
Eneas menoleh ke arah kami, di wajahnya nampak jelas terlihat raut penuh kebingungan. Lirikan mataku beralih ke samping, ketika bayangan Haruki yang berdiri di samping Izumi itu menganggukkan kepalanya. Eneas kembali mengarahkan wajahnya menatap gadis yang memeluknya itu, “apa kau baik-baik saja?” tanya Eneas pelan kepadanya.
Tangisan anak perempuan itu semakin kencang terdengar, “aku masih tidak bisa mempercayai ini, kau sungguh-sungguh Eneas, bukan?” tangisnya dengan semakin mempererat pelukannya pada Eneas.
“Benar, aku Eneas. Tapi, siapa kau?”
“Tidak masalah jika kau tidak mengingatku,” jawabnya, dia mundur beberapa langkah dengan melepaskan pelukannya pada Eneas, “aku, hanya tinggal membuatmu kembali padaku. Aniela Zygmunt, Putri terakhir dari Kerajaan Aleksy, memberikan hormat kepada kalian, calon Kakak Ipar,” sambungnya sambil membungkukkan tubuh ke arah kami.
______________.
“Nii-san, jelaskan kepadaku apa yang terjadi di sini?!”
Aku bersandar di kepala ranjang sambil menatap Eneas yang masuk ke dalam kamar dengan Izumi dan Ryuzaki di belakangnya. Haruki masih terdiam, dia menyandarkan diri di kursi sambil membuang pandangannya ke arah jendela yang tirainya telah terbuka, “aku pun sulit untuk menjelaskannya, karena ini di luar dari apa yang aku duga,” gumam Haruki tanpa sedikit pun berpaling.
“Kemungkinan, dia memiliki ingatan di kehidupan lamanya,” sahut Ryuzaki yang juga telah duduk di kursi yang ada di dekat Haruki.
Aku sedikit menggerakkan kedua kakiku ke samping saat Izumi juga bergerak duduk di ranjang yang sama denganku, “apa maksudmu, Ryu?” tanya Izumi sehingga Ryuzaki mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Aku sudah menceritakan, jika kehidupan ini adalah kehidupan kita yang kesekian, bukan? Gadis itu, adalah Isterimu di kehidupan yang lama, Eneas,” tukas Ryuzaki yang membuat kedua mata Eneas sedikit membelalak.
"Isteri?" Alis Eneas berkerut setelah mengatakannya.
“Aku dulu, pernah mendengar ketika Ayah mendapatkan surat dari kalian. Di surat itu bertuliskan, kalian bersekutu dengan Kerajaan Aleksy. Beberapa tahun setelahnya, saat sekutu Kaisar yang lamarannya ditolak oleh Raja, membocorkan perihal Putri yang tak sekali pun mengikuti upacara pertunangan. Saat itulah, kau, Eneas … Meminta Ayah untuk melamarkan Putri tersebut untukmu.”
“Aku?” tukas Eneas dengan menunjuk dirinya sendiri.
Ryuzaki menganggukkan kepalanya, “kalian menikah, tepat dua tahun sebelum bencana itu datang.”
__ADS_1
“Bencana?” Kali ini Izumi ikut menimpali pembicaraan mereka.
“Yang aku maksudkan, saat di mana … Kita berperang habis-habisan melawan Kaisar.”
“Lalu, berapa usia Putri saat itu?” Aku ikut bertanya dengan melirik ke arah Ryuzaki.
“Mereka menikah saat usia Putri tersebut menginjak tujuh belas tahun, sedangkan Eneas sendiri berusia sembilan belas-”
“Berarti, semuanya akan terjadi sepuluh tahun kemudian?” timpal Izumi memotong perkataan Ryuzaki.
“Itu belum pasti, karena apa yang kita lakukan sekarang saja adalah mempersingkat waktu. Jika kita mengandalkan semua informasi yang didapatkan dari Ryu … Kita dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat,” sahut Haruki yang membuat kami semua yang berada di dalam kamar terdiam.
“Kenapa? Apa nyali kalian sekarang berubah ciut?” tukas Haruki lagi, semuanya masih terdiam tak menjawab perkataan yang ia ucapkan termasuk aku.
