Fake Princess

Fake Princess
Chapter LII


__ADS_3

Kualihkan pandanganku ke arah anak perempuan yang tengah menari di tengah-tengah lapangan. Gerakannya begitu gemulai, seorang Putri memanglah harus seperti itu. Aahh apa yang sebenarnya aku pikirkan sekarang?!


Anak perempuan tadi menghentikan tariannya, berjalan ia kembali ke tempat duduknya sebelumnya...


Kembali dipanggilnya nama anak perempuan oleh laki-laki yang membawa gulungan tadi. Kali ini, giliran tunangan Pangeran ketiga lah yang akan tampil...


Dia terlihat sangat anggun, rambut hitamnya terlihat sampai jatuh menyentuh pinggangnya. Berdiri ia, seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Raja Ismet...


"Apa yang ingin kau tampilkan?"


"Menyanyikan lagu Kerajaanku, Yang Mulia." ucapnya tersenyum


"Baiklah." Tukas Raja kembali menatapnya


Terdengar suara yang merdu keluar dari bibirnya, bahasa yang dilafalkan nya terdengar tidak begitu asing di telingaku. Aku ingat sekarang, ini bahasa Korea. Aku sering mendengar bahasa Korea di soundtrack yang sering muncul di Anime...


Suara nyanyian darinya terhenti, membungkuk kembali ia ke arah Raja Ismet. Melangkah ia kembali ke tempat duduknya, ditatapnya aku yang tengah duduk disampingnya, tersenyum ia ke arahku...


"Putri Takaoka Sachi dari Kerajaan Sora, tunangan dari Pangeran keempat Kerajaan Yadgar, Pangeran Zeki Bechir... Dipersilakan," tukas laki-laki yang membawa gulungan tadi


Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan dengan pelan. Kulangkahkan kakiku menuju ke tengah lapangan, berdiri aku dihadapan Raja Ismet seraya membungkuk aku memberi salam seperti yang dilakukan anak-anak lain sebelumnya...


"Kau banyak sekali membuat kehebohan hari ini?" Tukas Raja Ismet menatapku, membungkuk aku seraya mengucapkan maaf padanya.


"Apa yang ingin kau tampilkan, Putri Takaoka Sachi?" ucapnya lagi kembali menatapku


"Para Putri yang lain telah menunjukan kemampuan mereka dalam menyanyi maupun menari. Jadi..."


"Kau ingin menendang wajah seseorang lagi?" ucap Raja Ismet memotong perkataanku


"Eh? Tidak... tidak... tidak." Ungkapku seraya kuangkat kedua telapak tanganku dan kulambaikan dengan sangat kuat ke arahnya


"Aku akan memberikan hadiah yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya, Raja." ucapku lagi seraya tersenyum aku menatapnya

__ADS_1


"Heh, aku tidak sabar untuk mendapatkannya." balasnya yang ikut tersenyum menatapku


Berbalik aku menatap para Kesatria ku, kualihkan pandangan mataku pada Tsubaru. Tampak terlihat helaan nafas yang berulang kali dikeluarkan oleh Tsubaru, berjalan ia mendekati dengan membawa sebuah busur panah beserta anak panah di genggamannya.


Berdiri Tsubaru di hadapanku, terlihat jelas tatapan khawatir terlukis di kedua ujung matanya....


"Kau yakin akan melakukannya, Putri?" ucapnya menatapku, digenggamnya busur panah dan anak panah tadi dengan kuat


"Bagaimana jika banyak rumor yang tersebar tentangmu? Kau akan berada dalam bahaya, Putri."


"Aku Putri Sachi, kau lah yang membesarkan ku. Aku bisa seperti sekarang, karena Tsu nii-chan yang selalu mendukungku bukan?"


"Aku mengerti. Berjuanglah Putri, jangan mempermalukan aku yang telah mengajarimu habis-habisan selama empat tahun ini." Ucapnya, diangkat dan diarahkannya busur panah tadi ke arahku


"Terima kasih, tidak akan. Aku tidak akan mengecewakan kakakku sendiri." balasku, kuambil busur panah dan anak panah tadi dari tangannya, tersenyum aku menatapnya.


