Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXVII


__ADS_3

"Apa semuanya telah siap Tsu nii-chan?" kusisir kembali rambutku seraya menatap bayangannya yang tengah sibuk memasukkan semua gaunku ke dalam kotak kayu


"Aku akan mengikuti kereta kalian dari belakang, Putri." ucapnya tanpa menoleh ke arahku


"Kau tidak perlu melakukannya nii-chan," ucapku, beranjak berdiri aku seraya berjalan mendekatinya


"Tapi bisakah aku meminta tolong sesuatu padamu?" ucapku berjongkok duduk dihadapannya


"Katakan saja, aku akan melakukan semuanya."


"Bantu aku menjaga Ayah di Istana. Selama Ayah baik-baik saja, kami bertiga pun akan baik-baik saja," ungkapku tersenyum menatapnya


"Baiklah, akan kulakukan sesuai permintaanmu Putri." ucapnya balas menatapku


"Lux." ucapku setengah berteriak seraya beranjak berdiri


"Kau mengerti bukan?" sambungku menatapnya yang tengah duduk di atas meja rias


"Serahkan semuanya padaku." ungkapnya balik menatapku


____________________


Berdiri aku seraya menatap Tsubaru dan beberapa pelayan lainnya memasukkan beberapa kotak kayu kedalam kereta...


"Kau sudah disini?" terdengar suara Izumi dari arah belakangku


"Apa Haru nii-chan belum juga selesai bersiap?" ucapku menoleh kearahnya


"Dia sedang mendiskusikan sesuatu dengan Ayah." tukasnya berdiri disampingku seraya sibuk memasangkan kancing di lengannya


"Aku akan membantumu, nii-chan." ucapku, kuraih lengannya seraya kupasangkan tiga kancing di lengan jas nya satu persatu


"Tangan sebelahnya." ucapku lagi, kulakukan hal yang sama seperti sebelumnya


"Kalian sudah siap?" ikut terdengar suara Haruki dari arah belakang

__ADS_1


Menoleh kami berdua ke arah suaranya, tampak terlihat ia berjalan mendekati kami diikuti Ayah, Satoru, Kazuya dan bahkan laki-laki asing tadi.


Berjalan Ayah mendekati kami berdua, dipeluknya kami berdua olehnya. Kulirik Haruki yang berdiri di belakang Ayah, tersenyum ia menatap kami.


"Jaga diri kalian baik-baik." bisik Ayah pelan di telinga kami


_________________


Kubuka kedua mata seraya kuangkat kepalaku dari pundak Haruki. Kuarahkan pandangan mataku padanya yang tampak fokus menatap keluar jendela, kualihkan pandangan mataku ke arah Izumi yang juga duduk di sampingku. Sama seperti yang dilakukan Haruki, tampak terlihat tatapan kosong yang ia keluarkan dari kedua matanya...


Setahun berlalu sejak Kou menyelamatkanku dulu, sekarang usiaku sendiri menginjak sembilan tahun. Jika semua Pangeran dan Putri hadir di Kekaisaran, maka kemungkinan besar... Aku akan bertemu kembali dengan Zeki.


Semenjak Raja Ismet mengurungku dulu, aku sama sekali tak berkomunikasi dengannya lagi. Aku tidak tahu, bagaimana keadaannya sekarang.


"Kalian tidak berisitirahat?" ucapku pelan


"Aku tidak lelah." ungkap Izumi tanpa menoleh ke arahku


"Bagaimana denganmu Haru nii-chan?" ungkapku seraya menoleh ke arah Haruki


"Kesehatan kalian akan memburuk jika kurang beristirahat." ucapku menatap kosong kedepan


"Kalau begitu, aku akan tidur sebentar," ungkap Haruki, direbahkannya kepalanya di pundakku


"Akupun, pastikan kau tidak bergerak sedikitpun," sambung Izumi melakukan hal yang sama


"Kau harus menyembunyikan tanda di lehermu, Sa-chan." ucap Haruki pelan


"Aku mengerti nii-chan, sekarang beristirahatlah," balasku, kutepuk-tepuk pelan pipinya menggunakan telapak tanganku


Tanda di leherku? itu tanda yang muncul beberapa hari setelah aku dan Kou melakukan kontrak akhir. Tandanya sendiri berbentuk kepingan salju dengan sebuah akar duri yang melilitnya. Selama ini, aku selalu menggerai rambutku untuk menutupinya...


Besok pagi, kami akan sampai di Kekaisaran. Seminggu sudah, kami menghabiskan waktu di perjalanan... Entah kenapa, semakin dekat kami menuju ke Kekaisaran, semakin itu juga...


Dadaku terasa semakin sesak.

__ADS_1


__________________


Kereta berhenti, kutepuk-tepuk pelan wajah kedua kakakku yang tengah pulas tertidur. Beranjak mereka berdua bangun dari pundakku, terlihat Izumi yang tengah mengusap kedua matanya...


Pintu kereta terbuka, tampak terlihat Ande, laki-laki yang membawakan surat undangan dari Kaisar, telah berdiri di samping pintu kereta yang terbuka dengan posisi tubuh membungkuk ke arah kami.


Melangkah Haruki menuruni kereta, berbalik ia seraya diangkat dan diarahkannya telapak tangan kanannya ke arahku. Kusambut dan kugenggam telapak tangan kakakku itu seraya ikut mengikuti langkahnya menuruni kereta...


Menyusul Izumi turun dari kereta seraya berdiri ia disampingku, kutatap Istana besar yang ada dihadapan kami. Luasnya sendiri mungkin dua atau tiga kali lipat dari Istana kami...


Inikah Kekaisaran? Bagaimana caranya kami menghancurkannya, belum lagi banyak sekali Raja-raja yang menjilat kekuasaan pada Kaisar. Sedikit saja melakukan kesalahan, Kerajaan kami sendirilah yang akan hancur...


Kita akan melakukannya secara perlahan, kita akan mengumpulkan kekuatan secara perlahan.


Kata-kata yang sempat Haruki ucapkan dulu kembali terngiang di telinga, beberapa tahun berlalu dan baru sekarang aku menyadari maksud dari perkataannya...


"Ikuti saya, Pangeran dan Putri," ucap Ande berjalan meninggalkan kami


Ande membawa kami menyusuri Istana berwarna cokelat tersebut, beberapa kali kulihat... banyak sekali ukiran-ukiran yang menempel di pintu-pintu yang ada di Istana.


Seorang laki-laki paruh baya memakai jas layaknya seorang pelayan menghentikan langkah kami,


"Salam, kami telah mempersiapkan tiga kamar untuk Pangeran dan Putri dari Kerajaan Sora," ucap laki-laki tersebut seraya membungkukkan tubuhnya


"Kami bertiga akan tidur di satu kamar, berikan saja dua kamar lainnya pada yang lain," tukas Haruki


"Kami tidak dapat melakukannya, ini perintah langsung dari Kaisar." balasnya


"Kita telah melakukan kesepakatan, bukan?" ucap Haruki, dialihkan pandangannya menatap ke arah Ande


"Hanya kabulkan saja permintaannya. Aku akan langsung mengabarkan Kaisar," ucap Ande menatap ke arah laki-laki tadi


"Baiklah, akan kami persiapkan."


"Ikuti saya, Pangeran dan Putri." sambung laki-laki tadi seraya berjalan mendahului kami.

__ADS_1


__ADS_2