kepada kalian bertiga untuk melepaskan semua pakaian yang kalian kenakan," sambungnya lagi seraya beranjak berdiri menatapi kami.


"Kami bertiga, tapi aku dan Sachi," ucap Julissa, kualihkan pandanganku padanya yang mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arahku.


"Ini permintaan langsung dari Raja Bagaskara Pangestu, ia ingin kalian berdua mendapatkan perawatan yang sama seperti calon pengantin. Jadi silakan," ucap perempuan paruh baya bernama Ajeng tadi, mundur ia beberapa langkah seraya kembali membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangannya terangkat ke samping.


Seorang perempuan yang sebelumnya berdiri di belakang Ajeng tadi berjalan mendekatiku, membungkuk ia di sampingku seraya sebelah tangannya terangkat mengarah ke sebuah bilik kayu berdaun tiga penuh ukiran di samping dinding...


Melangkah aku mendekati bilik kayu tadi dan berdiri di baliknya, kualihkan pandanganku pada selembar kain berwarna kehitaman dengan corak-corak bunga yang terikat satu sama lain di sepanjang kain...


Bergerak aku mendekati perempuan bernama Ajeng tadi dengan kain hitam tadi telah melilit menutup tubuhku. Kuarahkan pandanganku pada Julissa yang juga telah berjalan mendekat dengan kain yang sama melilit di tubuhnya...


"Duduklah," ucap Ajeng seraya mengarahkan kembali tangannya ke arah Wasfiah yang telah duduk di hadapannya.


Kulangkahkan kakiku duduk di samping Wasfiah sedangkan Julissa ikut duduk di sisi lainnya, kuarahkan pandanganku pada pada tiga orang perempuan berjalan mendekat dengan mangkuk sedang di masing-masing tangan mereka...


Salah satu perempuan tadi duduk berlutut di hadapanku, diletakkannya mangkuk yang ada di tangannya tadi ke lantai yang ada di sampingnya. Kuarahkan pandanganku pada mangkuk itu, tampak terlihat... Daun-daun yang telah halus seperti bubur memenuhinya.


"Tanganmu, Putri," ucap perempuan tadi seraya mengangkat telapak tangannya ke arahku.

__ADS_1


"Tanganku?" sambungku seraya kuarahkan telapak tangan kananku ke atas telapak tangannya.


Kutatap wanita tadi yang mengarahkan pandangannya ke arah mangkuk tadi, kualihkan pandanganku pada jari-jemarinya yang telah mengambil sedikit daun-daun itu dengan ujung jarinya...


Gilingan daun itu diarahkannya menyentuh kuku jari telunjukku, rasa dingin sedikit kurasakan tatkala gilingan daun itu semakin tebal menyelimuti kukuku tadi.


"Salah satu tradisi kami adalah calon pengantin laki-laki dan perempuan mengenakan benda yang kami sebutkan pacar ini. Jika warnanya semakin merah, itu berarti pasangan kalian sangatlah mencintai kalian," ucap Ajeng, kualihkan pandanganku padanya yang masih menggerakkan jari-jarinya menyelimuti benda yang ia sebutkan pacar tadi ke satu persatu kuku Wasfiah.


Tubuhku sedikit terhentak saat kurasakan sesuatu dingin menyentuh telapak tanganku, kualihkan pandanganku pada perempuan tadi yang telah meletakkan pacar tadi membentuk sebuah lingkaran di telapak tanganku...


Lama kutatap perempuan tadi yang telah bergerak melakukan hal yang sama di telapak tanganku yang lainnya. Membungkuk ia mendekatiku kakiku, diraihnya kakiku tadi bersandar di atas pahanya...


Kembali, ia menyelimuti kuku kakiku dengan pacar tadi, digerakkannya jarinya meletakkan pacar tadi mengelilingi samping kakiku seperti halnya benang panjang yang mengelilingi kakiku...


Diletakkannya kakiku tadi kembali ke lantai oleh perempuan tadi, kutatap ia yang telah beranjak berdiri di hadapanku dengan mangkuk yang telah kosong isinya itu. Pandangan mataku teralihkan pada Ajeng yang juga telah berdiri di hadapan Wasfiah dengan mangkuk yang ada di genggamannya...


"Kami akan segera kembali, pastikan jangan terlalu banyak bergerak. Jika tidak pacarnya akan hancur, dan jika hancur... Aku tidak akan memaafkan kalian," ucapnya yang menatap tajam kami bergantian, berbalik ia berjalan dengan sepuluh perempuan tadi yang juga ikut berjalan di belakangnya...


Kutatap mereka yang telah melangkahkan kakinya melewati pintu masuk, pintu tersebut kembali menutup pelan diikuti semakin hilangnya bayangan mereka... Kualihkan pandanganku pada telapak tanganku yang dipenuhi gilingan daun tadi...


Wangi khas daun ini, seakan menarik ketenangan di dalam diriku.

__ADS_1


__ADS_2