Berbalik Tsubaru dan berjalan ia kembali bergabung bersama para Kesatria lainnya, kuperhatikan para Kesatria ku yang tampak menatapku dengan perasaan cemas. Sesekali mereka mengepalkan tangan mereka ke arahku seakan mengatakan, berjuanglah Putri...


Ku pejamkan mataku, kurasakan setiap hembusan angin yang mengalir di kulitku. Kupertajam pendengaranku ke sekitar, seperti yang telah Tsubaru ajarkan kepadaku sebelumnya...


Kutarik nafasku dalam-dalam, kuhembuskan kembali dengan perlahan. Kubuka mataku perlahan, kutarik busur panah tadi dengan sangat kuat. Ku arahkan busur panah tadi ke atas, lirikan mataku terjatuh pada seekor burung yang tengah terbang...


Belum... belum saatnya. Tunggulah sebentar lagi, Sachi.


Ku lirik kembali burung tadi yang terbang semakin mendekati pandangan mataku. Sekarang...


Kulepaskan anak panah yang aku pegang tadi, meluncur dengan cepat anak panah itu semakin menjauh...


Terjatuh burung berbulu cokelat tadi ke tanah dengan anak panahku yang menancap di tubuhnya, menggelepar burung tersebut beberapa saat hingga berhenti bergerak sama sekali...


"Putri." Teriak seseorang, kualihkan pandangan mataku mencari sumber suara


"Kau benar-benar mengagumkan, Putri..."

__ADS_1


"Kau benar-benar yang terbaik, Putri..."


"Kami mencintaimu, Putri." Teriak para Kesatria ku bergantian


Padahal aku telah meminta mereka untuk bersikap elegan sebelumnya, mereka membuatku malu...


Kuangkat tangan kananku ke udara, kugenggam tangan kananku tadi. Tersenyum aku ke arah mereka yang dibalas teriakan yang lebih riuh dari sebelumnya oleh mereka...


Berjalan aku mendekati burung yang aku panah tadi, berlutut aku dihadapannya seraya kuangkat dan kurapatkan kedua telapak tanganku. Sebuah doa dan permintaan maaf, ku hadapkan untuknya...


Beranjak aku berdiri, kuambil dan kuangkat anak panah yang masih melekat di tubuh burung tersebut. Berjalan aku kembali mendekati Raja Ismet, semua pandangan kembali tertuju padaku...


"Hadiah untukmu, Raja." ucapku, kuangkat anak panah dengan seekor burung yang tertancap di hadapanku


"Kau memberikanku seekor burung?" Tukasnya, terdengar suara menahan tawa dari Pangeran pertama.


"Katakan Raja, kapan terakhir kali kau mendapatkan hadiah seperti ini dari seorang Perempuan?"


"Aku yang pertama kali bukan?" lanjutku seraya tersenyum kecil ke arahnya


"Jangankan seekor burung, aku akan membantumu mendapatkan apapun yang ada di dunia ini. Jauh lebih baik dibandingkan anak-anakmu yang rata-rata tidak berguna." ucapku lagi seraya melirik ke arah Pangeran pertama


"Ka.." ucap Pangeran pertama tertahan


"Heh hahahaha. Lalu katakan, hadiah apa yang kau inginkan sebagai ganti dari burung yang kau tangkap untukku?" ungkapnya tersenyum lebar menatapku


"Izinkan aku memanggilmu, Ayah. Lidahku terasa keluh memanggilmu dengan sebutan Raja." ucapku mengatakannya tanpa ragu


"Kau harus berhati-hati akan sikap angkuhmu itu, Putri Takaoka Sachi." terdengar suara dari arah sampingku, kualihkan pandanganku pada seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain Raja dari Kerajaan Leta, ayahnya Julissa.


"Seorang Putri, haruslah memiliki sifat angkuh terhadap bangsawan lainnya. Jika tidak, maka ia akan hancur." Ucapku membalas perkataannya


"Hahaha, kau benar-benar menarik perhatianku. Baiklah, aku akan mengizinkan mu memanggilku Ayah, Putri Takaoka Sachi." ucap Raja Ismet tersenyum menatapku

__ADS_1


__ADS_2