Aku mengangkat kembali kepalaku yang sempat tertunduk ketika suara ketukan pintu diiringi suara laki-laki terdengar. Aku mengangkat kakiku ke samping ranjang, tubuhku membungkuk memasang sepatu sebelum beranjak berdiri melangkahkan kaki mendekati pintu dan membukanya. “Apa kalian telah memberitahukan kepada Pangeran jika aku akan menyembuhkan lukanya?” tanyaku sambil melirik ke arah seorang laki-laki yang membungkukkan tubuhnya di samping pintu.
Aku ikut berbelok, melangkah mengikutinya dari belakang, “lama tidak melihatmu, kak Sachi,” langkahku terhenti saat suara perempuan yang mengatakannya mengetuk telingaku.
Aku menoleh ke asal suara itu terdengar, pandangan mataku terjatuh kepada Putri Aniela yang tengah melangkahkan kakinya mendekat lalu berhenti kembali dengan membungkukkan tubuhnya ke arahku. “Dari sini, biarkan aku saja yang mengantarnya,” tukasnya sembari melemparkan pandangan matanya ke arah laki-laki yang ada di dekatku itu.
“Lewat sini, kakak!” ungkapnya, aku berjalan melewati tangannya ke arah yang ia tunjuk.
“Apa kau memerlukan sesuatu sampai mencegat jalanku?” tanyaku sambil melirik ke arahnya yang telah berjalan menyusul di samping.
“Terima kasih, karena berkatmu aku bisa mengenal Eneas.”
“Aku bahkan tidak melakukan apa pun,” timpalku seraya kembali menatap lurus ke depan.
__ADS_1
“Kau tahu, jika semuanya tidak berakhir baik saat kami berperang melawan Kaisar. Kenapa, kau tidak memperingatkan keluargamu tentang ini?”
“Asal aku, dapat bersamanya kembali … Maka aku, akan melakukan apa pun,” aku kembali melirik ke arahnya saat jawaban darinya itu terdengar.
“Bagaimana hubungan kakak dengan kak Zeki sekarang?”
“Kau juga mengenal Zeki?” Aku balas bertanya kepadanya.
“Eneas yang menceritakan perihal tentangnya kepadaku di kehidupan lama. Apa hubungan kalian sekarang baik-baik saja?”
“Kami baik-baik saja. Apa kau mengetahui sesuatu mengenai hubungan kami?”
“Melihat kalian dengan mudahnya masuk ke sini, itu berarti salah satu dari kalian sama sepertiku. Apa kau, meragukan pasanganmu sendiri, kakak?”
“Apa kakak tahu, apa yang terjadi kepadaku saat kabar mengenai kematian Eneas sampai kepadaku?”
Dia tersenyum saat aku menoleh ke arahnya, “aku membunuh diriku sendiri tepat setelah aku mendapatkan kabar mengenai kematiannya. Aku lebih memilih mati, dibanding aku harus menyembah seseorang yang telah membunuh suamiku sendiri. Aku tidak ingin, menghirup udara yang disebabkan dari pengorbanan suamiku sendiri.”
"Terdengar seperti sesuatu yang memedulikan diri sendiri, namun itu sebagai bentuk pengabdian kami sebagai seorang Isteri-"
“Tapi, apakah aku terlihat mundur sekarang? Saat aku tersadar, jika waktuku kembali terulang … Aku sempat berniat untuk tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, aku masih sangat mencintainya, aku ingin menunggunya pulang ketika dia melakukan perjalanan yang jauh seperti dulu. Dan aku sadar, kehidupan tragis di antara kami berdua, belum tentu akan terjadi di kehidupan baruku … Karena itu, aku memulai untuk mengubah diri sendiri agar masa depanku ikut berubah," sambungnya dengan kepala tertunduk.
“Kau benar, entah kenapa aku mengerti dengan baik apa yang kau maksudkan,” tukasku dengan kembali mengarahkan pandangan ke depan.
“Terima kasih,” ucapku kembali menatapnya, keningnya mengernyit membalas tatapanku, “mendengar hal itu darimu. Entah kenapa membuatku merasa tenang. Aniela, bukan? Mari kita berjuang bersama-sama,” sambungku sambil mengangkat telapak tangan ke arahnya.
“Aku tahu, jika Eneas sangatlah mengagumimu. Namun, aku tidak akan kalah darimu, kakak,” tukasnya yang ikut membalas jabatan tanganku padanya.
__ADS_1
“Berjuanglah, aku menitipkan adikku itu kepadamu,” ungkapku sembari tersenyum membalas tatapannya.