
"Benar-benar melelahkan. Aku ingin sekali rasanya bersantai sedikit," terdengar suara Lux, kualihkan pandanganku padanya yang terbang masuk melalui jendela kamar yang terbuka.
"Apa terjadi sesuatu?" Ungkap Haruki saat Lux membaringkan tubuhnya di bantal yang ada di sampingnya.
"Kalian memintaku untuk mengawasi Tatsuya dan Tsutomu. Aku, merasa kehilangan banyak sekali tenaga untuk mengalihkan perhatian mereka agar menjauh dari kamar ini," ucap Lux lagi dengan suara yang hampir terputus-putus terdengar.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"
"Entahlah, aku belum memutuskan untuk kedepannya," ucap Haruki membalas perkataan Lux.
"Aku ingin, misi kita mendapatkan banyak sekali sekutu segera tercapai. Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan Kekaisaran," ucap Lux menggerakkan tubuhnya beranjak duduk.
"Tapi sebelum itu, selama kita nanti mencari suku asal dari Ibunya Izumi. Aku ingin mengunjungi sebuah Kerajaan kecil," ucap Haruki menundukkan pandangannya.
"Kerajaan kecil?" Sambung Izumi menggerakkan tubuhnya berbaring menyamping menatap Haruki.
"Aku sendiri tidak terlalu tahu dimana Kerajaan tersebut berada. Keberadaannya masih menjadi misteri seperti suku yang memiliki mata seperti Izumi," ucap Haruki kembali menyilangkan kedua lengannya.
"Lalu, apa ada yang bisa kita manfaatkan dari Kerajaan tersebut?"
"Semua rakyat, Kesatria dan bahkan pemimpinnya adalah perempuan. Kemampuan mereka bertarung menarik perhatianku, aku mendapatkan kabar tersebut dari seorang mata-mata milikku seminggu yang lalu," Ucap Haruki menjawab perkataanku
"Semuanya Perempuan?" Tanyaku lagi padanya, Haruki menatapku dengan kepalanya yang mengangguk beberapa kali.
__ADS_1
"Dari rumor yang terdengar, banyak sekali perempuan yang berbondong-bondong mencari Kerajaan tersebut untuk mendapatkan perlindungan. Jika kemampuan bertarung mereka seperti yang dikabarkan, bukankah itu akan menjadi kabar yang baik jika kita menjalin kerja sama pada mereka," sambung Haruki kembali kepada kami.
"Tapi jika yang kau katakan itu benar. Bukankah mereka melakukan suatu pemberontakan terhadap peraturan Kekaisaran. Apa kau pikir, mereka akan menerima kerja sama dari kita? Sedangkan, kita saja laki-laki," ucap Izumi kembali menggerakkan tubuhnya berbaring terlentang dengan kedua tangannya terlipat di bawah kepalanya.
"Tapi, kita punya perempuan di pihak kita. Perempuan yang tak kalah tangguhnya dari mereka," ungkap Haruki melirik padaku, ikut kugerakkan tubuhku berbaring menyamping menatapnya.
"Aku tidak bisa menjamin. Bahkan Keluarga saja, kita tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Apalagi, mereka yang asing... Karena, kesamaan semirip apapun, akan tetap ada celah perbedaannya. Tapi, jika itu benar... Aku ingin sekali, bertemu dengan para perempuan itu," ucapku seraya tersenyum membalas senyumannya.
___________________
"Putri, apa rambutmu ingin disanggul ataukah hanya digerai saja?" Ungkapnya, kutatap bayangannya yang menatapku dari pantulan cermin.
"Digerai saja, tapi bisakah kau merapikan bagian pinggirnya," ungkapku mengarahkan telapak tangan meraih rambutku yang terjatuh menyentuh pundak kananku.
"Tsu nii-chan," ucapku kembali menatapnya yang tengah fokus menata rambutku.
"Apakah itu benar? Kabar tentang beberapa bangsawan yang memaksa Ayah untuk menikah lagi?"
"Benar Putri. Karena bagi mereka, Kerajaan Sora membutuhkan penerus yang akan memimpin Kerajaan," ucapnya sembari jari-jemarinya bergerak pelan menyusuri rambut.
"Begitukah? Apa kau tahu, siapa calon yang diajukan oleh para bangsawan?"
"Perempuan yang dapat menikahi laki-laki yang sudah pernah menikah, hanya perempuan yang sebelumnya ditolak oleh tunangan mereka, dan mereka sedang dalam masa pengampunan sampai seseorang berniat menggantikan tunangan mereka itu. Atau, mereka yang telah ditinggal mati oleh suaminya..."
__ADS_1
"Jadi, maksudnya... Calon Isteri Ayahku, akan berasal dari kedua perempuan yang kau sebutkan tadi?" Ungkapku memotong perkataannya, Tsubaru mengangguk pelan beberapa kali sembari menatap lurus pada bayanganku di cermin.
"Yang Mulia, selalu menolak banyak sekali lamaran yang dikirimkan padanya oleh beberapa bangsawan yang berasal dari Kerajaan lain."
"Apa Tsu nii-chan pikir, ini ada hubungannya dengan kematian Ibu kami," ucapku menatap bayangannya yang masih tertunduk.
"Mungkin. Yang Mulia, selalu menarik diri sejak..." Ucapnya yang terhenti, kembali tangannya bergerak menyisir rambutku pelan.
"Terima kasih nii-chan, kau memanglah yang terbaik. Sudah lama sekali, rambutku tidak ditata seperti ini," sambungku kembali tersenyum menatapnya.
"Aku bahagia jika kau pun bahagia Putri," sambungnya membalas senyumanku.
____________________
Aku berjalan menyusuri lorong Kastil, tampak terlihat bayangan Tsubaru yang berjalan di belakang mengikuti langkah kakiku. Dilayani seperti ini lagi olehnya membuatku terasa canggung...
Karena mungkin biasanya aku mengurusi semua keperluanku dan juga keperluan yang lain sendiri selama beberapa tahun terakhir. Saat ada yang membantu mengurus semua keperluanku, entahlah... Aku hanya merasakan sedikit aneh.
Langkah kaki kami terhenti, dua laki-laki bertubuh besar berdiri di depan pintu dengan sebilah pedang di masing-masing tangan mereka. Tatapan mereka tajam, ya wajar saja... Mereka tak lain adalah para perampok yang sering berkeliaran di jalan-jalan sekitar pasar, aku tidak tahu... Bagaimana caranya Izumi dan Daisuke membujuk mereka untuk menjadi Kesatria yang akan menjaga wilayah ini.
Dua laki-laki tadi bergerak menyamping seraya sebelah tangan mereka mendorong pintu cokelat tersebut hingga sedikit terbuka. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan diikuti suara langkah kaki yang juga ikut mengiringi langkahku.
Pandangan mataku teralihkan pada Tatsuya dan juga Tsutomu yang telah berdiri di belakang kedua Kakakku. Rasanya, seperti nostalgia sekali melihat mereka berempat seperti itu.
__ADS_1
Aahh, aku jadi mengingat malam dimana kami membuat puding bersama. Malam, dimana pertama kalinya, aku melihat sosok lain pada Ayahku.